Jika Sayidina Ali pernah berucap "Sesuatu yang baik tidak pernah cukup baik untuk segala waktu dan segala tempat" mungkin apa yang dikatakannya ada benarnya juga, bahwa apapun yang kita pandang baik belum tentu baik bagi orang lain. Seperti halnya dalam sebuah hubungan antar pertemanan, pasangan bahkan jauh lebih kompleks daripada itu.
Akhir-akhir ini saya mengalaminya apa yang telah saya lakukan dan saya pandang baik di mata saya ternyata tidak baik di mata orang itu. Padahal saya memang tidak ada niat untuk berbuat hal yang tidak baik kepadanya, mungkin hanya saja dia yang tidak mengerti apa maksudnya.
Kesalahan dalam berbahasa pun juga dapat mengakibatkan hal yang demikian terjadi. Bahasa yang satir atau menyindir secara halus mungkin tak akan dirasakan oleh pihak yang disindir. Memang butuh kepekaan tersendiri dalam memahami sebuah sindiran melalui bahasa satir. Seperti kalimat yang selalu membuat saya ingat akan kampung halaman yaitu "Peka dan Peko itu beda tipis".
Bagi orang kampung saya kebanyakan mengatakan suatu hal kepada seseorang dengan menyindir atau mengece istilah di sini adalah dengan mencampurkan dengan hal-hal yang lucu sehingga pihak yang sedang disindir itu tidak sadar bahwa ia sedang disindir. Maklum saya memang besar di daerah betawi yang budayanya penuh dengan lawakan bahkan hal tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ini berbeda jauh dengan kehidupan di sini yang mana penuh tata-krama, sopan-santun, ewuh-pakewuh atau apalah namanya itu bisa membuat seseorang seolah-olah bersikap manis di depan kita padahal di belakang ia tak segan mengumpat. Hal ini tentu berbeda lagi dengan budaya hidup di seberang pulau sana yang terbiasa menggunakan pantun sebagai alat untuk menyindir seseorang ataupun kaum tertentu bahkan ada yang sambil diiringi oleh musik sebagai pelengkap. Tetapi saya lebih menyukai apa yang terbiasa menjadi bagian dari hidup saya dengan mengatakan sesuatu dengan secara langsung. Memang kadang terlalu jujur itu menyakitkan bagi sebagian orang, tapi setidaknya berusaha untuk jujur itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
Yogyakarta, awal 2014 yang sedang dilanda hujan sambil menikmati secangkir kopi Gayo
Setubuh bang!
BalasHapuskatakan meski itu pahit.
iya memang kejujuran itu rasa pahit yg paling pahit di muka bumi ini :) terimakasih udah komentar di tempat sampah ini heheheehe
BalasHapus