1. Introduksi
Deklamasi berasal dari bahasa Latin yang maksudnya declamare atau declaim yang membawa
makna membaca sesuatu hasil sastera yang berbentuk puisi dengan lagu atau gerak tubuh
sebagai alat bantu. Gerak yang dimaksudkan ialah gerak alat bantu yang puitis, yang seirama
dengan isi bacaan.
Umumnya memang deklamasi berkait rapat dengan puisi, akan tetapi membaca sebuah cerpen
dengan lagu atau gerak tubuh juga bisa dikatakan mendeklamasi. Mendeklamasikan puisi atau
cerpen bermakna membaca, tetapi membaca tidak sama dengan maksud mendeklamasi. Maksudnya di
sini bahawa apapun pengertian membaca tentunya jauh berbeda dengan maksud deklamasi.
2. Makna Kata Deklamasi
Sudah jelas deklamasi itu berasal dari bahasa asing, jadi maknanya ia bukan kata asli
Malaysia atau Indonesia. Ia sudah lama digunakan hingga menjadi bahasa Malaysia. Memang
keadaan semacam ini sering berlaku di Malaysia, misalnya kata neraka, izin, zaman, ajal,
karam dan lain-lain berasal dari bahasa Arab, sedang tauco, tauge berasal dari bahasa
Tionghua. Manakala dastar, kenduri, kelasi berasal dari bahasa Persi. Lampu, mesin, koki,
repot dari bahasa Belanda, manakala pensil, botol berasal dari bahasa Inggeris dan
demikianlah halnya deklamasi berasal dari bahasa Latin.
Di Indonesia perkataan deklamasi sudah ada lewat tahun 1950 dan di Malaysia hanya terkenal
sejak kebelakangan ini, tetapi sebelum itu disebut baca puisi dan adapun orang mulai
mendeklamasi puisi sudah sejak berpuluh tahun yang lalu, baik di Malaysia ataupun di luar
negeri. Deklamasi ertinya membawa puisi-puisi, sedang orang yang melakukan deklamasi itu
disebut "Deklamator" untuk lelaki dan "Deklamatris" untuk perempuan.
Apa bezanya deklamasi dan nyanyi? Menyanyi ialah melagukan suatu nyanyian dengan
menggunakan not-not do-re-mi atau not balok, sedang deklamasi ialah membawakan pantun-
pantun, syair, puisi atau sajak dengan menggunakan irama dan gaya yang baik. Disamping itu
kita mengenal pula: menari, melukis, memahat, sandiwara dan lain-lain. Semuanya itu
mempunyai cara-cara dan aturannya sendiri-sendiri.
3. Bahan Yang Dideklamasikan
Tentu saja tidak semua pantun, sajak atau puisi dapat dideklamasikan, malah cerpen dan
novel juga boleh dideklamasikan/soalnya kita harus memilih mana sajak, puisi, pantun-pantun
yang baik dan menarik untuk dideklamasikan.
Kala kita menyanyi biasanya memilih lagu-lagu yang dapat kita nyanyikan, seperti "Bintang
Kecil" atau lagu-lagu yang rentaknya keroncong dan lain-lain, pokoknya semua lagu yang
telah kita nyanyikan. Bagaimana kita akan menyanyi, kalau kita tidak dapat menyanyikan
sesuatu lagu?
Demikian pula halnya dengan deklamasi. Hanya saja kalau menyanyi itu harus mempelajari
not-notnya dahulu, sedang pada deklamasi harus dipelajari tanda-tanda atau aturan-aturannya
dahulu. Seperti telah kita terangkan di atas, yang dideklamasikan itu hanya yang berupa
pantun, syair, sajak atau puisi dalam bahasa Malaysia, tetapi sejak dulu orang pernah juga
mendeklamasikan puisi dalam bahasa daerah seperti bahasa Bajau, Kadazan, Murut, Brunei,
Iban atau Dusun dan di sini hanya diperkatakan dan dipelajari deklamasi dalam bahasa
Malaysia saja.
4. Cara Berdeklamasi
Seperti telah dijelaskan bahawa berdeklamasi itu membawakan pantun, syair dan sajak atau
puisi. Kemudian apakah cukup hanya asal membawakan sahaja? Tentu tidak! Berdeklamasi,
selain kita mengucapkan sesuatu, haruslah pula memenuhi syarat-syarat lainnya. Apakah
syarat-syarat itu? Sebelum kita berdeklamasi, kita harus memilih dulu pantun, syair, sajak
apa, yang rasanya baik untuk dideklamasikan. Terserah kepada keinginan masing-masing.
Yang penting pilihlah sajak atau puisi, pantun atau syair yang memiliki isi yang baik dan
bentuk yang indah dideklamasikan. Mengenai hal isi tentunya dapat minta nasihat, petunjuk
dan bimbingan daripada mereka yang lebih berpengalaman dan berpengetahuan atau ahli dalam
bidang deklamasi.
Kalau kita sudah memilih sebuah puisi misalnya, tentu saja boleh lebih dari sebuah. Hal ini
sering terjadi dalam sayembara yang dikira harus terdiri puisi wajib dan puisi pilihan.
Nah, sesudah itu, lalu apa lagi yang harus kita perbuat? Maka tidak boleh tidak harus
mentafsirnya terlebih dahulu.
5. Menafsir Puisi
Apakah puisi yang kita pilih itu berunsur kepahlawanan, keberanian, kesedihan, kemarahan,
kesenangan, pujian dan lain-lain? Kalau puisi yang kita pilih itu mengandung kepahlawanan,
keberanian dan kegagahan, maka kitapun harus mendeklamasikan puisi tersebut dengan perasaan
dan laku perbuatan, yang menunjukkan seorang pahlawan, seorang yang gagah berani. Kita
harus dapat melukiskan kepada orang lain, bagaimana kehebatan dan kegagahan kapal udara
itu. Bagaimana harus mngucapkan kata-kata yang seram dan menakutkan.
Sebaliknya kalau saja puisi yang kita pilih itu mengadung kesedihan, sewaktu kita
berdeklamasi haruslah betul-betul dalam suasana yang sedih dan memilukan, bahkan harus bisa
membuat orang menangis bagi orang yang mendengar dan melihat kita sedih, ketika
dideklamasikan menjadi sebuah puisi yang gembira, bersukaria atau sebaliknya. Tentu saja
hal-hal seperti itu harus dijaga benar-benar. Kerana itu, harus berhati-hati, teliti,
tenang dan sungguh-sungguh dalam menafsir sebuah puisi.
Bacalah seluruh puisi itu berulang-ulang sampai kita mengerti betul apa-apa yang dikandung
dan dimaksud oleh puisi tersebut. Juga kata-kata yang sukar dan tanda-tanda baca yang
kurang jelas harus difahami benar-benar, Jika sudah dimengerti dan diselami isi puisi itu,
barulah kita meningkat ke soal yang lebih lanjut.
6. Mempelajari Isi Untuk Mendeklamasi Puisi
Cara mengucapkan puisi itu tak boleh seenaknya saja, tapi harus tunduk kepada aturan-
aturannya: di mana harus ditekankan atau dipercepatkan, di mana harus dikeraskan, harus
berhenti, dimana harus dilambatkan atau dilunakkan, di mana harus diucapkan biasa dan
sebagainya. Jadi, bila kita mendeklamasikan puisi itu harus supaya menarik, maka harus
dipakai tanda-tanda tersendiri:
------- Diucapkan biasa saja
/ Berhenti sebentar untuk bernafas/biasanya pada koma atau di tengah baris
// Berhenti agak lama/biasanya koma di akhir baris yang masih berhubungan
ertinya dengan baris berikutnya
/// Berhenti lama sekali biasanya pada titik baris terakhir atau pada penghabis
san puisi
^ Suara perlahan sekali seperti berbisik
^^ Suara perlahan sahaja
^^^ Suara keras sekali seperti berteriak
V Tekanan kata pendek sekali
VV Tekanan kata agak pendek
VVV Tekan kata agak panjang
VVVV Tekan kata agak panjang sekali
____/ Tekanan suara meninggi
____ Tekanan suara agak merendah
\
Cara meletakkan tanda-tanda tersebut pada setiap kata masing-masing orang berbeda
tergantung kepada kemahuannya sendiri-sendiri. Dari sinilah kita dapat menilai: siapa orang
yang mahir dan pandai berdeklamasi.
Demikianlah, setelah tanda-tanda itu kita letakkan dengan baik dan dalam meletakkannya
jangan asal meletakkan saja, tapi harus memakai perasaan dan pertimbangan, seperti halnya
kalau kita membaca berita: ada koma, ada titik, tanda-tandanya, titik koma dan lain-lain.
Kalau tanda-tanda itu sudah diletakkan dengan baik, barulah kita baca puisi tersebut
berulang-ulang sesuai dengan irama dan aturan tanda itu. Dengan sendirinya kalau kita sudah
lancar benar, tekanan-tekanan, irama-irama dan gayanya takkan terlupa lagi selama kita
berdeklamasi.
7. Puisi Harus Dihafal
Mendeklamasi itu ialah membawakan puisi yang dihafal. Memang ada juga orang berdeklamasi
puisi di atas kertas saja. Cara seperti itu kurang enak kecuali jika untuk siaran pembacaan
puisi di radio atau rakaman. Tetapi deklamasi itu selalu saja didengar dan ditonton orang.
Mana mungkin para penonton akan senang, melihat kita berdeklamasi kalau muka kita tertunduk
melulu terus menerus kala mendeklamasikan puisi itu. Tentu saja membosankan bukan?
Makanya sebaik mungkin deklamator harus menghafal puisi yang mahu dideklamasi itu. Caranya
ulangilah puisi itu berkali-kali tanpa mempergunakan teks, sebab jika tidak demikian di
saat kita telah naik pentas, kata-kata dalam puisi itu tak teringat atau terputus-putus.
Betapa lucunya seorang deklamator, ketika dengan gaya yang sudah cukup menarik di atas
panggung, di muka penonton yang ramai, tiba-tiba ia lupa pada kalimat-kalimat dalam puisi.
Ia seperti terhenti, terpukau, mau bersuara tak tentu apa yang harus diucapkan. Mau
mengingat-ingat secara khusuk terlalu lama. Menyaksikan keadaan demikian itu sudah tentu
para penonton akan kecewa. Bagi sideklamator sendiri akan mendapat malu. Oleh kerana itu
dihafalkanlah puisi itu sebaik-baiknya sampai terasa lancar sekali. Setelah dirasakan
yakin, bahawa sebuah puisi telah sanggup dibaca di luar kepala, barulah berlatih
mempergunakan mimik atau "action"
Cara menghafal tentu saja dengan cara mengingatnya sebaris demi sebaris dan kemudian
serangkap demi serangkap disamping berusaha untuk mengerti setiap kata/ayat yang dicatatkan
kerana hal itu menjadi jelasnya maksud dan tujuan isi puisi itu.
8. Deklamasi Bukan Ucapan Semata
Deklamasi bukan ucapan semata. Deklamasi harus disertai gerak-gerak muka, kalau perlu
dengan gerak seluruh anggota badan atau seluruh tubuh, tetapi yang paling penting sekali
ialah gerak-gerak muka. Dengan ucapan-ucapan yang baik dan teratur, diserta dengan gerak
geri muka nescaya akan bertambah menarik, apa lagi kalau ditonton. Dari gerak geri muka itu
penonton dapat merasakan dan menyaksikan mengertikan puisi yang dideklamasikan itu. Apakah
puisi itu mengandung kesedihan, kemarahan, kegembiraan dan lain-lain.
Hanya saja dalam melakukan gerak geri itu jangan sampai berlebih-lebihan seperti wayang
orang yang bergerak ke sana ke mari, sehingga mengelikan sekali. Berdeklamasi secara wajar,
tertib dan mengesankan.
9. Cara Menghakimi
Untuk mudahnya bagi seorang deklamator/deklamatris melengkapi dirinya dalam mempersiapkan
kesempurnaan berdeklamasi, maka seorang calon harus mengetahui pula hal-hal yang menjadi
penilaian hakim dalam suatu sayembara deklamasi. Yang menjadi penilaian hakim terhadap
pembawa puisi atau deklamator meliputi bidang-bidang seperti berikut:
A. Penampilan/Performance
Sewaktu pembawa puisi itu muncul di atas pentas, haruslah diperhatikan lebih dahulu hal
pakaian yang dikenakannya. Kerapian memakai pakaian, keserasian warna dan sebagainya akan
menambahkan angka bagi si pembawa puisi. Tentu saja penilaian pakaian ini bukan terletak
pada segi mewah tidaknya pakaian itu, tetapi dalam hal kepantasan serta keserasiannya.
Kerana itu, perhatikanlah pakaian lebih dahulu sebelum tampil di atas pentas. Hindarikan
diri dari kecerobohan serta ketidakrapian berdandan.
B. Intonasi/Tekanan Kata Demi Kata
Baris demi baris dalam puisi, sudah tentu tidak sama cara memberikan tekanannya. Ini
bergantung kepada kesanggupan dipembawa puisi menafsirkan tiap-tiap kata dalam hubungannya
dengan kata lainnya. Sehingga ia menimbulkan suatu pengungkapan isi kalimat yang tepat.
Kesanggupan sipembawa puisi memberikan tekanan-tekanan yang sesuai pada tiap kata yang
menciptakan lagi kalimat pada baris-baris puisi, akan memudahkan mencapai angka tertinggi
dalam segi intonasi.
C. Ekspresi/Kesan Wajah
Kemampuan sipembawa puisi dalam menemukan erti dan tafsiran yang tepat dari kata demi kata
pada tiap baris kemudian pada kelompok bait demi bait puisi akan terlihat pada kesan air
muka atau wajahnya sendiri. Ada kalanya seorang pembawa puisi tidak menghayati isi dan jiwa
tiap baris puisi dalam sebuah bait, sehingga antara kalimat yang diucapkan dan airmuka yang
diperlihatkan tampak saling bertentangan.
Jadi, penghayatan itu sangat penting dan ia harus dipancarkan pada sinar wajah si pembawa
puisi. Misalnya sebuah bait dalam puisi yang bernada sedih haruslah digambarkan oleh
sipembawa puisi itu melalui airmukanya yang sedih dan bermuram durja.
D. Apresiasi/Pengertian Puisi
Seorang pembawa puisi akan dinilai mempunyai pengertian terhadap sesuatu puisi, manakala ia
sanggup mengucapkan kata demi kata pada tiap baris puisi disertai kesan yang terlihat pada
airmukanya. Jika tidak berhasil, dikatakannya sipembawa puisi itu belum mempunyai apresiasi
atau apresiasinya terhadap puisi itu agak kurang. Dalam istilah umumnya apresiasi
diterjemah lebih jauh lagi sebagai penghayatan.
Seorang pendeklamator yang baik/ia harus menghayati makna dan isi puisi yang mahu
dideklamasikan dan tanpa menghayatinya, maka sudah tentu persembahannya bakal hambar, lesu
dan tak bertenaga.
E. Mimik/Action
Mimik atau action dalam sebuah deklamasi puisi sangat besar pengaruhnya terhadap
pembentukan suasana pembacaan puisi. Seorang pembawa puisi yang berhasil ia akan mengemukan
sesuatu action atau mimik itu sesuai dengan perkembangan kata demi kata dalam tiap baris
dan tidak bertentangan dengan jiwa dan isi kata-kata kalimat dalam puisi.
Terjadinya kontradiksi antara apresiasi dan action menimbulkan kesan yang mungkin bisa
menjadi bahan tertawaan penonton, Hal ini harus dipelajari sebaik-baiknya oleh sipembawa
puisi. Tanpa hal itu, ia tak mungkin bisa mndapatkan angka terbaik dalam pembawaan puisi.
Sebagi contoh: ketika dipembawa sajak menyebut "dilangit tinggi ada bulan" tetapi mimik
kedua belah tangan menjurus ke bumi, Hal ini akan menimbulkan bahan tertawaan bagi
penonton, mana mungkin ada bulan di bumi, tentu hal itu tidak mungkin sama sekali.
Betapapun bulan selalu ada di langit. Inilah yang dimaksud betapa pentingnya pembawa sajak
menguasai apresiasi puisi, sehingga dapat menciptakan mimik yang sesuai dengan keadaan isi
dan jiwa puisi itu.
F. Tatatertib
Untuk menambahkan lebih sempurna lagi bagi pengetahuan seorang deklamator atau deklamatris,
maka dibawa ini kita kemukakan beberapa tatatertib berdekmalasi:
F.1 Berdirilah baik-baik di atas pentas yang telah tersedia
F.2 Pakaian harus menimbulkan kesan yang menarik dan menyenangkan
F.3 Menghadap kepada penonton, memandang ke sekeliling dengan airmuka yang berseri-seri,
lalu memberi salam kepada hadirin dengan hormat, Dengan jalan menganggukkan kepala.
F.4 Bacalah jodol puisi dan sebut nama penulisnya dengan suara yang jelas/tepat dengan nada
suara yang wajar
F.5 Berhenti beberapa detik, menyiapkan nafas, lalu mulailah pembacaan deklamasi itu
sebaris demi sebaris, bait demi bait.
F.6 Selama pembacaan puisi, perhatian harus tercurah kepada puisi itu sendiri dan jangan
tergoda oleh hiruk pikuk suara atau bunyi lain terutama sekali penonton.
F.7 Ketika pembacaan puisi itu selesai, berhentilah beberapa saat, melepaskan nafas, lalu
menghormati penonton dan kepada para hakim.
F.8 Biasakanlah dengan sikap yang tenang dan wajar ketika meninggalkan pentas dan tidak
usah tergesa-gesa.
10. Harapan Dan Anjuran
Sesuai dengan pembangunan yang berencana di bidang pendidikan dan pengajaran, maka
pelajaran deklamasi itu mendapat tempat dan sambutan yang baik di kalangan murid-murid
sekolah dan orang awam, guru-guru dan masyarakat Malaysia. Sebab pelajaran deklamasi amat
penting sekali dan tentu saja diharapkan sangat deklamasi terus mendapat perhatian yang
besar.
Murid sekolah sangat-sangat memerlukan bimbingan dan petunjuk dari guru yang berkebolehan,
apa lagi dengan adanya acara hari kemerdekaan, hari guru, hari ibu dan sebagainya dan
dengan bantuan dari mereka yang berkebolehan, maka sudah tentu bidang deklamasi ini akan
lebih hebat lagi dan sekaligus akan dapat membentuk manusia Malaysia yang baik, berjiwa
besar dan punya semangat yang kuat untuk mempertahankan maruah bangsa sejaga
Sumber: http://clubbing.kapanlagi.com/
Deklamasi berasal dari bahasa Latin yang maksudnya declamare atau declaim yang membawa
makna membaca sesuatu hasil sastera yang berbentuk puisi dengan lagu atau gerak tubuh
sebagai alat bantu. Gerak yang dimaksudkan ialah gerak alat bantu yang puitis, yang seirama
dengan isi bacaan.
Umumnya memang deklamasi berkait rapat dengan puisi, akan tetapi membaca sebuah cerpen
dengan lagu atau gerak tubuh juga bisa dikatakan mendeklamasi. Mendeklamasikan puisi atau
cerpen bermakna membaca, tetapi membaca tidak sama dengan maksud mendeklamasi. Maksudnya di
sini bahawa apapun pengertian membaca tentunya jauh berbeda dengan maksud deklamasi.
2. Makna Kata Deklamasi
Sudah jelas deklamasi itu berasal dari bahasa asing, jadi maknanya ia bukan kata asli
Malaysia atau Indonesia. Ia sudah lama digunakan hingga menjadi bahasa Malaysia. Memang
keadaan semacam ini sering berlaku di Malaysia, misalnya kata neraka, izin, zaman, ajal,
karam dan lain-lain berasal dari bahasa Arab, sedang tauco, tauge berasal dari bahasa
Tionghua. Manakala dastar, kenduri, kelasi berasal dari bahasa Persi. Lampu, mesin, koki,
repot dari bahasa Belanda, manakala pensil, botol berasal dari bahasa Inggeris dan
demikianlah halnya deklamasi berasal dari bahasa Latin.
Di Indonesia perkataan deklamasi sudah ada lewat tahun 1950 dan di Malaysia hanya terkenal
sejak kebelakangan ini, tetapi sebelum itu disebut baca puisi dan adapun orang mulai
mendeklamasi puisi sudah sejak berpuluh tahun yang lalu, baik di Malaysia ataupun di luar
negeri. Deklamasi ertinya membawa puisi-puisi, sedang orang yang melakukan deklamasi itu
disebut "Deklamator" untuk lelaki dan "Deklamatris" untuk perempuan.
Apa bezanya deklamasi dan nyanyi? Menyanyi ialah melagukan suatu nyanyian dengan
menggunakan not-not do-re-mi atau not balok, sedang deklamasi ialah membawakan pantun-
pantun, syair, puisi atau sajak dengan menggunakan irama dan gaya yang baik. Disamping itu
kita mengenal pula: menari, melukis, memahat, sandiwara dan lain-lain. Semuanya itu
mempunyai cara-cara dan aturannya sendiri-sendiri.
3. Bahan Yang Dideklamasikan
Tentu saja tidak semua pantun, sajak atau puisi dapat dideklamasikan, malah cerpen dan
novel juga boleh dideklamasikan/soalnya kita harus memilih mana sajak, puisi, pantun-pantun
yang baik dan menarik untuk dideklamasikan.
Kala kita menyanyi biasanya memilih lagu-lagu yang dapat kita nyanyikan, seperti "Bintang
Kecil" atau lagu-lagu yang rentaknya keroncong dan lain-lain, pokoknya semua lagu yang
telah kita nyanyikan. Bagaimana kita akan menyanyi, kalau kita tidak dapat menyanyikan
sesuatu lagu?
Demikian pula halnya dengan deklamasi. Hanya saja kalau menyanyi itu harus mempelajari
not-notnya dahulu, sedang pada deklamasi harus dipelajari tanda-tanda atau aturan-aturannya
dahulu. Seperti telah kita terangkan di atas, yang dideklamasikan itu hanya yang berupa
pantun, syair, sajak atau puisi dalam bahasa Malaysia, tetapi sejak dulu orang pernah juga
mendeklamasikan puisi dalam bahasa daerah seperti bahasa Bajau, Kadazan, Murut, Brunei,
Iban atau Dusun dan di sini hanya diperkatakan dan dipelajari deklamasi dalam bahasa
Malaysia saja.
4. Cara Berdeklamasi
Seperti telah dijelaskan bahawa berdeklamasi itu membawakan pantun, syair dan sajak atau
puisi. Kemudian apakah cukup hanya asal membawakan sahaja? Tentu tidak! Berdeklamasi,
selain kita mengucapkan sesuatu, haruslah pula memenuhi syarat-syarat lainnya. Apakah
syarat-syarat itu? Sebelum kita berdeklamasi, kita harus memilih dulu pantun, syair, sajak
apa, yang rasanya baik untuk dideklamasikan. Terserah kepada keinginan masing-masing.
Yang penting pilihlah sajak atau puisi, pantun atau syair yang memiliki isi yang baik dan
bentuk yang indah dideklamasikan. Mengenai hal isi tentunya dapat minta nasihat, petunjuk
dan bimbingan daripada mereka yang lebih berpengalaman dan berpengetahuan atau ahli dalam
bidang deklamasi.
Kalau kita sudah memilih sebuah puisi misalnya, tentu saja boleh lebih dari sebuah. Hal ini
sering terjadi dalam sayembara yang dikira harus terdiri puisi wajib dan puisi pilihan.
Nah, sesudah itu, lalu apa lagi yang harus kita perbuat? Maka tidak boleh tidak harus
mentafsirnya terlebih dahulu.
5. Menafsir Puisi
Apakah puisi yang kita pilih itu berunsur kepahlawanan, keberanian, kesedihan, kemarahan,
kesenangan, pujian dan lain-lain? Kalau puisi yang kita pilih itu mengandung kepahlawanan,
keberanian dan kegagahan, maka kitapun harus mendeklamasikan puisi tersebut dengan perasaan
dan laku perbuatan, yang menunjukkan seorang pahlawan, seorang yang gagah berani. Kita
harus dapat melukiskan kepada orang lain, bagaimana kehebatan dan kegagahan kapal udara
itu. Bagaimana harus mngucapkan kata-kata yang seram dan menakutkan.
Sebaliknya kalau saja puisi yang kita pilih itu mengadung kesedihan, sewaktu kita
berdeklamasi haruslah betul-betul dalam suasana yang sedih dan memilukan, bahkan harus bisa
membuat orang menangis bagi orang yang mendengar dan melihat kita sedih, ketika
dideklamasikan menjadi sebuah puisi yang gembira, bersukaria atau sebaliknya. Tentu saja
hal-hal seperti itu harus dijaga benar-benar. Kerana itu, harus berhati-hati, teliti,
tenang dan sungguh-sungguh dalam menafsir sebuah puisi.
Bacalah seluruh puisi itu berulang-ulang sampai kita mengerti betul apa-apa yang dikandung
dan dimaksud oleh puisi tersebut. Juga kata-kata yang sukar dan tanda-tanda baca yang
kurang jelas harus difahami benar-benar, Jika sudah dimengerti dan diselami isi puisi itu,
barulah kita meningkat ke soal yang lebih lanjut.
6. Mempelajari Isi Untuk Mendeklamasi Puisi
Cara mengucapkan puisi itu tak boleh seenaknya saja, tapi harus tunduk kepada aturan-
aturannya: di mana harus ditekankan atau dipercepatkan, di mana harus dikeraskan, harus
berhenti, dimana harus dilambatkan atau dilunakkan, di mana harus diucapkan biasa dan
sebagainya. Jadi, bila kita mendeklamasikan puisi itu harus supaya menarik, maka harus
dipakai tanda-tanda tersendiri:
------- Diucapkan biasa saja
/ Berhenti sebentar untuk bernafas/biasanya pada koma atau di tengah baris
// Berhenti agak lama/biasanya koma di akhir baris yang masih berhubungan
ertinya dengan baris berikutnya
/// Berhenti lama sekali biasanya pada titik baris terakhir atau pada penghabis
san puisi
^ Suara perlahan sekali seperti berbisik
^^ Suara perlahan sahaja
^^^ Suara keras sekali seperti berteriak
V Tekanan kata pendek sekali
VV Tekanan kata agak pendek
VVV Tekan kata agak panjang
VVVV Tekan kata agak panjang sekali
____/ Tekanan suara meninggi
____ Tekanan suara agak merendah
\
Cara meletakkan tanda-tanda tersebut pada setiap kata masing-masing orang berbeda
tergantung kepada kemahuannya sendiri-sendiri. Dari sinilah kita dapat menilai: siapa orang
yang mahir dan pandai berdeklamasi.
Demikianlah, setelah tanda-tanda itu kita letakkan dengan baik dan dalam meletakkannya
jangan asal meletakkan saja, tapi harus memakai perasaan dan pertimbangan, seperti halnya
kalau kita membaca berita: ada koma, ada titik, tanda-tandanya, titik koma dan lain-lain.
Kalau tanda-tanda itu sudah diletakkan dengan baik, barulah kita baca puisi tersebut
berulang-ulang sesuai dengan irama dan aturan tanda itu. Dengan sendirinya kalau kita sudah
lancar benar, tekanan-tekanan, irama-irama dan gayanya takkan terlupa lagi selama kita
berdeklamasi.
7. Puisi Harus Dihafal
Mendeklamasi itu ialah membawakan puisi yang dihafal. Memang ada juga orang berdeklamasi
puisi di atas kertas saja. Cara seperti itu kurang enak kecuali jika untuk siaran pembacaan
puisi di radio atau rakaman. Tetapi deklamasi itu selalu saja didengar dan ditonton orang.
Mana mungkin para penonton akan senang, melihat kita berdeklamasi kalau muka kita tertunduk
melulu terus menerus kala mendeklamasikan puisi itu. Tentu saja membosankan bukan?
Makanya sebaik mungkin deklamator harus menghafal puisi yang mahu dideklamasi itu. Caranya
ulangilah puisi itu berkali-kali tanpa mempergunakan teks, sebab jika tidak demikian di
saat kita telah naik pentas, kata-kata dalam puisi itu tak teringat atau terputus-putus.
Betapa lucunya seorang deklamator, ketika dengan gaya yang sudah cukup menarik di atas
panggung, di muka penonton yang ramai, tiba-tiba ia lupa pada kalimat-kalimat dalam puisi.
Ia seperti terhenti, terpukau, mau bersuara tak tentu apa yang harus diucapkan. Mau
mengingat-ingat secara khusuk terlalu lama. Menyaksikan keadaan demikian itu sudah tentu
para penonton akan kecewa. Bagi sideklamator sendiri akan mendapat malu. Oleh kerana itu
dihafalkanlah puisi itu sebaik-baiknya sampai terasa lancar sekali. Setelah dirasakan
yakin, bahawa sebuah puisi telah sanggup dibaca di luar kepala, barulah berlatih
mempergunakan mimik atau "action"
Cara menghafal tentu saja dengan cara mengingatnya sebaris demi sebaris dan kemudian
serangkap demi serangkap disamping berusaha untuk mengerti setiap kata/ayat yang dicatatkan
kerana hal itu menjadi jelasnya maksud dan tujuan isi puisi itu.
8. Deklamasi Bukan Ucapan Semata
Deklamasi bukan ucapan semata. Deklamasi harus disertai gerak-gerak muka, kalau perlu
dengan gerak seluruh anggota badan atau seluruh tubuh, tetapi yang paling penting sekali
ialah gerak-gerak muka. Dengan ucapan-ucapan yang baik dan teratur, diserta dengan gerak
geri muka nescaya akan bertambah menarik, apa lagi kalau ditonton. Dari gerak geri muka itu
penonton dapat merasakan dan menyaksikan mengertikan puisi yang dideklamasikan itu. Apakah
puisi itu mengandung kesedihan, kemarahan, kegembiraan dan lain-lain.
Hanya saja dalam melakukan gerak geri itu jangan sampai berlebih-lebihan seperti wayang
orang yang bergerak ke sana ke mari, sehingga mengelikan sekali. Berdeklamasi secara wajar,
tertib dan mengesankan.
9. Cara Menghakimi
Untuk mudahnya bagi seorang deklamator/deklamatris melengkapi dirinya dalam mempersiapkan
kesempurnaan berdeklamasi, maka seorang calon harus mengetahui pula hal-hal yang menjadi
penilaian hakim dalam suatu sayembara deklamasi. Yang menjadi penilaian hakim terhadap
pembawa puisi atau deklamator meliputi bidang-bidang seperti berikut:
A. Penampilan/Performance
Sewaktu pembawa puisi itu muncul di atas pentas, haruslah diperhatikan lebih dahulu hal
pakaian yang dikenakannya. Kerapian memakai pakaian, keserasian warna dan sebagainya akan
menambahkan angka bagi si pembawa puisi. Tentu saja penilaian pakaian ini bukan terletak
pada segi mewah tidaknya pakaian itu, tetapi dalam hal kepantasan serta keserasiannya.
Kerana itu, perhatikanlah pakaian lebih dahulu sebelum tampil di atas pentas. Hindarikan
diri dari kecerobohan serta ketidakrapian berdandan.
B. Intonasi/Tekanan Kata Demi Kata
Baris demi baris dalam puisi, sudah tentu tidak sama cara memberikan tekanannya. Ini
bergantung kepada kesanggupan dipembawa puisi menafsirkan tiap-tiap kata dalam hubungannya
dengan kata lainnya. Sehingga ia menimbulkan suatu pengungkapan isi kalimat yang tepat.
Kesanggupan sipembawa puisi memberikan tekanan-tekanan yang sesuai pada tiap kata yang
menciptakan lagi kalimat pada baris-baris puisi, akan memudahkan mencapai angka tertinggi
dalam segi intonasi.
C. Ekspresi/Kesan Wajah
Kemampuan sipembawa puisi dalam menemukan erti dan tafsiran yang tepat dari kata demi kata
pada tiap baris kemudian pada kelompok bait demi bait puisi akan terlihat pada kesan air
muka atau wajahnya sendiri. Ada kalanya seorang pembawa puisi tidak menghayati isi dan jiwa
tiap baris puisi dalam sebuah bait, sehingga antara kalimat yang diucapkan dan airmuka yang
diperlihatkan tampak saling bertentangan.
Jadi, penghayatan itu sangat penting dan ia harus dipancarkan pada sinar wajah si pembawa
puisi. Misalnya sebuah bait dalam puisi yang bernada sedih haruslah digambarkan oleh
sipembawa puisi itu melalui airmukanya yang sedih dan bermuram durja.
D. Apresiasi/Pengertian Puisi
Seorang pembawa puisi akan dinilai mempunyai pengertian terhadap sesuatu puisi, manakala ia
sanggup mengucapkan kata demi kata pada tiap baris puisi disertai kesan yang terlihat pada
airmukanya. Jika tidak berhasil, dikatakannya sipembawa puisi itu belum mempunyai apresiasi
atau apresiasinya terhadap puisi itu agak kurang. Dalam istilah umumnya apresiasi
diterjemah lebih jauh lagi sebagai penghayatan.
Seorang pendeklamator yang baik/ia harus menghayati makna dan isi puisi yang mahu
dideklamasikan dan tanpa menghayatinya, maka sudah tentu persembahannya bakal hambar, lesu
dan tak bertenaga.
E. Mimik/Action
Mimik atau action dalam sebuah deklamasi puisi sangat besar pengaruhnya terhadap
pembentukan suasana pembacaan puisi. Seorang pembawa puisi yang berhasil ia akan mengemukan
sesuatu action atau mimik itu sesuai dengan perkembangan kata demi kata dalam tiap baris
dan tidak bertentangan dengan jiwa dan isi kata-kata kalimat dalam puisi.
Terjadinya kontradiksi antara apresiasi dan action menimbulkan kesan yang mungkin bisa
menjadi bahan tertawaan penonton, Hal ini harus dipelajari sebaik-baiknya oleh sipembawa
puisi. Tanpa hal itu, ia tak mungkin bisa mndapatkan angka terbaik dalam pembawaan puisi.
Sebagi contoh: ketika dipembawa sajak menyebut "dilangit tinggi ada bulan" tetapi mimik
kedua belah tangan menjurus ke bumi, Hal ini akan menimbulkan bahan tertawaan bagi
penonton, mana mungkin ada bulan di bumi, tentu hal itu tidak mungkin sama sekali.
Betapapun bulan selalu ada di langit. Inilah yang dimaksud betapa pentingnya pembawa sajak
menguasai apresiasi puisi, sehingga dapat menciptakan mimik yang sesuai dengan keadaan isi
dan jiwa puisi itu.
F. Tatatertib
Untuk menambahkan lebih sempurna lagi bagi pengetahuan seorang deklamator atau deklamatris,
maka dibawa ini kita kemukakan beberapa tatatertib berdekmalasi:
F.1 Berdirilah baik-baik di atas pentas yang telah tersedia
F.2 Pakaian harus menimbulkan kesan yang menarik dan menyenangkan
F.3 Menghadap kepada penonton, memandang ke sekeliling dengan airmuka yang berseri-seri,
lalu memberi salam kepada hadirin dengan hormat, Dengan jalan menganggukkan kepala.
F.4 Bacalah jodol puisi dan sebut nama penulisnya dengan suara yang jelas/tepat dengan nada
suara yang wajar
F.5 Berhenti beberapa detik, menyiapkan nafas, lalu mulailah pembacaan deklamasi itu
sebaris demi sebaris, bait demi bait.
F.6 Selama pembacaan puisi, perhatian harus tercurah kepada puisi itu sendiri dan jangan
tergoda oleh hiruk pikuk suara atau bunyi lain terutama sekali penonton.
F.7 Ketika pembacaan puisi itu selesai, berhentilah beberapa saat, melepaskan nafas, lalu
menghormati penonton dan kepada para hakim.
F.8 Biasakanlah dengan sikap yang tenang dan wajar ketika meninggalkan pentas dan tidak
usah tergesa-gesa.
10. Harapan Dan Anjuran
Sesuai dengan pembangunan yang berencana di bidang pendidikan dan pengajaran, maka
pelajaran deklamasi itu mendapat tempat dan sambutan yang baik di kalangan murid-murid
sekolah dan orang awam, guru-guru dan masyarakat Malaysia. Sebab pelajaran deklamasi amat
penting sekali dan tentu saja diharapkan sangat deklamasi terus mendapat perhatian yang
besar.
Murid sekolah sangat-sangat memerlukan bimbingan dan petunjuk dari guru yang berkebolehan,
apa lagi dengan adanya acara hari kemerdekaan, hari guru, hari ibu dan sebagainya dan
dengan bantuan dari mereka yang berkebolehan, maka sudah tentu bidang deklamasi ini akan
lebih hebat lagi dan sekaligus akan dapat membentuk manusia Malaysia yang baik, berjiwa
besar dan punya semangat yang kuat untuk mempertahankan maruah bangsa sejaga
Sumber: http://clubbing.kapanlagi.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar