Halaman

Senin, 30 Mei 2011

Mengolah Pengalaman Sebuah Proses Dalam Menulis Puisi

Oleh Soni Farid Maulana

Dalam tubuhku ini
kunanti hal
yang serba mungkin

MENELUSURI proses kreatif penulisan puisi sama asyiknya dengan menulis puisi itu sendiri.

Setiap penyair jika ditanya soal ini, yakni ditanya soal apa dan bagaimana menulis puisi,

maka ia akan menjawab pertanyaan tersebut dengan cara pandangnya masing-masing, yang khas,

yang satu sama lainnya berbeda. Namun demikian secara esensial jawaban dari pertanyaan

tersebut; pasti mengarah pada inti yang sama, bahwa menulis puisi pada dasarnya merupakan

medan ekspresi dari bayang-bayang pengalaman. Dan apa yang dimaksud dengan bayang-bayang

pengalaman atau mengolah pengalaman sebagai sumber penciptaan puisi itu. meski secara

ringkas sudah diuraikan pada halaman sebelumnya.

Uraian di bawah ini, merupakan satu sisi dari sekian banyak model penulisan puisi, yang

secara teknis bisa dipelajari oleh siapa pun yang berminat menekuni dunia tulis-menulis

puisi. Sedangkan mengenai isi dan kualitas puisi, sekali lagi, semua itu sangat bergantung

kepada intensitas penghayatan sang penyair terhadap berbagai pengalaman hidup yang menarik

perhatiannya. Di samping itu, tentu saja, sangat bergantung pula pada seberapa jauh sang

penyair menguasai bahasa dan kosa kata yang dipakainya sebagai alat untuk berekspresi

maupun berkomunikasi dari apa yang ditulisnya itu.

Berkaitan dengan hal tersebut, sekalipun teknis penulisan puisi bisa dipelajari, nyatanya

menulis puisi tidak gampang. Apa sebab? Pertama si penyair harus peka terhadap keadaan

jiwanya dan perasaannya, termasuk peka terhadap seluruh pengalaman hidupnya, baik yang

bersifat fisik maupun metafisik. Yang dimaksud peka dengan pengalaman yang bersifat fisik

itu, misalnya si fulan dengan tangannya sendiri memangkas setangkai bunga mawar, atau

dengan matanya sendiri melihat secara nyata tukang becak ditabrak mobil, atau ia ditinggal

pergi oleh kekasih tercinta, yang dibawa lari oleh orang lain. Sedangkan yang dimaksud

dengan pengalaman metafisik adalah sebuah pengalaman nonragawi, seperti rindu pada kekasih

yang jauh, berasyik-masyuk dengan diri-Nya, mengalami dicabut maut dalam mimpi, dan

sebagainya.

Untuk itu, mengasah kepekaan terhadap apa yang dialami baik secara fisik maupun metafisik

menjadi penting, karena hal itu akan memperlancar daya kreatif seorang penyair dalam

menulis puisi-puisinya. Di samping itu hal tersebut akan pula menjelma “bank naskah

pengalaman,” yang kelak tiada habisnya digali sebagai sumber penciptaan puisi. Berkaitan

dengan itu jelas sudah, bahwa menulis puisi tidak bisa lahir dari “ruang batin yang

kosong,” dari sesuatu yang tidak dialami baik secara fisik maupun metafisik.

Jika menulis puisi berangkat dari “ruang batin yang kosong,” maka apa yang ditulisnya itu

akan terasa tanpa greget, dan bahkan hampa dari makna. Lain halnya bila apa yang kita

ekspresikan itu bersumber dari pengalaman, maka rasa dari setiap kata yang kita ekspresikan

dalam larik-larik puisi yang kita tulis itu akan hadir dengan sendirinya. Karena itu tak

aneh kalau penyair Sitor Situmorang berkata lebih lanjut, bahwa:

dalam tubuhku ini
kunanti hal
yang serba mungkin.

Hal yang serba mungkin akan hadir dalam puisi yang kita tulis, bila kita mengalami sesuatu

yang menggerakkan daya imajinasi 6 kita untuk berproses kreatif. Di samping itu, selain

peka terhadap hal-hal yang demikian, harus pula peka terhadap rasa kata yang terdapat dalam

bahasa yang kita gunakan sebagai kendaraan utama dalam berproses kreatif menulis puisi.

Jika kita tidak menguasai bahasa dan kosa kata dengan baik, maka sangat mustahil kita akan

bisa mengekspresikan pengalaman tersebut dalam bentuk puisi yang kita tulis.

Peka terhadap pengalaman itu artinya peka terhadap suasana. Bagaimana mungkin kita akan

bisa mengekspresikan suasana di sekitar kita, di hati dan pikiran kita dengan baik, kalau

penguasaan kita terhadap bahasa dan kosa kata tidak pada tempatnya? Hidup dan matinya

sebuah puisi, antara lain terletak pada penguasaan bahasa, kosa kata, dan juga pengalaman

hidup yang dikenali betul oleh sang penyair hingga ke sudut-sudutnya yang paling gelap,

meski benar bahwa ketika seorang penyair menulis puisi, ia tidak harus mengangkat seluruh

sudut pengalaman yang dikenalinya untuk diekspresikan dalam satu lembar kertas. Yang

ditulisnya, pastilah sebuah sudut yang paling menggoda hati dan pikirannya saja.

Lepas dari itu, dari segi isi, unsur-unsur yang terkandung dalam puisi sebagaimana

dikatakan I. A, Richards dalam bukunya yang terkenal itu, The Rose of Poetry 7 terdiri dari

unsur-unsur perasaan (feeling), tema (sense), amanat (intention), dan nada (tone). Tiga

unsur tadi adalah unsur-unsur dalaman (jeroan) puisi. Selain menguasai tiga unsur tersebut,

tentu saja kita harus menguasai bahasa dan kota kata dengan baik. Penguasaan tersebut

menjadi penting diperhatikan karena ia adalah alat untuk mengomunikasikan bayang-bayang

pengalaman yang hendak kita ekspresikan dalam menulis puisi. Di dalam memilih kata-kata

(diksi) yang akan kita tulis itu, kelak kita akan berhadapan dengan kata-kata yang

berirama, yang menghasilkan rima dan ritma. I.A. Richards menyebutnya rhyme and rhytm.

Hadirnya rima dan ritma dalam larik-larik puisi itu antara lain bisa juga dibangun lewat

penggunaan bahasa figuratif (figurative languange) yang salah satu fungsinya antara lain

untuk menegaskan atau mengkonkretkan bayang-bayang pengalaman yang dimaksud -- sehingga si

apresiator bisa menikmati amanat (intention) dan keindahan puisi yang ditulis oleh seorang

penyair. Berkait dengan itu, pentingnya unsur bunyi dalam struktur puisi, karena hal itu

akan turut membangun makna puisi secara keseluruhan. Ini berarti puisi tidak hanya dibangun

oleh serangkai kosa kata dan gramatikal yang melahirkan pesan. Akan tetapi dibangun pula

oleh unsur-unsur estetik bunyi dari rangkaian vokal dan konsonan yang berlagu dan berirama,

yang adakalanya disebut rima dan ritma dalam puisi.

Tadi disebutkan bahwa sumber penciptaan puisi adalah pengalaman yang bermuara pada

kehidupan, baik yang dialami secara konkret (fisik) maupun meta fisik.. Berkaitan dengan

itu, seorang penyair dalam mengasah kepekaannya terhadap pengalaman pribadinya maupun

denyut kehidupan itu sendiri, jangan hanya memperhatikan hal-hal yang besar saja, hal-hal

yang kecil pun, yang dianggap remeh oleh orang lain harus pula diperhatikan.

Apa sebab? Karena di dalam pengalaman yang dikira remeh itu, sering terdapat makna tak

terduga. Misalnya, pada suatu hari kita memperhatikan dengan baik tentang sekuntum mawar

yang dipangkas orang secara paksa dari tangkainya. Apa yang terjadi peristiwa tersebut?

Jelas, mawar yang dipangkas orang dari tangkainya itu akan layu. Demikian pula bila kita

memperhatikan uap es dalam kulkas. Pengalaman tersebut memberikan sebuah gambaran baru yang

bisa dirasakan secara konkret, bahwa tingkat kedinginan antara air di bak mandi dengan uap

es dalam kulkas jelas berbeda.

Uraian di atas yang dipetik dari pengalaman konkret itu, tampaknya memang sepele. Lalu apa

hubungannya dengan penulisan puisi dari dua kejadian yang kita alami secara nyata itu?

Tentu saja ada. Secara tidak langsung bila kita memperhatikan hal yang demikian dengan

cermat, maka hal itu diam-diam menjelma “bank naskah pengalaman” di dalam hati dan pikiran

kita. Jelasnya, hal itu akan sangat berguna bila dalam puisi yang kita tulis harus

menggunakan bahasa figuratif, yang fungsinya antara lain untuk mengkonkretkan pengalaman

yang dirasa abstrak bentuk dan rupanya.

Misalnya, pada suatu hari, kita putus cinta. Kekasih kita dibawa lari oleh orang lain. Kita

ingin puisi yang kita tulis itu mampu menggambarkan rasa murung di dalam hati kita tanpa

sedikitpun menggunakan pilihan kata yang berbunyi murung.. Adakah hal tersebut bisa

dilakukan? Jawabnya tentu saja bisa, yakni dengan menggunakan bahasa figuratif . Tadi

disebutkan bahwa dalam “bank naskah penglaman” yang ada di dalam kepala dan hati kita itu;

kita pernah pada suatu hari mengalami secara kongkret melihat setangkai mawar dipangkas

orang secara paksa dari tangkainya, atau kita pernah melakukan hal itu.

Bagi seorang penyair kreatif, ia tentunya akan memanfaatkan pengalaman tersebut untuk

melukiskan perasaan cintanya yang pahit dan getir itu, setelah ia memahami semuanya dari

sisi mana rasa luka dan rasa yang murung itu akan diekspresikannya dalam bentuk puisi.

Seketika, setelah semuanya jelas, daya imajinasi dalam kepalanya segera bergerak,

menyeleksi sekian diksi yang dikenalnya dengan akrab, dan juga dipahami maknanya secara

jelas.. Dari sekian diksi yang dipilihnya itu, terbentuk larik-larik puisi, seperti ini:


sejak kau pergi dari sisiku, cintaku,
jiwaku seperti setangkai mawar
dipangkas orang dari pangkalnya

Tiga larik puisi tersebut, dengan tegas dan jelas segera menginformasikan sebuah pengalaman

pada kita, yakni informasi tentang perasaan si aku lirik yang murung dan layu ditinggalkan

kekasihnya yang diibaratkan atau diandaikan dengan setangkai mawar yang dipangkas orang

dari pangkalnya. Bukan hanya perasaan murung dan layu yang hadir dalam tiga larik puisi

tersebut, tetapi juga perasaan sakit yang amat sangat, yang mengendap di hati si aku lirik.

Rasa sakit, layu, dan murung itu memang tidak tersurat dalam tiga larik puisi tersebut,

akan tetapi tersirat. Itulah yang dimaksud dengan salah satu bentuk dari bahasa figuratif

dalam puisi, dan ia tidak mesti hadir dalam seluruh puisi yang ditulis oleh seorang

penyair. Pada sisi yang lain, bisa juga berfungsi sebagai penekan suasana, atau sebagai

konkretisasi dari pengalaman yang semula dirasa abstrak itu. Semisal tentang uap es dalam

kulkas itu, dalam sebuah puisi yang lain si fulan menulis seperti ini:

betapa dingin udara lembang
bagai uap es dalam kulkas
dedaunan pun menggigil
bagai daging dan tulang di tubuhku

Apa yang digambarkan dalam empat larik puisi tersebut lebih berfungsi sebagai penekan

suasana. Bahasa dengan demikian, sebagaimana dikatakan oleh Dr. I. Bambang Soegiharto dalam

bukunya8 bukan sekadar teks, struktur dan makna. Bahasa adalah juga pengalaman, pengalaman

yang dihayati. Pengalaman yang dihayatilah yang terungkap dalam bahasa dan yang memberi

kepada bahasa makna-makna eksistensial. Di sini pengalaman bukanlah sesuatu “yang lain,”

yang bersifat metafisis; bukan pula sesuatu yang di luar sehingga bahasa seolah-olah hanya

mengacu kepadanya saja. Bahasa adalah makna dari pengalaman itu sendiri.

Adanya pengalaman di dalam bahasa, dalam hal ini di dalam bahasa figuratif, lebih tegasnya

lagi di dalam puisi, ternyata satu sama lainnya tidak bisa dipisahkan. Ini artinya, sekali

lagi, bahwa menulis puisi tidak bisa dikhayal-khayalkan, sekalipun di dalamnya ada

imajinasi, sebuah dunia yang direka, yang dihadirkan kembali menurut tafsir si penyairnya

seusai membaca pengalaman puitik yang menggelitik hatinya tadi. Tentang digunakannya bahasa

figuratif dalam puisi yang hanya muncul pada bagian-bagian tertentu itu, bisa kita lihat

lebih jelas lagi dalam puisi di bawah ini:

Lagu Siul

Laron pada mati
Terbakar di sumbu lampu
Aku juga menemu
Ajal di cerlang caya matamu
Heran! Ini badan yang selama berjaga
Habis hangus di api matamu
‘Ku layak tidak tahu saja

Dalam puisi tersebut, Chairil mengandaikan si aku lirik sebagai laron, yang kerap memburu

cahaya, dan rela mati terbakar oleh cahaya yang panas itu, entah cahaya lampu patromaks,

neon, maupun cahaya api. Tentu saja, yang dimaksud oleh Chairil dalam puisi tersebut adalah

tentang keadaan si aku lirik yang senantiasa lapar memburu cahaya cinta, dan rela mati

terbakar oleh cahaya cinta yang didapatnya di padang perburuan. Dalam sajak tersebut ada

pengalaman konkret yang dialami Chairil, yakni dirinya melihat proses kematian laron seusai

memburu cahaya yang menyebabkan dirinya terbakar oleh cahaya yang diburunya itu.

Pengalaman fisik tersebut menjadi sebuah pengalaman metafisik, lebih tegasnya menjadi

sebuah pengalaman spiritual yang penuh dengan daya pesona religius, setelah Chairil

mengolah pengalaman tadi lewat larik-larik puisinya yang berbunyi: aku juga menemu ajal/ di

cerlang caya matamu// sebuah ungkapan yang indah, daya imajinasi yang bekerja dalam puisi

tersebut jelas bukan bersumber dari ruang batin yang kosong, tetapi dari sesuatu yang

dialami secara konkret, untuk kemudian direka kembali dalam sebuah pengalaman yang baru.

Puisi lainnya di bawah ini, juga berangkat dari kerja semacam itu:

Angin Malam
- untuk Heni Hendrayani

Angin malam terasa dingin
Hingga ke liang nyawa. Di dinding bayang-bayang
Kau dan aku laik wayang
Dimainkan ki dalang dengan kisah yang kelam

Kita adalah korban sekaligus pelaku
Tapi tak ada gending kemenangan
Atau kekalahan
Dalam ruangan ini, selain keheningan

Menghayati kelahiran
Juga kematian. Lihat di dinding
Bayang-bayang itu saling melebur
Takut dicekik kesepian

1993

Dari dua contoh di atas, jelas sudah apa yang dimaksud dengan bahasa figuratif dalam puisi.

Secara teknis, cara bekerja bahasa tersebut telah diuraikan dengan singkat. Ini artinya

bisa dipelajari. Sedangkan masalah isi dan kualitas garapan bahasa tersebut, sekali lagi

semua itu sangat bergantung kepada tingkat pengalaman dan penghayatan sang penyair terhadap

berbagai pengalaman hidup yang dilakoninya secara sungguh-sungguh.

Berkaitan dengan hal tersebut, tak salah kalau dalam sebuah esainya yang cukup menarik

perhatian saya, penyair Perancis abad 19, Paul Valery antara lain mengatakan, karya-karya

jiwa manusia, sajak atau yang lainnya, hanya dapat dihubungkan dengan “sesuatu yang

melahirkan dirinya sendiri,” dan sama sekali tidak dapat dihubungkan dengan apapun yang

lainnya.11 Puisi di atas yang saya tulis pada tahun 1993 itu, berangkat dari pengalaman

menonton pertunjukan wayang kulit. Pada sebentang layar kain putih saya melihat bayang-

bayang wayang yang diam, bergerak, maupun yang berkelebat. Dalam pertunjukan wayang kulit,

apapun maknanya, selalu ada pertarungan bayang-bayang, antara baik dan buruk, dan

sebagainya..

Pada sisi yang lain menulis puisi bisa pula dilakukan dengan cara yang lain, yakni tidak

menggunakan bahasa figuratif dalam larik-larik puisi yang ditulisnya. Misalnya, pada suatu

hari mungkin kita pernah duduk di sebuah halaman rumah, entah di kursi atau apa saja yang

ada di halaman rumah tersebut. Kita memandang ke arah luar, yang ada di hadapan kita pada

saat itu boleh jadi sebuah taman kecil, ada rumpun bebungaan, ada kupu-kupu dan juga

burung-burung yang beterbangan. Kita terpesona dan bahkan terpana karenanya. Lalu tiba-tiba

hujan jatuh dengan amat derasnya.

Saya yakin saat itu ada sebuah pengalaman yang dengan cepat berubah pula dalam diri kita.

Ingatan kita tentang pengalaman tersebut terus membayang dan kita sukar melupakannya.

Sebagai penyair kita ingin menuliskannya. Nah dalam menuliskan pengalaman yang demikian itu

-- seorang penyair harus peka terhadap apa yang dilihat dan didengarnya. Adanya kepekaan

semacam ini kaitannya kelak berurusan dengan apa yang disebut imaji penglihatan (visual)

dan imaji pendengaran (auditif). Adanya kepekaan terhadap kedua unsur tersebut pada sisi-

sisi tertentu bisa menyebabkan pilihan diksi yang kita pakai dalam penulisan puisi itu jadi

berlagu, menghasilkan rima dan ritme. Inilah, antara lain yang menyebabkan puisi enak

dibaca.

Apa yang dipaparkan di atas tentang pengalaman di halaman rumah itu, adalah apa yang

disebut sebagai bayang-bayang pengalaman yang di dalamnya melibatkan perasaan kita. Ruh

dari puisi adalah rasa (feeling). Sedangkan tema (sense) yang kita hadirkan dari suasana

yang demikian itu boleh jadi berupa kesepian atau kesunyian dan kesendirian. Sedangkan apa

yang dinamakan amanat (intention) tergantung dari sisi mana kita akan mengomunikasikan atau

menafsir pengalaman tersebut. Dan itu tidak usah dipikirkan karena akan lahir dengan

sendirinya, bila kita benar-benar serius dalam mendalami pengalaman tersebut sebagai

pengalaman spiritual.

Tegasnya menulis puisi dalam konteks apa pun pada dasarnya adalah membekukan pengalaman,

untuk kemudian dikomunikasikan kembali dalam bentuk-bentuk pengalaman yang baru setelah

melewati berbagai tahap kontemplasi, meski sesaat. Pengalaman di atas misalnya, melahirkan

larik-larik puisi seperti di bawah ini:

adakah kau dengar guguran daun
saat hujan turun
kupu-kupu terbang entah ke mana
langit pekat dan hitam

atau puisi di bawah ini:

kau dengar getar daun gugur di atas tanah berlumpur
saat hujan turun, saat kupu-kupu terbang entah kemana
saat langit pekat dan hitam, saat rinduku
berdebur dan berdebur selalu menerjang hatimu

Perhatikan puisi yang kedua, di dalam puisi tersebut pada larik pertamanya ada variasi rima

akhir, yang pertama rima ar pada diksi dengar dan getar serta rima ur pada gugur dan

lumpur. Paduan dari variasi rima itu menghasilkan ritma, yakni unsur-unsur bunyi yang

berlagu, yang tentunya enak untuk divokalkan, seperti kau dengar getar daun gugur di atas

tanah berlumpur.
Tentu saja tidak selamanya dan tidak seharusnya pula larik-larik puisi itu ditulis dengan

cara yang demikian, maksudnya pada setiap lariknya rimbun dengan rima dan ritme. Bisa juga

tidak. Yang penting dalam menulis puisi saat ini adalah bagaimana gagasan itu

dikomunikasikan dan diekspresikan dengan baik. Dengan demikian menulis puisi bukan semata-

mata peristiwa bahasa saja, yakni permainan diksi, lambang, simbol, dan sebagainya. Di

dalamnya ada juga seperangkat nilai-nilai yang dipertaruhkan, seperti puisi di bawah ini:

Berjalan di Belakang Jenazah

berjalan di belakang jenazah angin pun reda
jam mengerdip
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia

di samping, pohon demi pohon menundukkan kepala
di atas: matahari kita, matahari itu juga
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghisapnya

Sumber pengalaman yang ditulis oleh penyair Sapardi Djoko Damono dalam puisi tersebut,

jelas bermuara pada pengalaman si aku lirik ketika imengantar jenazah seseorang untuk

dikuburkan. Sapardi lewat puisi tersebut berupaya menghadirkan kembali apa yang dialaminya

itu dengan pilihan kata-kata yang begitu personal sifatnya. Ini artinya, ia mampu menemukan

wilayah pengucapannya yang khas, yang berbeda dengan para penyair lainnya, meski dalam

kesempatan yang sama boleh jadi mempunyai pengalaman yang sama pula dalam hal mengantar

jenazah ke tanah kubur.

Dalam titik yang demikianlah Sapardi merekonstruksi kembali berbagai pengalaman spiritual

yang dialaminya ketika dirinya mengantar jenazah saat itu. Ketika pengalaman itu disajikan

dalam puisi yang ditulisnya, pengalaman tersebut terasa segar dalam ingatan kita. Kesegaran

semacam ini hanya akan bisa lahir -- bila kita benar-benar menguasai kosa dan bahasa dengan

baik. Demikian pula puisi di bawah ini:

Dingin Tak Tercatat

Dingin tak tercatat
pada termometer

Kota hanya basah

Angin sepanjang sungai
mengusir, tapi tetap saja

di sana. Seakan-akan

gerimis raib
dan cahaya berenang

mempermainkan warna.

Tuhan, mengapa kita bisa
bahagia?

1971

Latar dari penciptaan puisi tersebut tentunya bersumber pada pengalaman Goenawan mengembara

di negeri orang, khususnya di musim dingin, entah di Eropa atau di Amerika. Pada musim

dingin, kota memang basah, boleh jadi oleh hujan, baik berupa salju maupun air. Tanpa

mengalami hal yang demikian -- sangatlah mustahil Goenawan bisa mengekspresikan pengalaman

batinnya sejernih itu.

Jadi peka terhadap suasana bisa juga diekspresikan dengan model penulisan puisi semacam

itu. Dan dasar dari segala dasar penulisan puisi yang harus dikuasai oleh seorang penyair

adalah peka terhadap suasana, baik yang ada di dalam maupun di luar dirinya. Sebuah

pengalaman yang terus menguntit saya, sepeninggal Nenek saya tercinta, Oneng Rohana

dipanggil Allah SWT pada tahun 1976, adalah semacam ini yang saya tulis dalam sebuah puisi

pada tahun 1977, dengan kalimat-kalimat yang sederhana, seperti di bawah ini:


Tembang

Kau yang hidup dalam ingatanku
adalah tembang yang tak pernah selesai
dilantunkan angin sepanjang waktu

Kau yang memberi arah dalam hidupku
adalah petikan kecapi, alun suling,
lagu yang tak pernah sirna di dalam kalbuku

1977

Oneng Rohana, Nenek tercinta, pada zamannya adalah seorang guru tembang Sunda cianjuran.

Apa yang saya tulis dalam puisi tersebut adalah semacam kenangan terhadap dirinya, yang

hingga kini tidak bisa pupus dalam ingatan saya. Pendeknya, lepas dari semua itu apa pun

bentuknya, pengalaman yang menggoda batin kita itu, yang terus memburu jiwa kita hingga

gelisah karenanya – adalah sumber bagi penulisan puisi. Dengan demikian maka jelas sudah

bahwa menulis puisi bukan semata-mata peristiwa imajinasi belaka, atau sesuatu yang

dibayangkan terjadi. Ia adalah kejadian itu sendiri, yang kemudian kita susun kembali

menjadi sebuah dunia yang baru. Prof. Dr. A. Teeuw menyebutnya sebagai dunia rekaan.

Demikian pula Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono mengatakan yang sama.

Bayang-bayang maut yang terus memburu saya, yang tiada hentinya memburu diri saya dalam

situasi yang sunyi dan sepi sepeninggal Nenek saya itu – terus berkelebat dengan berbagai

variasinya yang lain. Ketika saya mendapat kesempatan mengikuti Festival de Winternachten

di Den Haag, Belanda pada tahun 1999 lalu bersama penyair Rendra, Agus R. Sardjono dan

Nenden Lilis A, di sana saya dihadapkan pada sebuah pengalaman yang baru, yang untuk

pertamakalinya bersentuhan dengan salju, dengan dingin udara Eropa, dan juga rasa anggur

(wine) yang harus diteguk secara perlahan-lahan dengan penuh perasaan. Ketika saya

berhadapan dengan udara yang dingin, serta hamparan salju yang memutihkan jalan-jalan,

genting rumah, dan ranting pepohonan yang gugur daun itu, terasa begitu akrab maut menyapa.

Pengalaman semacam itu menyebabkan saya menulis puisi di bawah ini:

Tepi Salju Tepi Waktu

sesenyap batu
di dasar kali yang beku

maut membayang
di hatiku. “Hangatkan

tubuhmu dengan segentong
anggur,” katanya, sebelum

jam kehilangan bunyi
di tepi waktu
di tepi salju


1999
**
APA yang dikemukakan dalam tulisan di atas, diakui atau tidak lebih menekankan jiwa kita

pada suasana-suasana tertentu yang digali dari pengalaman batin sang penyair yang bersumber

pada keindahan sekaligus kemurungan alam dengan segala misteri yang dikandungnya. Untuk

itu, dalam penulisan puisi yang lain tidaklah demikian. Apa yang dinamakan metafor dalam

penulisan puisi kali ini mempunyai peran yang sangat menentukan: akan berhasil tidaknya

sebuah puisi ditulis.

Ketika seorang penyair tengah menggunakan metafor dalam puisi yang ditulisnya, maka ia

tidak sedang mengomunikasikan pengalaman batinnya secara umum, yang tanda-tandanya bisa

dikenali oleh orang lain. Ia justru sedang berekspresi sekaligus berkomunikasi dengan cara

yang tidak lazim. Misalnya, seseorang pada sebuah malam berjalan di sebuah taman dan

kemudian telunjuknya diarahkan kepada seorang perempuan sambil berkata, “itu kupu-kupu

malam,” maka jelas yang dimaksud oleh kata-kata tersebut tidak membuktikan bahwa wanita itu

adalah kupu-kupu sebagaimana yang sering kita lihat di siang hari.

Yang dimaksud dengan kupu-kupu malam di situ, adalah pelacur. Ungkapan ini memang sudah

basi. Meski pun begitu, dalam rangkaian kata tersebut makna tidak nampak pada apa yang

dituliskan, melainkan pada apa yang berada di belakang tulisan.. Nah, di dalam puisi yang

akan kita bicarakan kali ini adalah metafor yang tidak dikenali umum, sesuatu yang khusus,

yang mempribadi, yang hanya terbuka dan mencair maknanya tergantung pada seberapa jauh si

pembacanya bisa menafsir apa yang dibacanya tadi. Misalnya dari sebuah pengalaman yang

sukar dilupakannya, si fulan mengungkapkan pengalaman batinnya dalam sebuah puisi yang

ditulisnya seperti ini:

adakah kau dengar guguran daun hatiku

saat hujan turun,
kupu-kupu terbang entah kemana
langit gelap dan hitam

Sekalipun unsur-unsur yang membangun puisi tersebut hampir sama dengan puisi sebelumnya

yang berbunyi,

adakah kau dengar guguran daun
saat hujan turun
kupu-kupu terbang entah ke mana
langit gelap dan hitam

ternyata secara esensial mengandung makna dan lokasi peristiwa yang berbeda. Puisi kedua,

yang dalam satu lariknya dibangun oleh sepilihan kata yang berbunyi: guguran daun hatiku,

adalah metafor, sekaligus kata kunci yang harus tafsir oleh pembaca puisi tersebut. Puisi

di atast lebih mengungkapkan persoalan-persoalan psikologis, tegasnya lebih mengolah ruang

dalam (rohani) yang hendak dikomunikasikannya pada orang lain.

Dalam menyusun metafor, dalam hal ini, dalam menyusun dua atau tiga suku kata dalam satu

kalimat, seperti guguran daun hatiku, teks dan konteks yang hendak kita ekspresikan itu

harus saling mendukung dan bukannya saling bertolak belakang. Dalam puisi yang demikian

bahasa figuratif kadang hadir pula di dalamnya. Kita perhatikan puisi di bawah ini. Jalinan

metafor yang dirangkainya dalam puisi ini, terasa surealistik, sebuah dunia yang tidak ada

di sini dan bahkan di sana, namun demikian kita berada di dalamnya, di sana dan di sini

sekaligus.


Usia

Sebuah pulau
Memutih di rambut malam
Keajaiban musim tanpa suara
Terpahat di keheningan
Langit tembaga
Keagungan hujan
Dengan sulur-sulur cahayanya
Tersimpan jauh di lautan
Arus besar tanpa riak
Gema tanpa sahutan
Mengendap
Di kedalaman
Waktu

Abad-abad angin
Tahun-tahun kabut
Malam-malam murni
Antara kelahiran
Dan kejatuhan

Kita telanjang
Menghuni pulau karang

2002

Kata-kata aneh apakah yang terdapat dalam puisi tersebut? Tidak ada. Semuanya adalah kata-

kata yang kita kenali dalam kehidupan kita sehari-hari. Semuanya terasa kental, liat, dan

bahkan tidak umum, hal ini disebabkan karena Acep zamzam Noor demikian intens dalam

mengolah ruang dalam batin (rohani)-nya dengan baik. Semua itu bisa dikerjakan dengan penuh

daya pikat karena Acep telah mengerahkan sedemikian rupa daya kepekaannya terhadap denyut

kehidupan yang ada di sekitar dirinya.

Acep Zamzam Noor tidak akan mampu menulis larik Keagungan hujan/ Dengan sulur-sulur

cahayanya, kalau ia dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah memperhatikan peristiwa hujan

poyan, yakni matahari tetap bersinar di saat hujan, sebuah peristiwa alam yang sangat

langka.

Saya tidak sedang membicarakan makna dari dua larik puisi tersebut. Saya sedang menelusuri

dari mana datangnya pilihan diksi yang demikian itu, kalau si penyairnya tidak peka

terhadap apa yang terjadi di sekitar dirinya. Pendek kata apapun model dan bentuk

pengucapan sebuah puisi yang ditulis oleh si penyairnya, hal yang utama dari semua itu

adalah adanya kematangan penghayatan terhadap berbagai pengalaman hidup yang ditempuh oleh

Acep Zamzam Noor secara sungguh-sungguh.

Berkait dengan itu, bahasa puisi apa pun bentuknya bersifat plastis, mampu mengakomodasikan

berbagai dimensi makna, baik yang tersirat maupun tersurat. Sejak awal baris-baris puisi

tersebut jalin-menjalin membentuk metafor, seperti pada larik puisi yang berbunyi: Sebuah

pulau/ memutih di rambut malam// yang mengisyaratkan menuanya kehidupan manusia di muka

bumi, yang antara lain ditandai dengan munculnya uban yang serba putih itu. Lepas dari itu,

perhatikan puisi lainnya di bawah ini:

Di Luar Mimpi

Kelak jiwaku yang dalam
Tak punya lagi bayangan jika berjalan
Di bawah matahari atau terang lampu;
Jiwaku adalah sinar itu sendiri

Pada baris dan bait puisi yang kau tulis
Akan kau kenal dengan baik suaraku;
Bagaimana aku menembang juga menimbang
Kesepian, kesunyian, juga kesendirian

Jadi larik-larik hujan yang turun sore hari
Dengan amat lembutnya. Larik-larik itu diam-diam
Menumbuhkan benih kerinduan dalam dadamu

Padaku. Lalu bagai dentang lonceng pagi
Kesepian, kesunyian, dan kesendirian: tanpa ragu
Mengguncang ranjangmu dari balik jendela

1997


Pengalaman psikologis macam apakah yang melatari dua buah puisi di atas ditulis? Secara

tidak langsung dalam dua puisi di atas ada benang merah yang sama, yakni penghayatan atas

kematian, kesepian, kesunyian, dan juga kesendirian. Tentu saja dalam menulis puisi, tidak

hanya tema-tema yang demikian saja yang disajikan oleh penyairnya. Tema yang mencoba

mengungkap dan bahkan membongkar tentang apa yang diduganya sia-sia itu, diungkap dengan

cara yang memikat oleh Goenawan Mohamad dalam puisinya yang cukup terkenal, yang ditulisnya

seperti di bawah ini:

Kwatrin Tentang Sebuah Poci

Pada keramik tanpa nama itu
kulihat kembali wajahmu
Mataku belum tolol ternyata
untuk sesuatu yang tak ada

Apa yang berharga pada tanah liat ini
selain separuh ilusi
sesuatu yang kelak retak
dan kita membikinnya abadi

1973

Apakah keramik yang dimaksud oleh Goenawan itu benar-benar keramik yang biasa kita lihat?

Jawabnya, mungkin ya, dan mungkin tidak. Tetapi yang jelas, puisi tersebut mengandung

banyak makna, dikarenakan jalinan vokal dan konsonan yang disusunnya tidak umum ditulis

orang, demikian juga dengan pertanyaan yang diajukannya. Tanpa ada penghayatan terhadap

keramik, dan sesuatu yang dibentuk dan dikerjakan oleh si senimannya terhadap segumpal

tanah liat yang dijadikan keramik di tangannya, jelas puisi yang demikian tidak akan lahir

dari tangan Goenawan.

Ini artinya, sekali lagi, Goenawan tidak melahirkan puisinya yang demikian itu dari ruang

batin yang kosong. Akan tetapi dalam mengolah daya kreatifnya itu, ia justru berangkat dari

ruang batin yang penuh dengan pengalaman, yang setelah diseleksinya sedemikian rupa

lahirlah puisi tersebut. Contoh-contoh puisi di atas hanya sebagian kecil dari begitu

banyaknya ragam puisi yang ditulis orang yang bercorak demikian. Untuk itu beragam pula

definisi tentangnya. ***

Sumber : www.publiksastra.co.cc

Lima Tahap Proses Penulisan Puisi

Sampai saat ini, barangkali berjuta puisi telah dituliskan, baik yang dipublikasikan di

buku, di koran, di internet, maupun yang masih tetap mengendap di tangan penulis atau

bahkan sudah hilang, entah ke mana rimbanya.
Berbagai ragam tema bahasan juga pernah diungkapkan lewat puisi, mulai dari kehidupan

sehari-hari, budaya, sains, politik dan tentu saja tentang cinta yang banyak sekali

ditemukan, khususnya puisi yang dituliskan oleh kaum remaja.
Tentu, puisi-puisi ini dilahirkan dari berbagai macam proses kelahiran. Sebenarnya, jika

dicermati, menurut pengalaman, puisi itu merupakan ungkapan kata bermakna yang dihasilkan

dari berbagai macam proses kelahiran masing-masing.
Proses kelahiran ini ada beberapa tahap, antara lain :

1. TAHAP MENGUNGKAPKAN FAKTA DIRI
Puisi pada tahap ini, biasanya lahir berdasarkan observasi pada sekitar diri sendiri,

terutama pada faktor fisik. Misalnya pada saat berkaca, akan lahir puisi :

Lelaki ganteng
kau memang ganteng
berkulit legam bukan berarti hitam
berambut ikal bukan berarti
tak bisa diluruskan
bisa, walau tak terlalu lama

2. TAHAP MENGUNGKAPKAN RASA DIRI
Pada tahap ini akan lahir puisi yang mampu mengungkapkan rasa atau perasaan diri sendiri

atas obyek yang bersinggungan atau berinteraksi. Perasaan yang terungkap bisa berupa sedih,

senang, benci, cinta, patah hati, dan lain-lain, misalnya tatkala melihat meja, akan bisa

lahir puisi :

Mejaku sayang
kakimu menghunjam,
luruh rapuh termakan usia,
takmampu kuganti yang baru,
ribuan puisi telah lahir dari dadamu
ku kan selalu sayang pada mu, sahabatku

3. TAHAP MENGUNGKAPKAN FAKTA OBYEK LAIN
Pada tahap ini puisi dilahirkan berdasarkan fakta-fakta di luar diri dan dituliskan begitu

saja apa adanya, tanpa tambahan kata bersayap atau metafora, misalnya tatkala melihat meja,

kemudian muncul gagasan untuk menulis puisi :

Meja tulis,
kakimu empat,
tanpa kuping tanpa mata.
hanya kayu persegi empat

Tatkala mendengar lagu, akan terlulis puisi :

Nyanyian Rindu,
lagu yang bagus,
suara yang merdu
penyanyinya muda belia
4. TAHAP MENGUNGKAPKAN RASA OBYEK LAIN
Pada tahap ini penulis puisi mencoba berusaha mengungkapkan perasaan suatu obyek, baik

perasaan orang lain maupun benda-benda di sekitarnya yang seolah-olah menjelma menjadi

manusia. Misalnya tatkala melihat orang muda bersandar di bawah pohon rindang, dapat

terlahir puisi seperti di bawah ini.
Semilir Damai
sepoi kantuk memberat
kekar tangan berpeluh kering
ranting menjuntai gembira ria
menghibur yang berdamai santai
mengembara terlena mimpi yang fana

5. TAHAP MENGUNGKAPKAN KEHADIRAN YANG BELUM HADIR
Pada tahap ini puisi sudah merupakan hasil kristalisasi yang sangat mendalam atas segala

fakta, rasa dan analisa menuju jangkauan yang bersifat lintas ruang dan waktu, menuju

kejadian di masa depan. Mengungkapkan Kehadiran yang belum hadir artinya melalui media

puisi, puisi dipandang mampu untuk menyampaikan gagasan dalam menghadirkan yang belum

hadir, yaitu sesuatu hal yang pengungkapannya hanya bisa melalui puisi, tidak dengan yang

lain. Misalnya cita-cita anak manusia, budaya dan gaya hidup masyarakat di masa depan, dan

lain-lain. Salah satu contoh yang menarik adalah lahirnya puisi paling tegas dari para

pemuda Indonesia, tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta, atas prakarsa Perhimpunan Pelajar-

Pelajar Indonesia (PPPI), dalam:

SOEMPAH PEMUDA
PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,
Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,
Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,
Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Begitulah kira-kira bunyi sumpah pemuda kala itu. Saat Sumpah pemuda yang berbentuk puisi

ini diikrarkan, bangsa Indonesia masih tersekat-sekat dalam kebanggaan masing-masing suku,

ras dan bahasa serta masih dijajah oleh kolonial Belanda. Melalui Puisi Sumpah Pemuda,

lambat laun terjadi pencerahan pada seluruh komponen bangsa akan pentingnya persatuan,

sehingga jiwa persatuan itu sanggup dihadirkan di dalam setiap individu bangsa Indonesia,

meskipun kemerdekaan dan persatuan belum terwujud. Dan menunggu sampai dengan di raihnya

kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Begitulah kira-kira tahapan proses lahirnya puisi, Dan puisi kita sudah sampai pada tahap

yang mana?

Sumber: www.kapasitor.com

Sekilas Tentang Menulis Puisi

Menulis merupakan suatu proses melahirkan tulisan yang berisi gagasan. Menulis merupakan bagian dari empat keterampilan berbahasa. Keterampilan berbahasa itu adalah menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Membaca dan menyimak merupakan keterampilan yang bersifat reseptif sedangkan berbicara dan menulis merupakan keterampilan yang produktif.

Sebagai keterampilan produktif, menulis mempunyai peran pemindahan informasi secara akurat dari diri seseorang ke dalam tulisan. Menulis juga memberikan nuansa baru bagi pikiran, perasaan dan dunia batin pembaca. Berkaitan dengan itu menulis merupakan salah satu aktivitas yang selalu dilaksanakan oleh semua jenjang pendidikan sebagai bahan pembelajaran.

Lebih lanjut Tarigan (1986:21) menjelaskan bahwa menulis merupakan suatu proses perkembangan yang menuntut pengalaman, waktu, kesempatan, latihan, keterampilan-keterampilan khusus, dan pengajaran langsung menjadi seorang penulis. Menulis merupakan suatu representasi bagian-bagian dari kesatua-kesatuan ekspresi bahasa.

Menurut William Miller seperti dikutip Jakob Sumarjo (Komaidi, 2007:7), berdasar berbagi pengalaman penulis terkenal proses kreatif seorang penulis mengalami beberapa tahap. Pada dasarnya terdapat lima tahap dalam proses kreatif menulis, yakni :

1)      tahap persiapan, merupakan tahap di mana seorang penulis telah menyadari apa yang dia tulis dan bagaimana ia akan menuliskannya,

2)      tahap inkubasi, adalah tahap di mana gagasan yang telah muncul tadi disimpan dan dipikirkannya matang-matang, dan ditunggunya waktu yang tepat untuk menuliskannya,

3)      tahap inspirasi, merupakan tahap saat kapan bayi gagasan di bawah sadar sudah mendepak-depakkan kakinya ingin keluar, ingin dilahirkan. Jika saat inspirasi ini dibiarkan lewat, biasanya bayi gagasan akan mati sebelum lahir.

Gairah menuliskannya lama-lama akan mati dan gagasan tersebut sudah tidak menjadi obsesi lagi, 4) tahap penulisan, yaitu tahap untuk menuliskan segala inspirasi yang muncul ke dalam wujud yang nyata yakni sebuah tulisan, 5) tahap revisi, adalah tahapan perbaikan-perbaikan terhadap apa yang sudah dituliskannya sehingga akan menghasilkan tulisan yang sempurna.

Komaidi (2007:12) mengungkapkan beberapa manfaat yang dapat kita peroleh dari menulis, diantaranya :

1)      melatih kepekaan terhadap realitas kehidupan sekitar,

2)      mendorong kita agar semakin menambah wawasan dengan memperbanyak referensi buku kita ketika ingin menulis,

3)      dapat melatih untuk mdilihat dari sisi psikologis akan mengurangi tingkat ketegangan dan stres kita,

4)      menjadi populer dan dikenal oleh publik pembaca. Jadi, aktitivitas menulis adalah aktivitas yang juga mempunyai banyak manfaat baik itu secara intelektual, psikologis, ekonomis, budaya, dan sejenisnya bagi siapapun orang yang ingin melakukannya.mendapat kepuasan batin karena tulisan kita bisa bermanfaat bagi orang lain,

5)      jika tulisan kita dimuat oleh media-media massa, maka kita sebagai penulis

Menulis puisi merupakan kegiatan produktif yang lahir dari ekspresi pribadi. Kepandaian menulis puisi bergantung pada pengalaman menulis puisi. Menurut Wiyanto (2005:48), kemampuan menulis puisi sering dianggap sebagai bakat sehingga orang yang merasa tidak mempunyai bakat tidak akan dapat menulis, tetapi bakat tidak berarti tanpa ada pelatihan. Dan begitu pun sebaliknya, tanpa bakat pun bila seseorang rajin belajar dan giat berlatih, ia akan terampil dalam menulis puisi. Jadi, menulis puisi termasuk jenis keterampilan, seperti halnya jenis keterampilan lainnya, pemerolehannya harus melalui belajar dan berlatih, semakin sering belajar dan semakin giat berlatih, tentu semakin cepat terampil.

Ada beberapa langkah-langkah di dalam menulis puisi seperti yang diungkapkan oleh Komaidi (2007:207) diantaranya sebagai berikut :

   1. Sebelum menulis puisi, pahami dulu apa itu puisi. Kita dapat mencoba sebanyak mungkin membaca puisi-puisi yang ada di buku, majalah, atau media massa. Setelah banyak membaca puisi tentu sedikit atau banyak kita akan tahu apa itu puisi dan bagaimana membuatnya.


   2. Mencari inspirasi dengan berkeliling-keliling ke alam lingkungan sekitar karena hal itu akan memperluas pengalaman estetik kita untuk dituangkan ke dalam puisi.


   3. Cobalah membawa catatat atau buku kecil ke mana kita pergi. Hal ini untuk menuliskan setiap ide atau inspirasi berharga yang terlintas di pikiran kita agar tidak cepat hilang dan terlewatkan.


   4. Tulis apa yang ada dalam pikiran , perasaan kita, kegelisahan kita ke dalam bentuk kata-kata dalam puisi dengan bebas tanpa beban.


   5. Baca dan perbaiki puisi yang sudah dibuat. Setelah selesai menulis puisi, coba endapkan sebentar beberapa jam atau beberapa hari kemudian. Setelah itu itu baca lagi puisi yang sudah dibuat, mungkin kita merasakan sesuatu yang berbeda dan muncul perspekstif baru dalam pikiran.


   6. Setelah selesai menulis puisi, coba uji puisi yang dibuat untuk dikirimkan ke media massa atau pun minta kritik, saran dari orang lain sehingga puisi yang telah dibuat menjadi semakin menarikdan mempunyai nilai estetika tinggi.



*Pengertian Puisi

Puisi adalah salah satu genre atau jenis sastra. Seringkali istilah “puisi” disamakan dengan “sajak”. Akan tetapi, sebenarnya tidak sama, puisi itu merupakan jenis sastra yang melingkupi sajak, sedangkan sajak adalah bagian atau individu dari puisi (Komaidi, 2007:200). Secara etimologi istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poeima `membuat` atau poesis `pembuatan`, dan dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry. Tetapi arti yang semula ini lama kelamaan semakin dipersempit ruang lingkupnya menjadi “hasil seni sastra, yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat yang tertentu dengan menggunakan irama, sajak, dan kadang-kadang kata-kata kiasan” (Tarigan, 1986:4).

Menurut Dresden, puisi adalah sebuah dunia dalam kata (www.google.com). Isi yang terkandung di dalam puisi merupakan cerminan pengalaman, pengetahuan, dan perasaan penyair yang membentuk sebuah dunia bernama puisi. Puisi adalah cabang seni yang paling sulit untuk dihayati secara langsung sebagai totalitas. Elemen-elemen seni dalam puisi ini ialah kata. Sebuah kata adalah suatu unit totalitas utuh yang kuat berdiri sendiri.

Puisi menjadi totalitas-totalitas baru dalam pembentukan-pembentukan baru, dalam kalimat-kalimat yang telah mempunyai suatu urutan yang logis. Menurut Nadjid (2003:14), puisi adalah jenis sastra imajinatif yang mengutamakan unsur fiksionalitas, nilai seni, dan rekayasa bahasa. Puisi ini terdiri atas tiga jenis yaitu : puisi epik, puisi lirik, dan puisi dramatik. Puisi epik adalah puisi yang disampaikan oleh penyair dalam bentuk sebuah cerita. Puisi lirik adalah puisi yang lebih menyuarakan pikiran dan perasaan pribadi penyair. Puisi dramatik adalah puisi yang berisi analisis watak seseorang baik yang bersifat historis, mitos, atau fiktif ciptaan seorang penyair.

Lebih lanjut Ralph Waldo Emerson (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa puisi merupakan upaya abadi untuk mengekspresikan jiwa sesuatu, untuk menggerakkan tubuh yang kasar dan mencari kehidupan dan alasan yang menyebabkannya ada. Ada pun juga pendapat dari Samuel Johnson(Tarigan, 1986:5) yang menyatakan bahwa puisi adalah peluapan spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya, dia bercikal bakal dari emosi yang berpadu kembali dalam kedamaian. Puisi diartikan “membuat” dan “pembuatan” karena lewat puisi pada dasarnya seorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah (Aminuddin, 1987:134).

Menurut Shahnon Ahmad (dalam Komaidi, 2007:201) mengutip definisi para penyair romantik Inggris. Misalnya, Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lainnya sangat erat hubungannya, dan sebagainya. Waluyo (1991:25) juga menyatakan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.

Sayuti juga memberikan batasan, yakni bahwa puisi adalah pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspek-aspek bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individu dan sosialnya, yang diungkapkan dengan teknik tertentu sehingga puisi itu dapat membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengarnya (www.google.com).

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, disimpulkan bahwa puisi merupakan ungkapan perasaan seseorang berdasarkan pengalamannya yang dituangkan melalui kata-kata indah, padu, imajinatif, serta berirama dan disusun dengan mengkonsentrasikan struktur fisik dan struktur batin.

Dan juga menurut Dick Hartoko, unsur-unsur puisi yang paling penting terdiri dari dua unsur, yaitu unsur tematik atau unsur semantik puisi dan unsur sintaksis puisi (www.google.com). Unsur tematik atau unsur semantik puisi menuju ke arah struktur batin sedangkan unsur sintaksis mengarah pada struktur fisik puisi. Struktur batin adalah makna yang terkandung dalam puisi yang tidak secara langsung dapat dihayati. Struktur batin terdiri dari dari

1)      tema,

2)      perasaan,

3)      nada dan suasana,

4)      amanat atau pesan.

 Struktur fisik adalah struktur yang bisa kita lihat melalui bahasanya yang tampak. Struktur fisik terdiri dari

1)      diksi,

2)      pengimajian,

3)      bahasa figuratif atau majas,

4)      dan rima.

http://www.republikpuisi-reeve.blogspot.com/

SEPOTONG ANTROPOLOGI DAGING PANGGANG

Begawan antropologi Claude Lévi-Strauss meninggal menjelang usia 101 tahun. Ia dikenang sebagai bapak antropologi struktural.

Bagaikan juru kamera yang percaya diri, Claude Lévi-Strauss senang memilih sudut penglihatan yang tak lazim. Ketika sejawatnya melihat budaya dengan sudut pandang yang biasa, Lévi-Strauss memandang perkembangan budaya melalui lensa makanan. Cara memandang itu ia tuangkan dalam esainya yang terbit pada pertengahan 1960-an, "Le Triangle Culinaire" ("The Culinary Triangle").

Dalam esai itu, ia mencontohkan bagaimana orang-orang suku Amazon membedakan antara memanggang dan merebus. "Merebus menyediakan sarana konservasi yang utuh atas daging dan cairannya, sedangkan memanggang diikuti oleh kerusakan dan kehilangan," tulisnya. "Jadi, yang satu menunjukkan ekonomi, yang lain pemborosan; yang terakhir aristokratis, yang terdahulu udik."

Cara pandang yang berbeda itu pula yang membuat nama Lévi- Strauss menjulang. Tatkala para ahli memandang suku-suku primitif sebagai kelompok manusia yang aneh, Lévi-Strauss menunjukkan bahwa mereka memiliki budaya yang tak kalah canggih dibandingkan kelompok manusia modern. Ia menunjukkan betapa pikiran-pikiran primitif sesungguhnya kompleks dan memiliki pola tertentu.

Publikasi Lévi-Strauss sekembalinya dari Amerika ke Prancis, yakni La Vie familiale et sociale des Indiens Nambikwara (1948), dan Les Structures El mentaires de la parent (1949), memperlihatkan kekuatannya itu. Berseberangan dengan antropolog "fungsionalis" yang berpendapat bahwa sistem-sistem kekerabatan adalah respons terhadap pola-pola organisasi sosial yang berbeda-beda, Lévi-Strauss mengatakan bahwa sistem-sistem kekerabatan mencerminkan prinsip-prinsip yang mendasari pikiran manusia.

Ia menunjukkan, salah satu prinsip dasarnya ialah keengganan di bawah sadar—dan karena itu fundamental— untuk inses (tabu inses), yang satu mata rantai dengan sistem pertukaran dan pemberian-hadiah yang berlangsung berabadabad. Ini merupakan gestur simbolis yang meliputi keseluruhan jaringan hubungan yang menjadi basis masyarakat manusia.

Penafsirannya atas mitos-mitos Amerika Utara dan Selatan begitu menantang pemikiran Barat mengenai apa yang disebut masyarakat primitif. Ia mulai menantang kearifan konvensional mengenai hal itu tidak lama setelah ia memulai riset antropologisnya pada 1930an—pengalaman yang menjadi basis bagi bukunya yang terbit pada 1955, Tristes Tropique. Pandangan yang diterima menyatakan bahwa masyarakat primitif secara intelektual unimaginative dan secara temperamental irasional, berdasarkan pendekatan mereka terhadap kehidupan dan agama dan pemenuhan atas kebutuhan akan makanan, pakaian, dan hunian.

Lévi-Strauss menyelamatkan subyeknya dari perspektif yang terbatas ini. Dimulai dengan suku Caduveo dan Bororo ia kemudian mempelajari suku Nambikwara dan Kawahib di kawasan Mato Grosso, Brazil. Di sinilah ia melakukan kerja lapangannya yang pertama dan utama, dan menemukan bahwa mereka bukan hanya memuaskan kebutuhan material semata, tapi juga memahami logika canggih yang mengatur mitos dan memiliki kepekaan akan keteraturan dan desain.

Tristes Tropiques (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai A World on the Wane) dipuji oleh antropolog Amerika, Clifford Geertz, sebagai "salah satu buku paling bagus yang pernah ditulis oleh seorang antropolog." Perbedaan antara masyarakat "beradab" dan masyarakat "primitif," menurut Lévi- Strauss, hanya sedikit. Lantaran itulah, antropolog ini lebih suka menyebut yang terakhir itu sebagai "masyarakat tanpa tulisan."

Lévi-Strauss menulis Tristes tanpa beban. "Saya menulis tanpa beban ilmiah, tanpa cemas apakah hasilnya terdengar ilmiah. Dan, hasilnya adalah sejenis fantasi liar," ujarnya. "Saya menulis sangat bebas mengenai apapun yang melintas di kepala saya." Dalam bukunya, yang dianggap sebagai hasil meditasi antropologis ini, Lévi- Strauss merumuskan perbedaan antara nature dan culture berdasarkan bahasa dan kemampuan unik manusia dalam melihat suatu obyek, bukan semata-mata sebagai obyek itu sendiri, melainkan sebagai simbol.

Betapapun primitifnya suatu suku, menurut antropolog kelahiran Brussels, Belgia, 28 November 1908 ini, mereka memiliki kemampuan simbolisasi—suatu karakteristik yang dimiliki bersama oleh seluruh manusia. Lantaran itulah, alih-alih mencari perbedaan antara satu budaya dan budaya lain, Lévi-Strauss justru mencari apa yang ia sebut unconscious similarities dalam pikiran manusia. Ia berusaha menunjukkan adanya hukum berpikir mistis sebagaimana ditemukan dalam ilmu-ilmu alamiah.

Philippe Descola, ketua antropologi di Collège de France, mengatakan kepada New York Times bahwa Lévi-Strauss adalah "salah seorang pahlawan intelektual terhebat di abad ke-20. Ia memberikan obyek yang tepat pada antropologi: bukan sekadar studi mengenai watak manusia, tetapi suatu studi sistematis tentang bagaimana praktek-praktek budaya bervariasi, bagaimana perbedaan kultural diorganisasi secara sistematis."

Dengan cara pandangnya yang tak lazim, interpretasinya terhadap fakta menjadi orisinal, puitis dalam asosiasinya. Ia dianggap mampu menerangi cahaya baru atas faktafakta yang sudah ada, sekalipun kesimpulannya kadang-kadang dianggap meragukan. Kapasitasnya untuk menciptakan sejenis intellectual jigsaw yang kompleks tak pernah diragukan, namun sebagian menganggap ia tidak selalu gamblang dalam menjelaskan apa relasi antara hipotesisnya dengan realitas.

Antropolog berayah seorang pelukis dan berbuyut komposer Isaac Strauss ini mengakui keterbatasan metodenya. "Gagasan di balik strukturalisme," ujarnya, "ialah adanya hal-hal yang mungkin kita tidak tahu, tapi kita dapat belajar bagaimana hal itu berhubungan satu sama lain. (Metode) ini telah digunakan oleh sains sejak kemunculannya dan dapat diperluas ke beberapa studi lain—linguistik dan mitologi—tetapi tidak untuk setiap studi."

Ya, strukturalisme akhirnya memang dilekatkan pada gagasan-gagasan Lévi-Strauss—yang menguat setelah Les Mythologiques, karya empat jilidnya, terbit. Jilid pertama, Le Cru et le Cuit (The Raw and the Cooked, 1964), menyajikan asalusul keahlian memasak sebagai paradigma transisi dari alam ke budaya yang melintasi sejumlah mitos. Jilid kedua, Du Miel aux Cendres (From Honey to Ashes, 1966), membahas madu dan tembakau sebagai penjelmaan ritual dari antitesis fundamental yang ada di otak. Jilid ketiga, L’Origine des mani res de table (The Origin of Table Manners, 1968), dan keempat, L’Homme Nu (The Naked Man, 1971), berkonsentrasi di Indian Amerika Utara.

Apa yang hendak ditunjukkan dalam penelitiannya yang berjilidjilid tentang totemisme, ritus primitif, pola kekerabatan, dan terutama mitos adalah adanya kesejajaran antara artefak-artefak kebudayaan kuno tersebut dengan fenomena kebahasaan. Kesalahan antropologi tradisional—sebagaimana linguistik tradisional, menurut Lévi-Strauss, adalah perhatiannya pada arti sebuah terma dan bukan pada relasi antarterma. Perspektif ini sangat Saussurian. Pertama, Lévi-Strauss melihat setiap ekspresi kebudayaan sebagai bagian dari sistem yang lebih luas. Kedua, dan ini lebih penting, dia meyakini bahwa item-item dalam kebudayaan tidak memiliki nilai intrisik, namun menjadi penting karena kedudukannya dalam struktur.

Bagi Lévi-Strauss, fenomena antropologis— seperti sistem kekerabatan— baru dapat dipelajari maknanya jika diletakkan dalam kerangka relasi-relasi struktural. Oleh Lévi-Strauss, struktur mitos—seperti kisah Oedipus—dibongkar dengan memilah-milahnya menjadi satuan-satuan kisah terkecil, yang dinamai mitem (serupa dengan "fonem" dalam kajian linguistik). Dalam analisisnya, Lévi-Strauss mengabaikan mitem-mitem berdasarkan tipe relasinya. Misalnya, "Cadmus membunuh naga" serupa dengan bagian "Oedipus membunuh Sphinx". Kedua bundel kumpulan kisah itu dapat disatukan dalam kelompok yang sama.

Perjalanannya ke New York, saat ia diundang menjadi profesor tamu di New School for Social Research, 1941, merupakan "periode paling menyenangkan dalam kehidupan saya." Di kota dunia itu, ia menghabiskan waktu di ruang baca New York Public Library. Ia berkenalan dengan antropolog Amerika kelahiran- Jerman, Franz Boas, dan linguis kelahiran Rusia, Roman Jakobson, yang teorinya tentang struktur bahasa mempengaruhi prinsip-prinsip strukturalis Lévi- Strauss. Ia senang mengunjungi toko barang antik di Manhattan yang menjual berbagai artefak dari masa Pacific Northwest. Ia begitu terkesan sehingga mengatakan, "hal-hal yang esensial dari kekayaan artistik kemanusiaan dapat ditemukan di New York."

Selama periode empat tahun di Amerika Serikat itulah "antropologi struktural" dikonstruksi. Selagi di New York, Lévi-Strauss menenggelamkan diri dalam catatan-catatan antropologis Amerika Utara dan Selatan yang dihimpun oleh para antropolog dan linguis selama lebih dari seabad. Data itu membuatnya menentang penjelasan reduksionis terhadap budaya, yang secara implisit menampik pencapaian intelektual yang direpresentasikan oleh mitologi dan pemikiran sosial pribumi. "Rasa haus akan pengetahuan obyektif," tulis Lévi-Strauss, "adalah salah satu aspek yang paling diabaikan dari pikiran orangorang yang kita sebut 'primitif'." Kontaknya dengan linguis struktural membuatnya meyakini betapa kaya material ini.

Kendati usianya terus menanjak, Lévi-Strauss tetap berkarya. Pada 1958 ia menerbitkan kumpulan esainya di bawah judul Anthropologie Structurale (1958, terjemahan Inggrisnya muncul pada 1964). Dua tahun kemudian ia menempati kursi Chair of Social Anthropology di Collège de France; pidato pengukuhannya diterbitkan di Inggris sebagai The Scope of Anthropology (1967). La Pens e Sauvage — terjemahan Inggrisnya, The Savage Mind, muncul 1966 — adalah salah satu dari bukunya yang terpenting. Karya ini menyadikan totemisme kompleks yang berlaku di antara orang-orang Aborigin Australia sebagai ekspresi pandangan-dunia yang mengatur dan menjelaskah hidup mereka sehari-hari. Anthropologie Structurale Deux (1967), La Voie des Masques (1975, terjemahan Inggris 1983), Le Regard Eloign (1983), Paroles Donn es (1984), La Poti re Jalouse (1985) and Histoire de Lynx (1991) adalah sejumlah karya terakhir Lévi-Strauss.

Seperti intelektual Prancis lainnya, Jean-Paul Sartre, Simone de Beauvoir—keduanya ia kenal sejak muda—, Michel Foucault, Roland Barthes, Jacques Derrida, dan Paul Ricoeur, pengaruh Lévi-Strauss meluas ke disiplin-disiplin lain. Bagi orang-orang di luar antropologi, dia adalah antropolog yang paling mashur dan dianggap sebagai pendiri gerakan intelektual yang dikenal sebagai strukturalisme.

Namun, pada 1980-an strukturalisme seperti yang dibayangkan oleh Lévi-Strauss digusur oleh pemikir Prancis yang dikenal sebagai postrukturalis: Michel Foucault, Roland Barthes, dan Jacques Derrida. Mereka menolak gagasan universal yang tak lekang waktu dan berpendapat bahwa sejarah dan pengalaman jauh lebih penting dalam membentuk kesadaran manusia dibandingkan hukum universal.

Sejak mula, Lévi-Strauss menyadari suatu saat buah pikirnya mungkin bakal "tergusur." "Masyarakat Prancis, dan khususnya masyarakat Paris, adalah pelahap," ujarnya menanggapi. "Setiap lima tahun atau sekitar itu, mereka membutuhkan sesuatu yang baru di mulut mereka. Dan begitulah lima tahun yang lampau adalah strukturalisme, dan kini sesuatu yang lain. Saya, secara praktis, tidak berani menggunakan kata 'strukturalis' lagi, sebab ia sudah sedemikian dideformasi. Tentu saja, saya bukan bapak strukturalisme." DIAN BASUKI (BERAGAM SUMBER) www.ruangbaca.com

Sabtu, 21 Mei 2011

Pak Tua dan Sebuah Cerita

Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu :"Sebenarnya apa itu perasaan 'bosan', pak tua?"  

Pak Tua : "Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu."

Tamu :"Kenapa kita merasa bosan?"

Pak Tua :"Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki."

Tamu :"Bagaimana menghilangkan kebosanan?"

Pak Tua : "Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."

Tamu :"Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?"

Pak Tua:"Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"

Tamu :"Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."

Pak Tua :"Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang."

Tamu: "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"

Pak Tua : "Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.

Tamu :"Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?"

Pak Tua :"Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."

Tamu :"Contohnya? "

Pak Tua :"Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.

Tamu :

"Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaibanpun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?"

Sambil tersenyum Pak Tua berkata:

"Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria." 

Jumat, 20 Mei 2011

celoteh tak tentu

Berlari dan masih berlari disini, rupanya pecut itu tak lagi membuat gentar. Berjalan atau berlari ditempat? semakin kencang berlari semakin terengah pula nafas yg slalu mendengus udara yg tak lagi segar. bukan bermaksud kasar, bukan pula kurang ajar. Aku cuma orang butuh diajar bukan dihajar.
jika memang sudah tak ada lagi yang tersirat, kan kubuat sebuah kalimat.
Silahkan saja jika mau membaca atau mau menginterpretasikan sendiri.
cuma satu hal, jangan pernah menganggap jika kata itu tak bermakna.

Kamis, 19 Mei 2011

langgam sore

sore ini mentari mulai sembunyi di balik awan
secarik kertas terbang ditiup sang angin
perlahan menerpa wajahku
lecek dan kumal rupanya
sama seperti apa yang kulihat disekelilingku
bocah2 kecil asyik memainkan gitar kecilnya
sambil berharap belas kasih dari para pengendara
yang mengantri di perempatan jalan ini
seolah tak ada lagi tempat buat mereka disini
berhimpit2an dengan motor yang semakin memenuhi jalan2 kota ini
semakin sore sang malam pun ingin eksis di belahan bumi ini
bersama sang bulan yg sudah muncul sedari tadi
mereka akan menerangi malam yg temaram
malam yg indah dihiasi bintang2 yg bertaburan
bagai pasir di tepi pantai yg senantiasa diseret sang ombak
aku berlalu, menerabas sore di tengah jalan ini
mencoba mencari jalan pulang.....