Sampai saat ini, barangkali berjuta puisi telah dituliskan, baik yang dipublikasikan di
buku, di koran, di internet, maupun yang masih tetap mengendap di tangan penulis atau
bahkan sudah hilang, entah ke mana rimbanya.
Berbagai ragam tema bahasan juga pernah diungkapkan lewat puisi, mulai dari kehidupan
sehari-hari, budaya, sains, politik dan tentu saja tentang cinta yang banyak sekali
ditemukan, khususnya puisi yang dituliskan oleh kaum remaja.
Tentu, puisi-puisi ini dilahirkan dari berbagai macam proses kelahiran. Sebenarnya, jika
dicermati, menurut pengalaman, puisi itu merupakan ungkapan kata bermakna yang dihasilkan
dari berbagai macam proses kelahiran masing-masing.
Proses kelahiran ini ada beberapa tahap, antara lain :
1. TAHAP MENGUNGKAPKAN FAKTA DIRI
Puisi pada tahap ini, biasanya lahir berdasarkan observasi pada sekitar diri sendiri,
terutama pada faktor fisik. Misalnya pada saat berkaca, akan lahir puisi :
Lelaki ganteng
kau memang ganteng
berkulit legam bukan berarti hitam
berambut ikal bukan berarti
tak bisa diluruskan
bisa, walau tak terlalu lama
2. TAHAP MENGUNGKAPKAN RASA DIRI
Pada tahap ini akan lahir puisi yang mampu mengungkapkan rasa atau perasaan diri sendiri
atas obyek yang bersinggungan atau berinteraksi. Perasaan yang terungkap bisa berupa sedih,
senang, benci, cinta, patah hati, dan lain-lain, misalnya tatkala melihat meja, akan bisa
lahir puisi :
Mejaku sayang
kakimu menghunjam,
luruh rapuh termakan usia,
takmampu kuganti yang baru,
ribuan puisi telah lahir dari dadamu
ku kan selalu sayang pada mu, sahabatku
3. TAHAP MENGUNGKAPKAN FAKTA OBYEK LAIN
Pada tahap ini puisi dilahirkan berdasarkan fakta-fakta di luar diri dan dituliskan begitu
saja apa adanya, tanpa tambahan kata bersayap atau metafora, misalnya tatkala melihat meja,
kemudian muncul gagasan untuk menulis puisi :
Meja tulis,
kakimu empat,
tanpa kuping tanpa mata.
hanya kayu persegi empat
Tatkala mendengar lagu, akan terlulis puisi :
Nyanyian Rindu,
lagu yang bagus,
suara yang merdu
penyanyinya muda belia
4. TAHAP MENGUNGKAPKAN RASA OBYEK LAIN
Pada tahap ini penulis puisi mencoba berusaha mengungkapkan perasaan suatu obyek, baik
perasaan orang lain maupun benda-benda di sekitarnya yang seolah-olah menjelma menjadi
manusia. Misalnya tatkala melihat orang muda bersandar di bawah pohon rindang, dapat
terlahir puisi seperti di bawah ini.
Semilir Damai
sepoi kantuk memberat
kekar tangan berpeluh kering
ranting menjuntai gembira ria
menghibur yang berdamai santai
mengembara terlena mimpi yang fana
5. TAHAP MENGUNGKAPKAN KEHADIRAN YANG BELUM HADIR
Pada tahap ini puisi sudah merupakan hasil kristalisasi yang sangat mendalam atas segala
fakta, rasa dan analisa menuju jangkauan yang bersifat lintas ruang dan waktu, menuju
kejadian di masa depan. Mengungkapkan Kehadiran yang belum hadir artinya melalui media
puisi, puisi dipandang mampu untuk menyampaikan gagasan dalam menghadirkan yang belum
hadir, yaitu sesuatu hal yang pengungkapannya hanya bisa melalui puisi, tidak dengan yang
lain. Misalnya cita-cita anak manusia, budaya dan gaya hidup masyarakat di masa depan, dan
lain-lain. Salah satu contoh yang menarik adalah lahirnya puisi paling tegas dari para
pemuda Indonesia, tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta, atas prakarsa Perhimpunan Pelajar-
Pelajar Indonesia (PPPI), dalam:
SOEMPAH PEMUDA
PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,
Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,
Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,
Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Begitulah kira-kira bunyi sumpah pemuda kala itu. Saat Sumpah pemuda yang berbentuk puisi
ini diikrarkan, bangsa Indonesia masih tersekat-sekat dalam kebanggaan masing-masing suku,
ras dan bahasa serta masih dijajah oleh kolonial Belanda. Melalui Puisi Sumpah Pemuda,
lambat laun terjadi pencerahan pada seluruh komponen bangsa akan pentingnya persatuan,
sehingga jiwa persatuan itu sanggup dihadirkan di dalam setiap individu bangsa Indonesia,
meskipun kemerdekaan dan persatuan belum terwujud. Dan menunggu sampai dengan di raihnya
kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.
Begitulah kira-kira tahapan proses lahirnya puisi, Dan puisi kita sudah sampai pada tahap
yang mana?
Sumber: www.kapasitor.com
buku, di koran, di internet, maupun yang masih tetap mengendap di tangan penulis atau
bahkan sudah hilang, entah ke mana rimbanya.
Berbagai ragam tema bahasan juga pernah diungkapkan lewat puisi, mulai dari kehidupan
sehari-hari, budaya, sains, politik dan tentu saja tentang cinta yang banyak sekali
ditemukan, khususnya puisi yang dituliskan oleh kaum remaja.
Tentu, puisi-puisi ini dilahirkan dari berbagai macam proses kelahiran. Sebenarnya, jika
dicermati, menurut pengalaman, puisi itu merupakan ungkapan kata bermakna yang dihasilkan
dari berbagai macam proses kelahiran masing-masing.
Proses kelahiran ini ada beberapa tahap, antara lain :
1. TAHAP MENGUNGKAPKAN FAKTA DIRI
Puisi pada tahap ini, biasanya lahir berdasarkan observasi pada sekitar diri sendiri,
terutama pada faktor fisik. Misalnya pada saat berkaca, akan lahir puisi :
Lelaki ganteng
kau memang ganteng
berkulit legam bukan berarti hitam
berambut ikal bukan berarti
tak bisa diluruskan
bisa, walau tak terlalu lama
2. TAHAP MENGUNGKAPKAN RASA DIRI
Pada tahap ini akan lahir puisi yang mampu mengungkapkan rasa atau perasaan diri sendiri
atas obyek yang bersinggungan atau berinteraksi. Perasaan yang terungkap bisa berupa sedih,
senang, benci, cinta, patah hati, dan lain-lain, misalnya tatkala melihat meja, akan bisa
lahir puisi :
Mejaku sayang
kakimu menghunjam,
luruh rapuh termakan usia,
takmampu kuganti yang baru,
ribuan puisi telah lahir dari dadamu
ku kan selalu sayang pada mu, sahabatku
3. TAHAP MENGUNGKAPKAN FAKTA OBYEK LAIN
Pada tahap ini puisi dilahirkan berdasarkan fakta-fakta di luar diri dan dituliskan begitu
saja apa adanya, tanpa tambahan kata bersayap atau metafora, misalnya tatkala melihat meja,
kemudian muncul gagasan untuk menulis puisi :
Meja tulis,
kakimu empat,
tanpa kuping tanpa mata.
hanya kayu persegi empat
Tatkala mendengar lagu, akan terlulis puisi :
Nyanyian Rindu,
lagu yang bagus,
suara yang merdu
penyanyinya muda belia
4. TAHAP MENGUNGKAPKAN RASA OBYEK LAIN
Pada tahap ini penulis puisi mencoba berusaha mengungkapkan perasaan suatu obyek, baik
perasaan orang lain maupun benda-benda di sekitarnya yang seolah-olah menjelma menjadi
manusia. Misalnya tatkala melihat orang muda bersandar di bawah pohon rindang, dapat
terlahir puisi seperti di bawah ini.
Semilir Damai
sepoi kantuk memberat
kekar tangan berpeluh kering
ranting menjuntai gembira ria
menghibur yang berdamai santai
mengembara terlena mimpi yang fana
5. TAHAP MENGUNGKAPKAN KEHADIRAN YANG BELUM HADIR
Pada tahap ini puisi sudah merupakan hasil kristalisasi yang sangat mendalam atas segala
fakta, rasa dan analisa menuju jangkauan yang bersifat lintas ruang dan waktu, menuju
kejadian di masa depan. Mengungkapkan Kehadiran yang belum hadir artinya melalui media
puisi, puisi dipandang mampu untuk menyampaikan gagasan dalam menghadirkan yang belum
hadir, yaitu sesuatu hal yang pengungkapannya hanya bisa melalui puisi, tidak dengan yang
lain. Misalnya cita-cita anak manusia, budaya dan gaya hidup masyarakat di masa depan, dan
lain-lain. Salah satu contoh yang menarik adalah lahirnya puisi paling tegas dari para
pemuda Indonesia, tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta, atas prakarsa Perhimpunan Pelajar-
Pelajar Indonesia (PPPI), dalam:
SOEMPAH PEMUDA
PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,
Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,
Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,
Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Begitulah kira-kira bunyi sumpah pemuda kala itu. Saat Sumpah pemuda yang berbentuk puisi
ini diikrarkan, bangsa Indonesia masih tersekat-sekat dalam kebanggaan masing-masing suku,
ras dan bahasa serta masih dijajah oleh kolonial Belanda. Melalui Puisi Sumpah Pemuda,
lambat laun terjadi pencerahan pada seluruh komponen bangsa akan pentingnya persatuan,
sehingga jiwa persatuan itu sanggup dihadirkan di dalam setiap individu bangsa Indonesia,
meskipun kemerdekaan dan persatuan belum terwujud. Dan menunggu sampai dengan di raihnya
kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.
Begitulah kira-kira tahapan proses lahirnya puisi, Dan puisi kita sudah sampai pada tahap
yang mana?
Sumber: www.kapasitor.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar