"The apple tree that grew for you and me,
I watched the apples falling one by one.
And I recall the moment of them all,
The day I kissed your cheek and you were mine.
I watched the apples falling one by one.
And I recall the moment of them all,
The day I kissed your cheek and you were mine.
Don't ask me why, but time has passed us by,
Some one else moved in from far away."
Some one else moved in from far away."
First of May - The BeeGees
Malam ini aku begitu bersyukur padamu Tuhan walaupun aku dalam keadaan yg tidak begitu sehat, namun aku masih dapat merasakan betapa dingin malam ini tiada lagi aku rasa, rasa sakit yg mendera sebelumnya terasa sirna. Ia hilang sebentar untuk membiarkanku menikmati malam bersama denganmu. Kamu yg selama ini selalu dalam hatiku mengajakku keluar mengunjungi sebuah acara sastra. Ya, sastra. Sebuah kata yg langsung membawaku ke masa silam, dimana kata itu menyimpan sebuah kisah termanis dalam hidupku. Kisah antara aku dan kamu saat beberapa tahun silam yg selalu ingin kuulang kembali saat-saat itu.
Ketika tiba di lokasi ternyata acara belum mulai. Para penggiatnya sedang memasang lampu dan menyiapkan segala keperluan untuk pesta sastra malam ini. Aku pun memutuskan untuk mengajaknya berjalan keluar dari areal itu menghampiri kedai siomay yg ada di ujung jalan.
Acara baru saja dimulai tak lama setelah kami datang setelah berjalan
dari kedai siomay tadi, kami pun mencari tempat duduk, nampaknya masih
sepi malam itu. Malam ini Sastra berpesta bersama aku dan kamu, tak luput juga para penggiatnya yg beragam. Ada yg datang dari berbagai kota di pulau ini. Semua berbagi kemesraan dengan malam di sebuah amphi teater kecil dengan tempat duduk yg melingkar mengelilinginya setengah lingkaran.
Udara yg dingin meliuk-liuk seiring dengan alunan musik yg mengiringi puisi sang penyair, segelas kopi panas pun mulai kutuang ke dalam gelas plastik dari sebuah gerobak angkringan setelah sebelumnya kami sedikit menghangatkan tubuh dengan teh jahe. Arena teater itu terletak di ruang terbuka. Tak ada atap yg menaungi sehingga nampak jelas bintang-bintang bertaburan begitu indahnya di atas cakrawala. Dibelakangnya nampak berjenjang rumah penduduk menjadi sebuah background panggung yg sederhana dengan sebuah tembok tua bekas bangunan Taman Sari di masa lampau yg begitu megah seakan menunjukkan besarnya masa lalu sebuah kerajaan yg tak jauh dari tempat kami berada.
Tak lama kemudian sang pembawa acara pun menjelaskan sedikit sejarah dari tempat ini sebelum memulai acara. Para pengisi acara pun mulai datang dan siap-siap maju ke tengah arena begitu namanya dipanggil oleh si pembawa acara. Acara diawali dengan membedah buku yg bertemakan Kiri dengan tiga orang pembedah yg masing-masing sudah siap dengan buku ditangan. Oh ya, ada 10 buku yg akan dibedah malam ini. Mulai dari Novel terjemahan, kumpulan Cerpen dan Puisi hingga buku ttg perjalanan seorang penulis yg mengunjungi negara-negara di Eropa.
Kami pun berjumpa dengan beberapa sahabat yg datang malam ini yg ikut larut dalam obrolan hangat seputar sastra. Tampak beberapa pengunjung terlihat bercengkrama dengan sesama pengunjung yg entah sudah kenal atau baru berkenalan pada saat itu, atau baru bertemu kembali di acara tersebut. Semua menjadikan hangat suasana malam itu. Kami pun demikian.
Waktu pun semakin menjemput malam, seakan memberi isyarat akan kehangatan yg kurasakan sebentar lagi akan berakhir dengan mengantarkanmu pulang. Ya, malam itu ternyata masih ada sastra diantara kita berdua entah kamu merasakan atau tidak, aku hanya ingin menuliskannya disini bahwa aku masih mengingat masa-masa indah itu. Masa dimana jarak kita masih berjauhan terpisah oleh pulau besar negeri ini.
Tak lama sebelum acara selesai pun kami memutuskan untuk segera pulang karena sudah larut malam. Aku pun mengantarkanmu dengan seribu bahasa dalam kalbuku, bahasa yg entah kau mengerti entah tidak. Seperti biasa aku pun masih menatapmu sampai engkau benar-benar hilang dari pandanganku dan masuk ke rumah itu meninggalkan kusendiri melangkah pulang berteman dinginnya angin malam. Dan sastra pun mulai menari di dalam hatiku ini mengiringi jalan pulang tuk kembali mengenang rinduku padamu.
Selamat malam sastra, ijinkanlah aku bermimpi malam ini dengannya.......sampaikan salamku untuk Berniewati yg selalu memelukmu dengan hangat dan tak pernah lelah tuk tersenyum kepadamu.
:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar