Halaman

Senin, 30 Mei 2011

Mengolah Pengalaman Sebuah Proses Dalam Menulis Puisi

Oleh Soni Farid Maulana

Dalam tubuhku ini
kunanti hal
yang serba mungkin

MENELUSURI proses kreatif penulisan puisi sama asyiknya dengan menulis puisi itu sendiri.

Setiap penyair jika ditanya soal ini, yakni ditanya soal apa dan bagaimana menulis puisi,

maka ia akan menjawab pertanyaan tersebut dengan cara pandangnya masing-masing, yang khas,

yang satu sama lainnya berbeda. Namun demikian secara esensial jawaban dari pertanyaan

tersebut; pasti mengarah pada inti yang sama, bahwa menulis puisi pada dasarnya merupakan

medan ekspresi dari bayang-bayang pengalaman. Dan apa yang dimaksud dengan bayang-bayang

pengalaman atau mengolah pengalaman sebagai sumber penciptaan puisi itu. meski secara

ringkas sudah diuraikan pada halaman sebelumnya.

Uraian di bawah ini, merupakan satu sisi dari sekian banyak model penulisan puisi, yang

secara teknis bisa dipelajari oleh siapa pun yang berminat menekuni dunia tulis-menulis

puisi. Sedangkan mengenai isi dan kualitas puisi, sekali lagi, semua itu sangat bergantung

kepada intensitas penghayatan sang penyair terhadap berbagai pengalaman hidup yang menarik

perhatiannya. Di samping itu, tentu saja, sangat bergantung pula pada seberapa jauh sang

penyair menguasai bahasa dan kosa kata yang dipakainya sebagai alat untuk berekspresi

maupun berkomunikasi dari apa yang ditulisnya itu.

Berkaitan dengan hal tersebut, sekalipun teknis penulisan puisi bisa dipelajari, nyatanya

menulis puisi tidak gampang. Apa sebab? Pertama si penyair harus peka terhadap keadaan

jiwanya dan perasaannya, termasuk peka terhadap seluruh pengalaman hidupnya, baik yang

bersifat fisik maupun metafisik. Yang dimaksud peka dengan pengalaman yang bersifat fisik

itu, misalnya si fulan dengan tangannya sendiri memangkas setangkai bunga mawar, atau

dengan matanya sendiri melihat secara nyata tukang becak ditabrak mobil, atau ia ditinggal

pergi oleh kekasih tercinta, yang dibawa lari oleh orang lain. Sedangkan yang dimaksud

dengan pengalaman metafisik adalah sebuah pengalaman nonragawi, seperti rindu pada kekasih

yang jauh, berasyik-masyuk dengan diri-Nya, mengalami dicabut maut dalam mimpi, dan

sebagainya.

Untuk itu, mengasah kepekaan terhadap apa yang dialami baik secara fisik maupun metafisik

menjadi penting, karena hal itu akan memperlancar daya kreatif seorang penyair dalam

menulis puisi-puisinya. Di samping itu hal tersebut akan pula menjelma “bank naskah

pengalaman,” yang kelak tiada habisnya digali sebagai sumber penciptaan puisi. Berkaitan

dengan itu jelas sudah, bahwa menulis puisi tidak bisa lahir dari “ruang batin yang

kosong,” dari sesuatu yang tidak dialami baik secara fisik maupun metafisik.

Jika menulis puisi berangkat dari “ruang batin yang kosong,” maka apa yang ditulisnya itu

akan terasa tanpa greget, dan bahkan hampa dari makna. Lain halnya bila apa yang kita

ekspresikan itu bersumber dari pengalaman, maka rasa dari setiap kata yang kita ekspresikan

dalam larik-larik puisi yang kita tulis itu akan hadir dengan sendirinya. Karena itu tak

aneh kalau penyair Sitor Situmorang berkata lebih lanjut, bahwa:

dalam tubuhku ini
kunanti hal
yang serba mungkin.

Hal yang serba mungkin akan hadir dalam puisi yang kita tulis, bila kita mengalami sesuatu

yang menggerakkan daya imajinasi 6 kita untuk berproses kreatif. Di samping itu, selain

peka terhadap hal-hal yang demikian, harus pula peka terhadap rasa kata yang terdapat dalam

bahasa yang kita gunakan sebagai kendaraan utama dalam berproses kreatif menulis puisi.

Jika kita tidak menguasai bahasa dan kosa kata dengan baik, maka sangat mustahil kita akan

bisa mengekspresikan pengalaman tersebut dalam bentuk puisi yang kita tulis.

Peka terhadap pengalaman itu artinya peka terhadap suasana. Bagaimana mungkin kita akan

bisa mengekspresikan suasana di sekitar kita, di hati dan pikiran kita dengan baik, kalau

penguasaan kita terhadap bahasa dan kosa kata tidak pada tempatnya? Hidup dan matinya

sebuah puisi, antara lain terletak pada penguasaan bahasa, kosa kata, dan juga pengalaman

hidup yang dikenali betul oleh sang penyair hingga ke sudut-sudutnya yang paling gelap,

meski benar bahwa ketika seorang penyair menulis puisi, ia tidak harus mengangkat seluruh

sudut pengalaman yang dikenalinya untuk diekspresikan dalam satu lembar kertas. Yang

ditulisnya, pastilah sebuah sudut yang paling menggoda hati dan pikirannya saja.

Lepas dari itu, dari segi isi, unsur-unsur yang terkandung dalam puisi sebagaimana

dikatakan I. A, Richards dalam bukunya yang terkenal itu, The Rose of Poetry 7 terdiri dari

unsur-unsur perasaan (feeling), tema (sense), amanat (intention), dan nada (tone). Tiga

unsur tadi adalah unsur-unsur dalaman (jeroan) puisi. Selain menguasai tiga unsur tersebut,

tentu saja kita harus menguasai bahasa dan kota kata dengan baik. Penguasaan tersebut

menjadi penting diperhatikan karena ia adalah alat untuk mengomunikasikan bayang-bayang

pengalaman yang hendak kita ekspresikan dalam menulis puisi. Di dalam memilih kata-kata

(diksi) yang akan kita tulis itu, kelak kita akan berhadapan dengan kata-kata yang

berirama, yang menghasilkan rima dan ritma. I.A. Richards menyebutnya rhyme and rhytm.

Hadirnya rima dan ritma dalam larik-larik puisi itu antara lain bisa juga dibangun lewat

penggunaan bahasa figuratif (figurative languange) yang salah satu fungsinya antara lain

untuk menegaskan atau mengkonkretkan bayang-bayang pengalaman yang dimaksud -- sehingga si

apresiator bisa menikmati amanat (intention) dan keindahan puisi yang ditulis oleh seorang

penyair. Berkait dengan itu, pentingnya unsur bunyi dalam struktur puisi, karena hal itu

akan turut membangun makna puisi secara keseluruhan. Ini berarti puisi tidak hanya dibangun

oleh serangkai kosa kata dan gramatikal yang melahirkan pesan. Akan tetapi dibangun pula

oleh unsur-unsur estetik bunyi dari rangkaian vokal dan konsonan yang berlagu dan berirama,

yang adakalanya disebut rima dan ritma dalam puisi.

Tadi disebutkan bahwa sumber penciptaan puisi adalah pengalaman yang bermuara pada

kehidupan, baik yang dialami secara konkret (fisik) maupun meta fisik.. Berkaitan dengan

itu, seorang penyair dalam mengasah kepekaannya terhadap pengalaman pribadinya maupun

denyut kehidupan itu sendiri, jangan hanya memperhatikan hal-hal yang besar saja, hal-hal

yang kecil pun, yang dianggap remeh oleh orang lain harus pula diperhatikan.

Apa sebab? Karena di dalam pengalaman yang dikira remeh itu, sering terdapat makna tak

terduga. Misalnya, pada suatu hari kita memperhatikan dengan baik tentang sekuntum mawar

yang dipangkas orang secara paksa dari tangkainya. Apa yang terjadi peristiwa tersebut?

Jelas, mawar yang dipangkas orang dari tangkainya itu akan layu. Demikian pula bila kita

memperhatikan uap es dalam kulkas. Pengalaman tersebut memberikan sebuah gambaran baru yang

bisa dirasakan secara konkret, bahwa tingkat kedinginan antara air di bak mandi dengan uap

es dalam kulkas jelas berbeda.

Uraian di atas yang dipetik dari pengalaman konkret itu, tampaknya memang sepele. Lalu apa

hubungannya dengan penulisan puisi dari dua kejadian yang kita alami secara nyata itu?

Tentu saja ada. Secara tidak langsung bila kita memperhatikan hal yang demikian dengan

cermat, maka hal itu diam-diam menjelma “bank naskah pengalaman” di dalam hati dan pikiran

kita. Jelasnya, hal itu akan sangat berguna bila dalam puisi yang kita tulis harus

menggunakan bahasa figuratif, yang fungsinya antara lain untuk mengkonkretkan pengalaman

yang dirasa abstrak bentuk dan rupanya.

Misalnya, pada suatu hari, kita putus cinta. Kekasih kita dibawa lari oleh orang lain. Kita

ingin puisi yang kita tulis itu mampu menggambarkan rasa murung di dalam hati kita tanpa

sedikitpun menggunakan pilihan kata yang berbunyi murung.. Adakah hal tersebut bisa

dilakukan? Jawabnya tentu saja bisa, yakni dengan menggunakan bahasa figuratif . Tadi

disebutkan bahwa dalam “bank naskah penglaman” yang ada di dalam kepala dan hati kita itu;

kita pernah pada suatu hari mengalami secara kongkret melihat setangkai mawar dipangkas

orang secara paksa dari tangkainya, atau kita pernah melakukan hal itu.

Bagi seorang penyair kreatif, ia tentunya akan memanfaatkan pengalaman tersebut untuk

melukiskan perasaan cintanya yang pahit dan getir itu, setelah ia memahami semuanya dari

sisi mana rasa luka dan rasa yang murung itu akan diekspresikannya dalam bentuk puisi.

Seketika, setelah semuanya jelas, daya imajinasi dalam kepalanya segera bergerak,

menyeleksi sekian diksi yang dikenalnya dengan akrab, dan juga dipahami maknanya secara

jelas.. Dari sekian diksi yang dipilihnya itu, terbentuk larik-larik puisi, seperti ini:


sejak kau pergi dari sisiku, cintaku,
jiwaku seperti setangkai mawar
dipangkas orang dari pangkalnya

Tiga larik puisi tersebut, dengan tegas dan jelas segera menginformasikan sebuah pengalaman

pada kita, yakni informasi tentang perasaan si aku lirik yang murung dan layu ditinggalkan

kekasihnya yang diibaratkan atau diandaikan dengan setangkai mawar yang dipangkas orang

dari pangkalnya. Bukan hanya perasaan murung dan layu yang hadir dalam tiga larik puisi

tersebut, tetapi juga perasaan sakit yang amat sangat, yang mengendap di hati si aku lirik.

Rasa sakit, layu, dan murung itu memang tidak tersurat dalam tiga larik puisi tersebut,

akan tetapi tersirat. Itulah yang dimaksud dengan salah satu bentuk dari bahasa figuratif

dalam puisi, dan ia tidak mesti hadir dalam seluruh puisi yang ditulis oleh seorang

penyair. Pada sisi yang lain, bisa juga berfungsi sebagai penekan suasana, atau sebagai

konkretisasi dari pengalaman yang semula dirasa abstrak itu. Semisal tentang uap es dalam

kulkas itu, dalam sebuah puisi yang lain si fulan menulis seperti ini:

betapa dingin udara lembang
bagai uap es dalam kulkas
dedaunan pun menggigil
bagai daging dan tulang di tubuhku

Apa yang digambarkan dalam empat larik puisi tersebut lebih berfungsi sebagai penekan

suasana. Bahasa dengan demikian, sebagaimana dikatakan oleh Dr. I. Bambang Soegiharto dalam

bukunya8 bukan sekadar teks, struktur dan makna. Bahasa adalah juga pengalaman, pengalaman

yang dihayati. Pengalaman yang dihayatilah yang terungkap dalam bahasa dan yang memberi

kepada bahasa makna-makna eksistensial. Di sini pengalaman bukanlah sesuatu “yang lain,”

yang bersifat metafisis; bukan pula sesuatu yang di luar sehingga bahasa seolah-olah hanya

mengacu kepadanya saja. Bahasa adalah makna dari pengalaman itu sendiri.

Adanya pengalaman di dalam bahasa, dalam hal ini di dalam bahasa figuratif, lebih tegasnya

lagi di dalam puisi, ternyata satu sama lainnya tidak bisa dipisahkan. Ini artinya, sekali

lagi, bahwa menulis puisi tidak bisa dikhayal-khayalkan, sekalipun di dalamnya ada

imajinasi, sebuah dunia yang direka, yang dihadirkan kembali menurut tafsir si penyairnya

seusai membaca pengalaman puitik yang menggelitik hatinya tadi. Tentang digunakannya bahasa

figuratif dalam puisi yang hanya muncul pada bagian-bagian tertentu itu, bisa kita lihat

lebih jelas lagi dalam puisi di bawah ini:

Lagu Siul

Laron pada mati
Terbakar di sumbu lampu
Aku juga menemu
Ajal di cerlang caya matamu
Heran! Ini badan yang selama berjaga
Habis hangus di api matamu
‘Ku layak tidak tahu saja

Dalam puisi tersebut, Chairil mengandaikan si aku lirik sebagai laron, yang kerap memburu

cahaya, dan rela mati terbakar oleh cahaya yang panas itu, entah cahaya lampu patromaks,

neon, maupun cahaya api. Tentu saja, yang dimaksud oleh Chairil dalam puisi tersebut adalah

tentang keadaan si aku lirik yang senantiasa lapar memburu cahaya cinta, dan rela mati

terbakar oleh cahaya cinta yang didapatnya di padang perburuan. Dalam sajak tersebut ada

pengalaman konkret yang dialami Chairil, yakni dirinya melihat proses kematian laron seusai

memburu cahaya yang menyebabkan dirinya terbakar oleh cahaya yang diburunya itu.

Pengalaman fisik tersebut menjadi sebuah pengalaman metafisik, lebih tegasnya menjadi

sebuah pengalaman spiritual yang penuh dengan daya pesona religius, setelah Chairil

mengolah pengalaman tadi lewat larik-larik puisinya yang berbunyi: aku juga menemu ajal/ di

cerlang caya matamu// sebuah ungkapan yang indah, daya imajinasi yang bekerja dalam puisi

tersebut jelas bukan bersumber dari ruang batin yang kosong, tetapi dari sesuatu yang

dialami secara konkret, untuk kemudian direka kembali dalam sebuah pengalaman yang baru.

Puisi lainnya di bawah ini, juga berangkat dari kerja semacam itu:

Angin Malam
- untuk Heni Hendrayani

Angin malam terasa dingin
Hingga ke liang nyawa. Di dinding bayang-bayang
Kau dan aku laik wayang
Dimainkan ki dalang dengan kisah yang kelam

Kita adalah korban sekaligus pelaku
Tapi tak ada gending kemenangan
Atau kekalahan
Dalam ruangan ini, selain keheningan

Menghayati kelahiran
Juga kematian. Lihat di dinding
Bayang-bayang itu saling melebur
Takut dicekik kesepian

1993

Dari dua contoh di atas, jelas sudah apa yang dimaksud dengan bahasa figuratif dalam puisi.

Secara teknis, cara bekerja bahasa tersebut telah diuraikan dengan singkat. Ini artinya

bisa dipelajari. Sedangkan masalah isi dan kualitas garapan bahasa tersebut, sekali lagi

semua itu sangat bergantung kepada tingkat pengalaman dan penghayatan sang penyair terhadap

berbagai pengalaman hidup yang dilakoninya secara sungguh-sungguh.

Berkaitan dengan hal tersebut, tak salah kalau dalam sebuah esainya yang cukup menarik

perhatian saya, penyair Perancis abad 19, Paul Valery antara lain mengatakan, karya-karya

jiwa manusia, sajak atau yang lainnya, hanya dapat dihubungkan dengan “sesuatu yang

melahirkan dirinya sendiri,” dan sama sekali tidak dapat dihubungkan dengan apapun yang

lainnya.11 Puisi di atas yang saya tulis pada tahun 1993 itu, berangkat dari pengalaman

menonton pertunjukan wayang kulit. Pada sebentang layar kain putih saya melihat bayang-

bayang wayang yang diam, bergerak, maupun yang berkelebat. Dalam pertunjukan wayang kulit,

apapun maknanya, selalu ada pertarungan bayang-bayang, antara baik dan buruk, dan

sebagainya..

Pada sisi yang lain menulis puisi bisa pula dilakukan dengan cara yang lain, yakni tidak

menggunakan bahasa figuratif dalam larik-larik puisi yang ditulisnya. Misalnya, pada suatu

hari mungkin kita pernah duduk di sebuah halaman rumah, entah di kursi atau apa saja yang

ada di halaman rumah tersebut. Kita memandang ke arah luar, yang ada di hadapan kita pada

saat itu boleh jadi sebuah taman kecil, ada rumpun bebungaan, ada kupu-kupu dan juga

burung-burung yang beterbangan. Kita terpesona dan bahkan terpana karenanya. Lalu tiba-tiba

hujan jatuh dengan amat derasnya.

Saya yakin saat itu ada sebuah pengalaman yang dengan cepat berubah pula dalam diri kita.

Ingatan kita tentang pengalaman tersebut terus membayang dan kita sukar melupakannya.

Sebagai penyair kita ingin menuliskannya. Nah dalam menuliskan pengalaman yang demikian itu

-- seorang penyair harus peka terhadap apa yang dilihat dan didengarnya. Adanya kepekaan

semacam ini kaitannya kelak berurusan dengan apa yang disebut imaji penglihatan (visual)

dan imaji pendengaran (auditif). Adanya kepekaan terhadap kedua unsur tersebut pada sisi-

sisi tertentu bisa menyebabkan pilihan diksi yang kita pakai dalam penulisan puisi itu jadi

berlagu, menghasilkan rima dan ritme. Inilah, antara lain yang menyebabkan puisi enak

dibaca.

Apa yang dipaparkan di atas tentang pengalaman di halaman rumah itu, adalah apa yang

disebut sebagai bayang-bayang pengalaman yang di dalamnya melibatkan perasaan kita. Ruh

dari puisi adalah rasa (feeling). Sedangkan tema (sense) yang kita hadirkan dari suasana

yang demikian itu boleh jadi berupa kesepian atau kesunyian dan kesendirian. Sedangkan apa

yang dinamakan amanat (intention) tergantung dari sisi mana kita akan mengomunikasikan atau

menafsir pengalaman tersebut. Dan itu tidak usah dipikirkan karena akan lahir dengan

sendirinya, bila kita benar-benar serius dalam mendalami pengalaman tersebut sebagai

pengalaman spiritual.

Tegasnya menulis puisi dalam konteks apa pun pada dasarnya adalah membekukan pengalaman,

untuk kemudian dikomunikasikan kembali dalam bentuk-bentuk pengalaman yang baru setelah

melewati berbagai tahap kontemplasi, meski sesaat. Pengalaman di atas misalnya, melahirkan

larik-larik puisi seperti di bawah ini:

adakah kau dengar guguran daun
saat hujan turun
kupu-kupu terbang entah ke mana
langit pekat dan hitam

atau puisi di bawah ini:

kau dengar getar daun gugur di atas tanah berlumpur
saat hujan turun, saat kupu-kupu terbang entah kemana
saat langit pekat dan hitam, saat rinduku
berdebur dan berdebur selalu menerjang hatimu

Perhatikan puisi yang kedua, di dalam puisi tersebut pada larik pertamanya ada variasi rima

akhir, yang pertama rima ar pada diksi dengar dan getar serta rima ur pada gugur dan

lumpur. Paduan dari variasi rima itu menghasilkan ritma, yakni unsur-unsur bunyi yang

berlagu, yang tentunya enak untuk divokalkan, seperti kau dengar getar daun gugur di atas

tanah berlumpur.
Tentu saja tidak selamanya dan tidak seharusnya pula larik-larik puisi itu ditulis dengan

cara yang demikian, maksudnya pada setiap lariknya rimbun dengan rima dan ritme. Bisa juga

tidak. Yang penting dalam menulis puisi saat ini adalah bagaimana gagasan itu

dikomunikasikan dan diekspresikan dengan baik. Dengan demikian menulis puisi bukan semata-

mata peristiwa bahasa saja, yakni permainan diksi, lambang, simbol, dan sebagainya. Di

dalamnya ada juga seperangkat nilai-nilai yang dipertaruhkan, seperti puisi di bawah ini:

Berjalan di Belakang Jenazah

berjalan di belakang jenazah angin pun reda
jam mengerdip
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia

di samping, pohon demi pohon menundukkan kepala
di atas: matahari kita, matahari itu juga
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghisapnya

Sumber pengalaman yang ditulis oleh penyair Sapardi Djoko Damono dalam puisi tersebut,

jelas bermuara pada pengalaman si aku lirik ketika imengantar jenazah seseorang untuk

dikuburkan. Sapardi lewat puisi tersebut berupaya menghadirkan kembali apa yang dialaminya

itu dengan pilihan kata-kata yang begitu personal sifatnya. Ini artinya, ia mampu menemukan

wilayah pengucapannya yang khas, yang berbeda dengan para penyair lainnya, meski dalam

kesempatan yang sama boleh jadi mempunyai pengalaman yang sama pula dalam hal mengantar

jenazah ke tanah kubur.

Dalam titik yang demikianlah Sapardi merekonstruksi kembali berbagai pengalaman spiritual

yang dialaminya ketika dirinya mengantar jenazah saat itu. Ketika pengalaman itu disajikan

dalam puisi yang ditulisnya, pengalaman tersebut terasa segar dalam ingatan kita. Kesegaran

semacam ini hanya akan bisa lahir -- bila kita benar-benar menguasai kosa dan bahasa dengan

baik. Demikian pula puisi di bawah ini:

Dingin Tak Tercatat

Dingin tak tercatat
pada termometer

Kota hanya basah

Angin sepanjang sungai
mengusir, tapi tetap saja

di sana. Seakan-akan

gerimis raib
dan cahaya berenang

mempermainkan warna.

Tuhan, mengapa kita bisa
bahagia?

1971

Latar dari penciptaan puisi tersebut tentunya bersumber pada pengalaman Goenawan mengembara

di negeri orang, khususnya di musim dingin, entah di Eropa atau di Amerika. Pada musim

dingin, kota memang basah, boleh jadi oleh hujan, baik berupa salju maupun air. Tanpa

mengalami hal yang demikian -- sangatlah mustahil Goenawan bisa mengekspresikan pengalaman

batinnya sejernih itu.

Jadi peka terhadap suasana bisa juga diekspresikan dengan model penulisan puisi semacam

itu. Dan dasar dari segala dasar penulisan puisi yang harus dikuasai oleh seorang penyair

adalah peka terhadap suasana, baik yang ada di dalam maupun di luar dirinya. Sebuah

pengalaman yang terus menguntit saya, sepeninggal Nenek saya tercinta, Oneng Rohana

dipanggil Allah SWT pada tahun 1976, adalah semacam ini yang saya tulis dalam sebuah puisi

pada tahun 1977, dengan kalimat-kalimat yang sederhana, seperti di bawah ini:


Tembang

Kau yang hidup dalam ingatanku
adalah tembang yang tak pernah selesai
dilantunkan angin sepanjang waktu

Kau yang memberi arah dalam hidupku
adalah petikan kecapi, alun suling,
lagu yang tak pernah sirna di dalam kalbuku

1977

Oneng Rohana, Nenek tercinta, pada zamannya adalah seorang guru tembang Sunda cianjuran.

Apa yang saya tulis dalam puisi tersebut adalah semacam kenangan terhadap dirinya, yang

hingga kini tidak bisa pupus dalam ingatan saya. Pendeknya, lepas dari semua itu apa pun

bentuknya, pengalaman yang menggoda batin kita itu, yang terus memburu jiwa kita hingga

gelisah karenanya – adalah sumber bagi penulisan puisi. Dengan demikian maka jelas sudah

bahwa menulis puisi bukan semata-mata peristiwa imajinasi belaka, atau sesuatu yang

dibayangkan terjadi. Ia adalah kejadian itu sendiri, yang kemudian kita susun kembali

menjadi sebuah dunia yang baru. Prof. Dr. A. Teeuw menyebutnya sebagai dunia rekaan.

Demikian pula Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono mengatakan yang sama.

Bayang-bayang maut yang terus memburu saya, yang tiada hentinya memburu diri saya dalam

situasi yang sunyi dan sepi sepeninggal Nenek saya itu – terus berkelebat dengan berbagai

variasinya yang lain. Ketika saya mendapat kesempatan mengikuti Festival de Winternachten

di Den Haag, Belanda pada tahun 1999 lalu bersama penyair Rendra, Agus R. Sardjono dan

Nenden Lilis A, di sana saya dihadapkan pada sebuah pengalaman yang baru, yang untuk

pertamakalinya bersentuhan dengan salju, dengan dingin udara Eropa, dan juga rasa anggur

(wine) yang harus diteguk secara perlahan-lahan dengan penuh perasaan. Ketika saya

berhadapan dengan udara yang dingin, serta hamparan salju yang memutihkan jalan-jalan,

genting rumah, dan ranting pepohonan yang gugur daun itu, terasa begitu akrab maut menyapa.

Pengalaman semacam itu menyebabkan saya menulis puisi di bawah ini:

Tepi Salju Tepi Waktu

sesenyap batu
di dasar kali yang beku

maut membayang
di hatiku. “Hangatkan

tubuhmu dengan segentong
anggur,” katanya, sebelum

jam kehilangan bunyi
di tepi waktu
di tepi salju


1999
**
APA yang dikemukakan dalam tulisan di atas, diakui atau tidak lebih menekankan jiwa kita

pada suasana-suasana tertentu yang digali dari pengalaman batin sang penyair yang bersumber

pada keindahan sekaligus kemurungan alam dengan segala misteri yang dikandungnya. Untuk

itu, dalam penulisan puisi yang lain tidaklah demikian. Apa yang dinamakan metafor dalam

penulisan puisi kali ini mempunyai peran yang sangat menentukan: akan berhasil tidaknya

sebuah puisi ditulis.

Ketika seorang penyair tengah menggunakan metafor dalam puisi yang ditulisnya, maka ia

tidak sedang mengomunikasikan pengalaman batinnya secara umum, yang tanda-tandanya bisa

dikenali oleh orang lain. Ia justru sedang berekspresi sekaligus berkomunikasi dengan cara

yang tidak lazim. Misalnya, seseorang pada sebuah malam berjalan di sebuah taman dan

kemudian telunjuknya diarahkan kepada seorang perempuan sambil berkata, “itu kupu-kupu

malam,” maka jelas yang dimaksud oleh kata-kata tersebut tidak membuktikan bahwa wanita itu

adalah kupu-kupu sebagaimana yang sering kita lihat di siang hari.

Yang dimaksud dengan kupu-kupu malam di situ, adalah pelacur. Ungkapan ini memang sudah

basi. Meski pun begitu, dalam rangkaian kata tersebut makna tidak nampak pada apa yang

dituliskan, melainkan pada apa yang berada di belakang tulisan.. Nah, di dalam puisi yang

akan kita bicarakan kali ini adalah metafor yang tidak dikenali umum, sesuatu yang khusus,

yang mempribadi, yang hanya terbuka dan mencair maknanya tergantung pada seberapa jauh si

pembacanya bisa menafsir apa yang dibacanya tadi. Misalnya dari sebuah pengalaman yang

sukar dilupakannya, si fulan mengungkapkan pengalaman batinnya dalam sebuah puisi yang

ditulisnya seperti ini:

adakah kau dengar guguran daun hatiku

saat hujan turun,
kupu-kupu terbang entah kemana
langit gelap dan hitam

Sekalipun unsur-unsur yang membangun puisi tersebut hampir sama dengan puisi sebelumnya

yang berbunyi,

adakah kau dengar guguran daun
saat hujan turun
kupu-kupu terbang entah ke mana
langit gelap dan hitam

ternyata secara esensial mengandung makna dan lokasi peristiwa yang berbeda. Puisi kedua,

yang dalam satu lariknya dibangun oleh sepilihan kata yang berbunyi: guguran daun hatiku,

adalah metafor, sekaligus kata kunci yang harus tafsir oleh pembaca puisi tersebut. Puisi

di atast lebih mengungkapkan persoalan-persoalan psikologis, tegasnya lebih mengolah ruang

dalam (rohani) yang hendak dikomunikasikannya pada orang lain.

Dalam menyusun metafor, dalam hal ini, dalam menyusun dua atau tiga suku kata dalam satu

kalimat, seperti guguran daun hatiku, teks dan konteks yang hendak kita ekspresikan itu

harus saling mendukung dan bukannya saling bertolak belakang. Dalam puisi yang demikian

bahasa figuratif kadang hadir pula di dalamnya. Kita perhatikan puisi di bawah ini. Jalinan

metafor yang dirangkainya dalam puisi ini, terasa surealistik, sebuah dunia yang tidak ada

di sini dan bahkan di sana, namun demikian kita berada di dalamnya, di sana dan di sini

sekaligus.


Usia

Sebuah pulau
Memutih di rambut malam
Keajaiban musim tanpa suara
Terpahat di keheningan
Langit tembaga
Keagungan hujan
Dengan sulur-sulur cahayanya
Tersimpan jauh di lautan
Arus besar tanpa riak
Gema tanpa sahutan
Mengendap
Di kedalaman
Waktu

Abad-abad angin
Tahun-tahun kabut
Malam-malam murni
Antara kelahiran
Dan kejatuhan

Kita telanjang
Menghuni pulau karang

2002

Kata-kata aneh apakah yang terdapat dalam puisi tersebut? Tidak ada. Semuanya adalah kata-

kata yang kita kenali dalam kehidupan kita sehari-hari. Semuanya terasa kental, liat, dan

bahkan tidak umum, hal ini disebabkan karena Acep zamzam Noor demikian intens dalam

mengolah ruang dalam batin (rohani)-nya dengan baik. Semua itu bisa dikerjakan dengan penuh

daya pikat karena Acep telah mengerahkan sedemikian rupa daya kepekaannya terhadap denyut

kehidupan yang ada di sekitar dirinya.

Acep Zamzam Noor tidak akan mampu menulis larik Keagungan hujan/ Dengan sulur-sulur

cahayanya, kalau ia dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah memperhatikan peristiwa hujan

poyan, yakni matahari tetap bersinar di saat hujan, sebuah peristiwa alam yang sangat

langka.

Saya tidak sedang membicarakan makna dari dua larik puisi tersebut. Saya sedang menelusuri

dari mana datangnya pilihan diksi yang demikian itu, kalau si penyairnya tidak peka

terhadap apa yang terjadi di sekitar dirinya. Pendek kata apapun model dan bentuk

pengucapan sebuah puisi yang ditulis oleh si penyairnya, hal yang utama dari semua itu

adalah adanya kematangan penghayatan terhadap berbagai pengalaman hidup yang ditempuh oleh

Acep Zamzam Noor secara sungguh-sungguh.

Berkait dengan itu, bahasa puisi apa pun bentuknya bersifat plastis, mampu mengakomodasikan

berbagai dimensi makna, baik yang tersirat maupun tersurat. Sejak awal baris-baris puisi

tersebut jalin-menjalin membentuk metafor, seperti pada larik puisi yang berbunyi: Sebuah

pulau/ memutih di rambut malam// yang mengisyaratkan menuanya kehidupan manusia di muka

bumi, yang antara lain ditandai dengan munculnya uban yang serba putih itu. Lepas dari itu,

perhatikan puisi lainnya di bawah ini:

Di Luar Mimpi

Kelak jiwaku yang dalam
Tak punya lagi bayangan jika berjalan
Di bawah matahari atau terang lampu;
Jiwaku adalah sinar itu sendiri

Pada baris dan bait puisi yang kau tulis
Akan kau kenal dengan baik suaraku;
Bagaimana aku menembang juga menimbang
Kesepian, kesunyian, juga kesendirian

Jadi larik-larik hujan yang turun sore hari
Dengan amat lembutnya. Larik-larik itu diam-diam
Menumbuhkan benih kerinduan dalam dadamu

Padaku. Lalu bagai dentang lonceng pagi
Kesepian, kesunyian, dan kesendirian: tanpa ragu
Mengguncang ranjangmu dari balik jendela

1997


Pengalaman psikologis macam apakah yang melatari dua buah puisi di atas ditulis? Secara

tidak langsung dalam dua puisi di atas ada benang merah yang sama, yakni penghayatan atas

kematian, kesepian, kesunyian, dan juga kesendirian. Tentu saja dalam menulis puisi, tidak

hanya tema-tema yang demikian saja yang disajikan oleh penyairnya. Tema yang mencoba

mengungkap dan bahkan membongkar tentang apa yang diduganya sia-sia itu, diungkap dengan

cara yang memikat oleh Goenawan Mohamad dalam puisinya yang cukup terkenal, yang ditulisnya

seperti di bawah ini:

Kwatrin Tentang Sebuah Poci

Pada keramik tanpa nama itu
kulihat kembali wajahmu
Mataku belum tolol ternyata
untuk sesuatu yang tak ada

Apa yang berharga pada tanah liat ini
selain separuh ilusi
sesuatu yang kelak retak
dan kita membikinnya abadi

1973

Apakah keramik yang dimaksud oleh Goenawan itu benar-benar keramik yang biasa kita lihat?

Jawabnya, mungkin ya, dan mungkin tidak. Tetapi yang jelas, puisi tersebut mengandung

banyak makna, dikarenakan jalinan vokal dan konsonan yang disusunnya tidak umum ditulis

orang, demikian juga dengan pertanyaan yang diajukannya. Tanpa ada penghayatan terhadap

keramik, dan sesuatu yang dibentuk dan dikerjakan oleh si senimannya terhadap segumpal

tanah liat yang dijadikan keramik di tangannya, jelas puisi yang demikian tidak akan lahir

dari tangan Goenawan.

Ini artinya, sekali lagi, Goenawan tidak melahirkan puisinya yang demikian itu dari ruang

batin yang kosong. Akan tetapi dalam mengolah daya kreatifnya itu, ia justru berangkat dari

ruang batin yang penuh dengan pengalaman, yang setelah diseleksinya sedemikian rupa

lahirlah puisi tersebut. Contoh-contoh puisi di atas hanya sebagian kecil dari begitu

banyaknya ragam puisi yang ditulis orang yang bercorak demikian. Untuk itu beragam pula

definisi tentangnya. ***

Sumber : www.publiksastra.co.cc

Tidak ada komentar:

Posting Komentar