Sore itu berselimut hujan, dingin dan basah sudah sepatuku, sepatu usang yg menemaniku sejak lama dan kini sengaja aku bawa ke kota ini. ya, sore itu selepas berkesenian bersama teman-teman yg akan mengadakan pentas kolaborasi budaya bersama sebuah sekolah negeri di kota ini aku pun memutuskan untuk mampir sejenak ke tempat dirimu.
Setelah menunggu hujan agak reda di depan sekolah yg sudah sepi itu, kupacu sepeda motorku lambat-lambat karena jalan licin dan karet hitam bundar bagian belakang roda ini sudah mulai menipis, daya cengkeramnya pun otomatis berkurang. Dengan berkerudung jas hujan aku tiba ditempatmu. Rupanya kamu sedang istirahat, mungkin melepas lelah setelah belajar seharian penuh. Aku tahu dirimu dalam hal itu. Aku pun duduk di tempat yg biasa aku tempati bilamana sedang bertandang ke tempatmu. Tak berapa lama kau keluar sambil membawa handuk dipundakmu hanya berdiri menatapku penuh curiga, sambil bertanya "Mau apa kamu kemari?"
Nada dalam suara kamu masih saja mengandung kebencian yg mendalam dan aku tahu itu. Entah kesalahan apa yg telah kuperbuat hingga membuat dirimu begitu membenci aku. Hingga detik ini pun aku masih sayang padamu. Tak pernah sedikit pun berkurang rasa cintaku padamu walaupun kamu perlakukan aku seperti ini.
Tahukah kamu Aku menangis saat itu, engkau yg dulu kukenal kini bagai orang asing bagiku. Tak lagi kurasakan keramahanmu, senyumanmu. Menangis mungkin bagi semua orang merupakan hal yg cengeng, tapi sungguh aku tak secengeng itu, hanya saja dalam keadaan basah kuyup seperti itu kau pun enggan tuk menawarkan handuk hanya tuk mengeringkan air di wajahku. Bahkan ketika aku ingin beranjak pulang pun aku meminta izin padamu tuk menggunakan tempatmu agar aku dapat bercengkrama dengan Tuhan barang sejenak. Kau pun bilang "Kamarku berantakan!" dengan nada ketus, aku hanya butuh jawaban boleh atau tidak, lagi kau menjawab dengan kalimat yg sama hingga ketiga kalinya kau menyuruhku mencari Masjid. Baik, aku mengerti akan hal itu maka aku akan pulang. Pulang dalam keadaan hati menangis. Aku benci pertengkaran itu sebabnya kenapa aku lebih banyak diam daripada menambah kisruh suasana. Aku memilih diam karena aku memiliki penyakit yg kuderita sejak lama bilamana aku pemarah mungkin aku takkan dapat bertahan lebih lama lagi. ya, sesuatu telah menggerogoti bagian dalam tubuhku. jujur aku tak sanggup menahan semua beban hidup ini. Aku hanya manusia biasa, yang kadang memang melakukan kesalahan dan aku tahu kesalahan itu hanya bagian dari pembelajaranku tentang artinya hidup. Aku belajar dari kesalahan itu dan kini aku ingin memperbaiki diriku agar kelak aku tak ingin membuatmu kecewa, marah , sedih hingga membuatmu menangis.
Mungkin Tuhan memberikan ini sebagai cobaan hidupku, baiklah aku akan terus berjuang sampai aku tak mampu lagi.
Ingat itu baik-baik, Tuhan...
Aku akan terus berjuang aku tak perduli butuh waktu berapa lama 'tuk meyakinkan dirinya...
Aku tetap akan mencoba, Tuhan....
Sampai kapan pun.....
Ingat itu baik-baik
Aku sayang sama kamu, tapi kesalahpahaman kita dan ketidaktahuan kamu terhadap yang kurasakan; membuat segalanya abu-abu.
Yang kita butuhkan adalah saling merindukan, bukan rindu yang dirasakan sendirian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar