Halaman

Senin, 20 Januari 2014

Beragama itu perlu akal sehat

“Through humility, soul searching, and prayerful contemplation we have gained a new understanding of certain dogmas. The church no longer believes in a literal hell where people suffer. This doctrine is incompatible with the infinite love of God. God is not a judge but a friend and a lover of humanity. God seeks not to condemn but only to embrace. Like the fable of Adam and Eve, we see hell as a literary device. Hell is merely a metaphor for the isolated soul, which like all souls ultimately will be united in love with God.”
-Pope Francis-

Membaca kalimat di atas saya jadi terperangah dengan pemikiran pemimpin tertinggi gereja Katolik Roma ini, ia seorang yang sangat humanis sehingga pemikirannya pun selalu berlandaskan pada kemanusiaan sebagai acuan untuk mencari kedamaian dalam hidup beragama.
Beliau berkata bahwa melalui kerendahan hati, pencarian jiwa, dan kontemplasi doa kita telah mendapatkan pemahaman baru tentang dogma-dogma tertentu. Pemahaman tentang gagasan atau konsep ketuhanan yang selama ini kita pelajari melalui berbagai dogma agama yang kita yakini sejak kita mengenal apa itu arti beragama. Menurutnya Tuhan bukanlah hakim tapi seorang sahabat dan pecinta kemanusiaan dan neraka hanyalah sebuah metafor bagi jiwa yang terisolasi.
Seringkali sebagian orang mengkontruksi pikirannya bahwa Tuhan itu sesuatu yang sangat suci hingga kita pun tak bisa sembarangan meraihnya bahkan untuk bermain-main atau bercengkrama denganNya layaknnya seorang sahabat. Ia sesuatu yang sangat jauh untuk kita raih, karena membutuhkan pengetahuan khusus untuk dapat mengenalnya lebih dalam. 
Pada jaman dahulu kita pun pernah mendengar kisah tentang Syekh Siti Jenar yang dianggap sesat oleh para ulama karena apa yang diajarkan Syekh Siti Jenar pada waktu itu yaitu pemahaman tentang ilmu tasawuf.  Ilmu yang baru bisa dipahami ratusan tahun setelah wafatnya Syekh Siti Jenar. Ajaran yang terkenal dengan idiom Manunggaling Kawula Gusti. Arti dari Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan bercampurnya Tuhan dengan makhluk-Nya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah bersatu dengan Tuhannya. Para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar kepada masyarakat awam di mana pada masa itu, ajaran Islam yang harus disampaikan seharusnya masih pada tingkatan syariat, sedangkan ajaran Syekh Siti Jenar telah jauh memasuki tahap hakekat, bahkan makrifat kepada Allah. Oleh karena itu, ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar dikatakan sesat. Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus memperdebatkan masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apa pun, setiap pemeluknya sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa, hanya saja masing-masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing-masing pemeluk agama tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agama yang dianutnya adalah yang paling benar. Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas.
Menurut kisah Syekh Siti Jenar di atas kita meyakini bahwa Tuhan itu ada dalam setiap diri manusia itu sendiri. Bukankah manusia memiliki sifat-sifat ketuhanan juga? 
Jika memang demikian lalu mengapa dalam beragama seringkali kita menyaksikan pertentangan-pertentangan yang terjadi antara umat beragama yang satu dengan yang lainnya. Mulai dari perang salib yang terjadi pada Abad ke-11 sampai dengan Abad ke-13, dimulai dengan gerakan umat Kristen yang memerangi umat Muslim di Palestina dengan tujuan untuk merebut tanah suci dari kekuasaan kaum Muslim lalu mendirikan gereja dan membangun kerajaan Latin di Timur. Perang terus berlanjut hingga Abad ke-16 dan berakhir ketika iklim politik dan agama di Eropa berubah secara signifikan selama masa Renaissance.
Akhir-akhir ini pun kita masih sering mendengar pertikaian antar umat beragama khususnya di negeri tercinta tempat saya dilahirkan ini. Orang dapat sekali berteriak-teriak tentang kebesaran Tuhan dan mengkafirkan siapa saja yang bertentangan dengan mereka di jalan-jalan dengan memakai atribut keagamaan tertentu. Sudah sampai di titik itukah toleransi beragama di negeri ini?
Dalam Hukum Konstitusi negara ini seharusnya kebebasan beragama dijalankan berdasarkan apa yang telah diatur oleh Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 28E ayat (1) yang berbunyi sebagai berikut :

“Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.”

Pasal 28E ayat (2)  UUD 1945 juga menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan. Selain itu dalam Pasal 28I ayat (1) UUD 1945 juga diakui bahwa hak untuk beragama merupakan hak asasi manusia. Selanjutnya Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 juga menyatakan bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama.

Bukankah sudah jelas bahwa apa yang kita yakini dan kita percayai dijamin secara pasti dan tertulis oleh Undang-Undang?
Kembali ke topik awal sepertinya kita memang harus memaknai kembali apa yang kita yakini tentang keyakinan kita sehingga kita tak mudah diprovokasi oleh sebagian orang bahwa apa yang orang lain yakini itu kita anggap sebagai perbuatan yang menyimpang dan menyesatkan. Seperti apa yang dikatakan oleh Paus Francis di atas bahwa kita harus memahami Adam dan Hawa seperti dongeng yang diceritakan sejak kita kecil, kita melihat neraka sebagai perangkat sastra. Dan jika Neraka hanyalah sebuah metafora untuk jiwa terisolasi, di mana semua jiwa seperti pada akhirnya akan bersatu kembali dalam cinta dan kasih dengan Tuhan. Dalam pidatonya yang menggemparkan dunia, Paus Francis menyatakan :

“All religions are true, because they are true in the hearts of all those who believe in them. What other kind of truth is there? In the past, the church has been harsh on those it deemed morally wrong or sinful. Today, we no longer judge. Like a loving father, we never condemn our children. Our church is big enough for heterosexuals and homosexuals, for the pro-life and the pro-choice! For conservatives and liberals, even communists are welcome and have joined us. We all love and worship the same God.”

Apa yang dikatakannya merupakan kebenaran apa yang diyakini olehnya. Ia melakukan sebuah perubahan evolusioner dalam memandang agama. Waktunya telah tiba untuk meninggalkan semua intoleransi. Kita harus menyadari bahwa kebenaran agama berkembang dan perubahan. Kebenaran tidak mutlak atau diatur dalam batu. Mungkin bagi sebagian orang yang memiliki kepala batu perlu memahami apa yang dikatakan Paus Francis kepada kaum Katolik yang masih memegang teguh tradisi lamanya.

“God is changing and evolving as we are, For God lives in us and in our hearts. When we spread love and kindness in the world, we touch our own divinity and recognize it. The Bible is a beautiful holy book, but like all great and ancient works, some passages are outdated. Some even call for intolerance or judgement. The time has come to see these verses as later interpolations, contrary to the message of love and truth, which otherwise radiates through scripture. In accordance with our new understanding, we will begin to ordain women as cardinals, bishops and priests. In the future, it is my hope that we will have a woman pope one day. Let no door be closed to women that is open to men!”
 
Dan akhir kata kita harus kembali kepada diri kita masing-masing bukan? kembali menafsirkan apa arti kita sebagai manusia seutuhnya manusia, bukan sebagai manusia yang hanya separuh manusia dalam diri kita yaitu memiliki sebagian sifat hewani dalam otak dan perilaku kita.

"You don't have to believe in God to go to heaven" - Pope Francis


2 komentar:

  1. Beragama perlu akal sehat?

    Tulisan yang sangat menarik dan menyentil pemahaman umum. Sekali lagi pemahaman saya rubuh membaca tulisan ini. Rubuhnya meninggalkan tanya kembali.

    Kata orang-orang meterialistis hal-hal yang tidak material adalah tidak masuk akal. Tuhan yang kita dengar cerita dan kita baca dalam kitab suci memang belum pernah saya rasakan keberadaanya secara material. Bagaimana saya bisa menggunakan akal pikir jika saya sendiri tidak mampu untuk menginderanya. Tetapi menurut saya, bukan berarti keberadaanya tidak menunjukkan kehadirannya.

    Memaknai Tuhan menurut saya adalah hal diluar rasio dan akal karena kadang tanpa suatu alasan masuk akal saya harus tunduk karenanya. Tanya yang sering muncul harus tunduk karena tak ada jawabnya.

    Tuhan bagi saya adalah diluar pikir manusia (transenden).

    Nah bagaimana dengan beragama? Menurut saya beragama bisa diartikan mengikuti tafsir atas perintah Tuhan. Banyak perdebatan mengenai tafsir. Beragama sendiri bisa saya pahami bagaimana merasionalkan ajaran Tuhan sehingga kita bisa menuju kepada-Nya.

    Nah pertanyaan terakhir, mampukah manusia beragama yang mengunakan akal pikirnya untuk menuju Tuhan yang menurut saya tidak masuk akal (transenden).

    Jika konteksnya kita beragama untuk Tuhan sang pencipta kita.

    BalasHapus
  2. Terimakasih sudah mau komentar di tulisan saya mas didin yg baik semoga Tuhan selalu menyertai dan melindungi setiap jiwa-jiwa yg tak pernah letih mencari dan memaknainya.
    Memang agak sulit berbicara mengenai suatu hal yg transenden (baca: Tuhan), karena hal itu merupakan hal yg bersifat religiusitas. Setiap manusia memiliki penafsirannya masing-masing terhadap apa yg diyakininya. Ibarat angin, Ia merupakan sesuatu yg bisa kita rasakan ada namun tak dapat kita buktikan secara faktual.
    Menjawab pertanyaan anda tentang "bagaimana dengan beragama? mampukah manusia beragama yg menggunakan akal pikirnya untuk menuju Tuhan yg menurut anda tidak masuk akal (transenden)?" yang anda sendiri sudah menjawabnya menurut anda. Memang di satu sisi saya setuju dengan apa yang anda katakan, namun di sisi lain saya menganggap agama itu merupakan suatu produk budaya, itu pun menurut buku yg telah saya baca.
    Sejarah kebudayaan secara empiris memperlihatkan bahwa manusia itu suka atau tidak suka juga menjalani proses yg metafisis. Proses realisasi diri manusia untuk survive secara kolektif itu pada gilirannya akan memaksa manusia mencari kejelasan tentang apa yg akan datang sesudah hidup ini.
    Mudah dipahami , jika setelah itu manusia membangun sistem religi dan mengungkapkan diri melalui kesenian dalam rangka idealisasi dirinya sebagai mahluk yg mampu mempunyai jangkauan horisontal maupun vertikal.
    Religi adalah realisasi dan rangkuman dari fantasi, imajinasi dan kontemplasi transendental dalam usaha manusia untuk mencari kejelasan tentang apa yg akan datang sesudah hidup ini. Bukankah kita tak dapat mengetahui atau menjelaskan apa yg akan terjadi pada diri kita dalam waktu satu jam, dua jam ke depan, bukan? Kita hanya dapat mereka-reka rencana apa yg kira-kira akan kita lakukan dan berusaha mewujudkannya sebagai secara konkrit, namun adakalanya tak sesuai dengan apa yg kita rasakan dan kita alami.
    Untuk menjawab pertanyan berikutnya mengenai mampu atau tidaknya manusia beragama yg menggunakan akal pikirnya untuk menuju Tuhan, Jawabnya mampu secara empiris namun tidak bisa dibuktikan melalui data empiris. Hanya diri kita sendiri yg mampu menjawabnya, bukan?
    Mungkin saya salah dalam menjawabnya, mohon dikoreksi ya :)
    Salam hangat...........

    BalasHapus