Halaman

Senin, 30 Mei 2011

Membangkitkan Motivasi dan Menyusun Strategi Menulis Yang Baik

Estu Pitarto

Ketika memberikan semacam semiloka tentang kegiatan menulis, saya lebih suka berbagi

pengalaman menulis ketimbang memberikan teori atau pelbagai peraturan tentang menulis.

Meskipun saya tahu persis bahwa sebuah pengalaman—jika diwacanakan—akan muncul bangunan

sebuah teori atau peraturan. Tetapi, teori atau peraturan tersebut—yang muncul dari

pengalaman—tidak akan mengerangkeng atau memutlakkan sesuatu. Dengan berbagi pengalaman,

saya ingin sekali pengalaman menulis saya tersebut dapat dipakai sebagai pijakan seseorang

untuk menemukan teori atau peraturan yang cocok dengan diri orang yang ingin memanfaatkan

pengalaman menulis saya.

Sesungguhnya tidak ada masalah ketika seseorang mengikuti sebuah teori atau peraturan

menulis yang diciptakan oleh seseorang. Teori dan peraturan jelas amat bermanfaat untuk

memandu diri kita agar dapat belajar dan berlatih menulis sesuai dengan standar atau

patokan yang benar. Namun, saya sering mendapati kenyataan ini—bahkan saya sediri pernah

mengalaminya—bahwa sebuah teori kemudian membatasi kebebasan diri kita. Teori tersebut

seakan-akan memberikan kita alarm bahwa jika kita tidak menjalankan kegiatan menulis sesuai

petunjuk teori tersebut, kita akan tidak mampu menulis dengan benar. Akan jelas sekali

bahwa jika ketika kita mengikuti teori menulis yang seperti ini, kita pun kemudian akan

tidak berdaya ketika menjalankan kegiatan menulis.

Dalam kesempatan ini, saya ingin menunjukkan kepada Anda bagaimana saya membangkitkan

motivasi untuk, secara kontinu dan konsisten, dapat setiap hari berlatih menulis. Saya

memahami sekali bahwa menulis itu sebuah keterampilan—sama persis dengan keterampilan

menyetir mobil, berenang, memasak, menendang bola, dan sebagainya. Artinya, jika kita ingin

menguasai dengan baik keterampilan menulis, tentulah kita harus rajin dan bersemangat

tinggi dalam berlatih menulis. Memang, banyak rintangan dan godaan dalam berlatih menulis.

Salah satunya adalah mengatasi rasa malas dan bagaimana terus mengobarkan semangat dan

gairah untuk menulis. Nah, saya biasa menggunakan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku?) untuk

senantiasa mengobarkan semangat dan gairah menulis.

Ketika memberikan semacam semiloka tentang kegiatan menulis, saya lebih suka berbagi

pengalaman menulis ketimbang memberikan teori atau pelbagai peraturan tentang menulis.

Meskipun saya tahu persis bahwa sebuah pengalaman—jika diwacanakan—akan muncul bangunan

sebuah teori atau peraturan. Tetapi, teori atau peraturan tersebut—yang muncul dari

pengalaman—tidak akan mengerangkeng atau memutlakkan sesuatu. Dengan berbagi pengalaman,

saya ingin sekali pengalaman menulis saya tersebut dapat dipakai sebagai pijakan seseorang

untuk menemukan teori atau peraturan yang cocok dengan diri orang yang ingin memanfaatkan

pengalaman menulis saya.

Sesungguhnya tidak ada masalah ketika seseorang mengikuti sebuah teori atau peraturan

menulis yang diciptakan oleh seseorang. Teori dan peraturan jelas amat bermanfaat untuk

memandu diri kita agar dapat belajar dan berlatih menulis sesuai dengan standar atau

patokan yang benar. Namun, saya sering mendapati kenyataan ini—bahkan saya sediri pernah

mengalaminya—bahwa sebuah teori kemudian membatasi kebebasan diri kita. Teori tersebut

seakan-akan memberikan kita alarm bahwa jika kita tidak menjalankan kegiatan menulis sesuai

petunjuk teori tersebut, kita akan tidak mampu menulis dengan benar. Akan jelas sekali

bahwa jika ketika kita mengikuti teori menulis yang seperti ini, kita pun kemudian akan

tidak berdaya ketika menjalankan kegiatan menulis.

Dalam kesempatan ini, saya ingin menunjukkan kepada Anda bagaimana saya membangkitkan

motivasi untuk, secara kontinu dan konsisten, dapat setiap hari berlatih menulis. Saya

memahami sekali bahwa menulis itu sebuah keterampilan—sama persis dengan keterampilan

menyetir mobil, berenang, memasak, menendang bola, dan sebagainya. Artinya, jika kita ingin

menguasai dengan baik keterampilan menulis, tentulah kita harus rajin dan bersemangat

tinggi dalam berlatih menulis. Memang, banyak rintangan dan godaan dalam berlatih menulis.

Salah satunya adalah mengatasi rasa malas dan bagaimana terus mengobarkan semangat dan

gairah untuk menulis. Nah, saya biasa menggunakan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku?) untuk

senantiasa mengobarkan semangat dan gairah menulis. ( Hernowo )
 dari:  http://lorongedukasi.wordpress.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar