Halaman

Selasa, 31 Mei 2011

Sekitar Menulis, Menulis Sekitar

Oleh M.D. Atmaja 

   “Aku bertanya,
    tetapi pertanyaanku
    membentur jidat penyair-penyair salon,
    yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
    sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
    dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
    termangu-mangu di kaki dewi kesenian”
    (WS Rendra, Sajak Sebatang Lisong dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, hlm. 34)

Begitu kerasnya tulisan Rendra (Almarhum) memekik di telinga saya malam ini. Puisi yang

begitu cerpen merespon realitas dalam nuansa yang terkadang berbisik memberikan teguran

(khususnya untuk saya sendiri), terkadang berteriak keras dalam tamparan yang membangunkan

dari keterlelapan sesaat. Dua kekuatan yang menjadikan saya sebagai “subjek pembaca”

tersadar dari mimpi indah yang gemerlap menipu. Juga kemudian “subjek pembaca” untuk keluar

dari ekstase pertemuan kertas dan tinta yang melepaskan alam sekitar. Sekali lagi, di sini

saya sebagai “subjek pembaca” berusaha memahami kembali setelah sekian tahun bertahan dalam

keringnya panas dan basahnya hujan, untuk terus giat menulis sesuatu mengenai “manusia” dan

dunianya.

Hal yang paling indah dari spesies kita ini (maksud saya adalah manusia) adalah sebagai

makhluk yang mampu meng-“ada” untuk terus bereksistensi dan berkembang di dunia. Salah satu

faktor penting dalam proses ini adalah keberadaan bahasa, yang tidak sekedar sebagai alat

komunikasi dan sekaligus penindasan. Bahasa juga memberikan manusia suatu lingkup mengenai

keberadaan yang sifatnya nyata, serta memberi ruang lingkup dalam usaha pengembangan diri.

Dengan bahasa manusia mampu menunjukkan kesan dan kenyataan, yaitu mana yang hanya

mengesankan dan mana yang benar-benar menunjukkan kenyataan. Dan keduanya dapat didapati

dalam dataran realitas melalui penggunaan bahasa, seperti ungkapan Heidegger bahwa bahasa

sebagai rumah (tempat) dari peng- “ada”.

Manusia adalah spesies berbahasa, melakukan interaksi secara langsung dan juga tidak

langsung. Salah satu interaksi tidak langsung manusia ialah menggunakan media tulisan, yang

melahirkan adanya subjek pembaca dan penulis. Media ini memberikan ruang untuk kita dalam

usaha saling memahamkan, selain itu mampu menjadi penjembatan antara dunia batin (hati dan

pikiran) dengan dunia realitas. Tuhan Semesta Alam pun, berbahasa kepada kita sebagai

sebagian dari komunikasi religius, sehingga kita tahu apa yang Dia harapkan dari manusia.

Manusia, alam, hewan, serta Tuhan Semesta Alam berbahasa dengan cara tersendiri. Pun,

ketika kita memulai dunia di dalam tulisan, dunia yang kita bentuk dengan bahasa, itu

adalah cara kita sendiri. Sebatas cara dalam berbahasa, mungkin juga sebagai teknik (saya

agak trauma dengan istilah “teknik”), yang dapat membawa kita pada wilayah komunikasi yang

lebih luas. Ketika kita subjek penulis membuat sebuah tulisan, meskipun dalam kadar tidak

ilmiah atau tidak memberikan kesan kuat (seperti tulisan ini), akantetapi kita sedang

membangun komunikasi dari berbagai sisi.

Komunikasi yang pertama adalah komunikasi diri kita dengan diri kita sendiri. Maksudnya

adalah sisi perenungan mengenai sesuatu hal yang hendak dituliskan. Subjek penulis

melakukan aktivitas kontemplasi, percakapan yang ada di dalam diri untuk mencapai suatu

esensi yang ingin di sampaikan. Aktivitas menulis merupakan aktivitas membangun komunikasi,

baik komunikasi dengan diri sendiri maupun komunikasi dengan subjek pembaca. Aktivitas yang

memanifestasikan buah dari pikir, rasa, akhirnya karsa, yang menjalin hubungan silaturahmi

(bahkan persaudaraan) antara penulis, karya, dan pembaca.

Selayaknya suatu hubungan yang wajar, persaudaraan walau dengan bermedia tulisan, alangkah

baiknya kalau subjek penulis melaksanakan aktivitasnya dilandasi dengan kejujuran, memilih

bahasa yang baik dan tetap menjaga etika. Untuk masalah ini, saya memiliki suatu pandangan

yang tidak baru, bahwa etika dalam kepenulisan adalah sebagai “keberanian” untuk mengatakan

dengan tegas: mana yang benar dan mana yang salah. Gerakan etika yang dengan sendirinya

akan melahirkan nilai estetika (keindahan) tersendiri. Sehingga, saya tetap memegang

prinsip kepenulisan yang secara garis besar saya golongkan menjadi tiga hal: kejujuran,

pemilihan bahasa yang baik, dan etika penulisan.

Kejujuran, prinsip yang sengaja saya letakkan di depan, sebab pengalaman saya mengarahkan

pada aspek ini. Kejujuran yang ketika kita menulis, kita tidak sedang menutupi sesuatu

mengenai kebenaran, entah itu kebenaran yang sifatnya personal dan lebih jauh lagi bersifat

universal. Kejujuran dalam menulis, sama seperti kita sedang menulis buku harian. Dalam

penulisan itu kita pasti jujur, karena buku harian bersifat personal dan hanya untuk diri

kita sendiri. Masak iya, dalam menulis sebagai pelepas keresahan hati, kita justru

berbohong yang pada akhirnya menambah keresahan itu. Lantas, ketika menulis tidak dengan

jujur, misalnya kita ingin membuat suatu kebohongan, siapa gerangan yang akan kita bohongi?

Proses kepenulisan yang dilandasi dengan kejujuran sikap, dimanifestasikan ke dalam bahasa

tulis melalui perasaan yang jujur pula dalam memanifestasikan cinta, kemarahan, kebencian

dan lain sebagainya. Aktivitas yang membawa pada kelegaan “dan engkau akan selalu menjumpai

dirimu sendiri di sana/ bersih dan telanjang tanpa asap dan tirai yang bernama rahasia”

(Penyair, Sapardi Djoko Damono, Tonggak 2, hlm. 408-409). Melalui tulisan yang diciptakan

sendiri, manusia dapat mencapai pengetahuan mengenai diri, selanjutnya akan mengantarkan

subjek penulis pada kebijaksanaan. Sebab, dalam keyakinan saya, kebijaksanaan akan muncul

ketika manusia (individu) memiliki pengetahuan tentang dirinya sendiri, dan pemahaman akan

keberadaan diri dapat ditemukan di dalam tulisan yang kita tulis. “Dan engkau pun masuk,

untuk mengenal dirimu sendiri di sana” (ibid).

Untuk mengenal diri sendiri, menjadi landasan bagi pengetahuan lain. Tulisan membawa kita

pada kesempatan yang spesial ini, kesempatan untuk mengenal diri sendiri. Bahkan, filsuf

Descartes sampai meragukan setiap hal demi mendapatkan pengetahuan akan diri atau “ada”

yang merujuk pada kesadaran manusia itu sendiri. Langkah mencapai pengetahuan diri melalui

tulisan dilandasi oleh kejujuran hati ketika subjek penulis melakukan aktivitasnya. Unsur

kontemplasi yang menyertai dialog dengan dirinya sendiri dan perlu terbuka dengan dirinya

sendiri sebab di sana tidak ada keuntungannya ketika dimulai dengan kebohongan, karena toh,

kita hanya akan membohongi diri kita sendiri.

Lebih jauh lagi ketika subjek penulis menggunakan tulisannya sebagai media interaksi sosial

dengan subjek lain (pembaca). Kegiatan interaksi menjadikan kejujuran dalam menulis berada

pada posisi yang penting. Ini menyatakan adanya hubungan sesama manusia, bermediumkan

bahasa tulis memberikan kesan tersendiri. Dalam batasan ini, masih sejauh memberikan

“kesan” kepada subjek pembaca. Apalagi ketika kita menyatakan diri diketika kita subjek

penulis bersepakat dengan diri bahwa: menulis sebagai bentuk dari ibadah kepada Tuhan

Semesta Alam. Pertanyaannya, apa kita akan beribadah dengan “kejujuran” atau “tidak

kejujuran” bukankah Tuhan Semesta Alam hanya akan menerima yang baik-baik saja?

Kejujuran yang kita sampaikan melalui hasil dari aktivitas menulis, hendaknya juga disertai

dengan cara penuturan yang baik. Pemanifestasian dari rasa, meskipun untuk mewakili

kebencian dan kemaraha, alangkah “bijak” kalau disampaikan dengan bahasa yang baik.

Pemilihan bahasa yang tepat, yang sebelumnya sudah disertai dengan kejujuran, seperti yang

dikatakan Sanusi Pane: “O, bukannya dalam bahasa yang rancak/ kata yang pelik kebagusan

sajak” (Sajak, Sanusi Pane, Tonggak 1, hlm. 41). Hal ini membawa saya, ketika berperan

sebagai subjek penulis, akan lebih memilih bahasa yang sederhana, bahasa yang biasa yang

meski “mengesankan” kekakuan dan kehilangan aspek puitik. Hanya melalui tulisan yang

sederhana ini, saya berusaha agar setiap kata yang saya rangkai dapat mewakili dunia ide.

Sedang ke-“absurd”-an ide yang terkadang teramat sulit untuk diterjemahkan dengan kemampuan

berbahasa, meskipun ide sebagai hasil dari penyerapan indera atas realitas. Melalui satu

kesempatan berbahasa, ada usaha untuk memanifestasikan ide tersebut sehingga, keberadaan

dari ide dapat terpahami.

Mengkomunikasikan ide melalui tulisan kepada subjek pembaca, meskipun dengan bahasa yang

sederhana, di dalamnya tetap mengandungi unsur komunikasi estetis yang dilahirkan dari

pengalaman estetis pula. Menulis dengan apa adanya, dapat dijadikan sebagai suatu pilihan

atau (katakan saja) teknik menulis.

Berlaku apa adanya tetap menjadi pilihan yang membutuhkan keberanian. Tulisan dengan gaya

yang biasa dan pemilihan kata yang lumrah akan mudah dipahami, karena subjek pembaca mudah

menangkap maksud penulisan yang akhirnya membuat tulisan itu akan mudah “dihakimi”. Jikalau

setelah kita menulis dengan jujur, lantas kita membacanya ulang, pasti, tulisan tadi justru

menggurui kita. Menggurui tentang banyak hal yang terkadang, maknanya sering subjek penulis

lupakan.

Menulis, seharusnya bisa mengajari kita mengenai keberanian dalam bersikap. Ketika kita

melihat adanya kesewenangan dan penindasan, lebih jauh lagi mengenai ketidak-adilan sosial

secara hukum dan lain sebagainya, kita pun harus berani bersikap. Meski akan membawa pada

kesengsaraan, karena tulisan yang dihasilkan dapat mengajari kita untuk mengatakan:

“TIDAK!” (Emha Ainun Najib, Sajak Luka Menganga dalam Sesobek Buku Harian Indonesia, hlm.

103-104).

Dengan keberanian itu, pun langsung teringat dengan film “Master and Commander” yang tokoh

utamanya Kapten Jack Aubrey (HMS Surprisse) ketika memburu Acheron kapal Prancis, Kapten

Jack mengatakan: “Whatever the cost!” dalam menjalankan tugasnya. Dan tugas seorang subjek

penulis: “berdiri dan bersaksi di pinggir” seperti yang diungkapkan Linus Suryadi dalam

sajaknya berjudul “Penyair” atau untuk “bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan”

seperti Almarhum Rendra dalam puisinya berjudul: “Nota Bene: Aku Kangen”?

    Inilah sajakku.
    Pamplet masa darurat.
    Apakah artinya kesenian,
    Bila terpisah dari derita lingkungan.
    Apakah artinya berpikir,
    Bila terpisah dari masalah kehidupan.
    (WS Rendra, Sajak Sebatang Lisong dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, hlm. 34)

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, Selasa Wage, 22 Maret 2011.
http://md-atmaja-id.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar