Halaman

Sabtu, 05 Januari 2013

Sagitarius dan Cancer dilanda kejenuhan

Teruntuk Sagitarius....

Pagi itu cuaca agak berkabut, jalan-jalan pun agak sepi, hanya terlihat segelintir orang yang hendak berangkat menunaikan ibadah. Diantara keheningan aku dan kamu bertengkar, entah karena apa aku pun tak mengerti. Mungkin memang benar kejenuhan itu ada saatnya, saat ia datang melanda hampir pasti selalu diakhiri dengan pertengkaran yg tiba-tiba saja selalu hadir menyertai.
Dan pagi yang hening itu kamu memaksakan diri untuk berjalan pergi meninggalkan aku, walaupun aku sudah memaksa untuk menemani, akan tetapi kamu bersikeras untuk berjalan sendiri. Dan aku pun terpaksa meluluhkan keinginan itu dengan berat hati, dengan langkah gontai aku kembali. Ingin rasanya melompat dari tempat itu, namun aku rasa aku berdosa bila melakukan itu.
Menangislah aku sepanjang jalan pulang walau tak meraung-raung seperti anak kecil yang tak mendapatkan apa yang diinginkannya. Aku masih menoleh melihatmu berjalan sampai ujung jalan namun dirimu terus saja berlalu meninggalkan pagi itu dengan penuh amarah.
Sungguh menyesal aku meluluskan permintaanmu yang selalu saja kamu lontarkan saat-saat kejenuhan datang melanda. Ketahuilah selama ini tak pernah sekalipun terbesit keinginan dalam hatiku untuk melontarkan kata-kata itu, karena aku orang yang tak pernah ingin mengatakannya terlebih setelah selama ini kita bersama, walaupun perjalinan kita baru intens belakangan ini semenjak kau hadir di kota ini.
Semenjak itu hidupku berubah, aku bukanlah Cancer yang dulu lagi, kini capitku tak tajam seperti dulu aku hanya menyelam dalam luasnya lautan kehidupan bersamamu, walaupun sesekali waktu aku pergi naik ke permukaan menuju tepi pantai hanya untuk bermain dalam gundukan pasir putih yang mengingatkanku saat dahulu saat masih dalam mencari dimana lautan itu berada. Pasir-pasir yang selalu menyesatkanku dengan fatamorgananya karena aku terlahir jauh dari tepi lautan. Ketika aku menyeruak keluar dari pasir yang menyelimuti tubuhku aku merasakan desau angin, merasakan semilirnya menerpa wajahku yang berminyak ini. Aku mencari-cari dimanakah deru ombak itu. Suaranya selalu menggoda setiap saat mendengarnya, mendengar gemuruhnya saat menabrak karang, terlebih saat buihnya menerpa pasir hingga menjadi basah oleh air kehidupan yang asin ini.
Dan kau pun hadir melesakkan busur panahmu yang indah berkilau bagai sinar surya yang selalu menghangatkan tubuh ini dikala dingin. Kau selalu mengajarkanku beribu-ribu kebaikan, kebenaran dan hal lainnya yang selama ini tak pernah kudapatkan dari siapapun. Walau terkadang dalam pelaksanaannya kita masih sering berdebat pepesan kosong, berargumentasi hingga tertawa lepas karena kita pun sadar akan bodohnya kita berdua.
Aku tahu semua itu karena sebuah rasa yang bernama Cinta. Ia yang hadir, tumbuh dan berkembang diantara kita selama ini selalu penuh dengan warna. Indah memang, bagai pelangi yang menghiasi langit di senja hari setelah hujan reda. Kini sang Cinta pun telah jenuh, butuh penyegaran kembali agar kelak mampu membakar dinginnya suasana yang membekukan hati.
Duhai Sagitariusku aku tahu kau pun merasakan apa yang aku rasakan, menyesal memang menyesal, namun semua sudah terjadi, kau telah cabut anak panah itu dari diriku. Aku hanya meringis menahan sakit, sakit yang memang harus aku rasakan, agar aku tahu bagaimana rasanya bila anak panah yang telah menancap dalam selama 3 tahun lebih itu dicabut dari tempatnya semula.
Kini kau pun tenggelam dalam diam seribu bahasa, tak mau bicara lagi denganku, mungkin memang sudah tak perlu lagi dibicarakan, sudah basi katamu. Biarlah waktu yang menjawab semua itu, bila hari ini kau tak lagi bicara denganku, mungkin esok, lusa atau suatu saat nanti.
Satu hal yang perlu kau ketahui dengan pasti aku takkan pernah berhenti mencintaimu sepanjang hidupku, kelak aku akan datang menemuimu untuk menyerahkan diriku dan hatiku padamu, entah butuh waktu berapa lama aku tak perduli, walaupun butuh waktu sepanjang hidupku. aku tak meminta apapun dari dirimu, aku tak meminta kamu melakukan apa yang tak kamu kehendaki, aku hanya ingin mencintaimu apa adanya, dirimu seutuhnya tanpa perlu ada yang berubah oleh sebuah kehendak dariku.
kelak.....jika aku akan datang menemuimu, kuharap anak panahmu masih berkilau bagai saat itu....

Jogja, January, 06, 2013
aku yang tak pernah mencapitmu,

Cancer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar