Estu Pitarto
Ketika memberikan semacam semiloka tentang kegiatan menulis, saya lebih suka berbagi
pengalaman menulis ketimbang memberikan teori atau pelbagai peraturan tentang menulis.
Meskipun saya tahu persis bahwa sebuah pengalaman—jika diwacanakan—akan muncul bangunan
sebuah teori atau peraturan. Tetapi, teori atau peraturan tersebut—yang muncul dari
pengalaman—tidak akan mengerangkeng atau memutlakkan sesuatu. Dengan berbagi pengalaman,
saya ingin sekali pengalaman menulis saya tersebut dapat dipakai sebagai pijakan seseorang
untuk menemukan teori atau peraturan yang cocok dengan diri orang yang ingin memanfaatkan
pengalaman menulis saya.
Sesungguhnya tidak ada masalah ketika seseorang mengikuti sebuah teori atau peraturan
menulis yang diciptakan oleh seseorang. Teori dan peraturan jelas amat bermanfaat untuk
memandu diri kita agar dapat belajar dan berlatih menulis sesuai dengan standar atau
patokan yang benar. Namun, saya sering mendapati kenyataan ini—bahkan saya sediri pernah
mengalaminya—bahwa sebuah teori kemudian membatasi kebebasan diri kita. Teori tersebut
seakan-akan memberikan kita alarm bahwa jika kita tidak menjalankan kegiatan menulis sesuai
petunjuk teori tersebut, kita akan tidak mampu menulis dengan benar. Akan jelas sekali
bahwa jika ketika kita mengikuti teori menulis yang seperti ini, kita pun kemudian akan
tidak berdaya ketika menjalankan kegiatan menulis.
Dalam kesempatan ini, saya ingin menunjukkan kepada Anda bagaimana saya membangkitkan
motivasi untuk, secara kontinu dan konsisten, dapat setiap hari berlatih menulis. Saya
memahami sekali bahwa menulis itu sebuah keterampilan—sama persis dengan keterampilan
menyetir mobil, berenang, memasak, menendang bola, dan sebagainya. Artinya, jika kita ingin
menguasai dengan baik keterampilan menulis, tentulah kita harus rajin dan bersemangat
tinggi dalam berlatih menulis. Memang, banyak rintangan dan godaan dalam berlatih menulis.
Salah satunya adalah mengatasi rasa malas dan bagaimana terus mengobarkan semangat dan
gairah untuk menulis. Nah, saya biasa menggunakan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku?) untuk
senantiasa mengobarkan semangat dan gairah menulis.
Ketika memberikan semacam semiloka tentang kegiatan menulis, saya lebih suka berbagi
pengalaman menulis ketimbang memberikan teori atau pelbagai peraturan tentang menulis.
Meskipun saya tahu persis bahwa sebuah pengalaman—jika diwacanakan—akan muncul bangunan
sebuah teori atau peraturan. Tetapi, teori atau peraturan tersebut—yang muncul dari
pengalaman—tidak akan mengerangkeng atau memutlakkan sesuatu. Dengan berbagi pengalaman,
saya ingin sekali pengalaman menulis saya tersebut dapat dipakai sebagai pijakan seseorang
untuk menemukan teori atau peraturan yang cocok dengan diri orang yang ingin memanfaatkan
pengalaman menulis saya.
Sesungguhnya tidak ada masalah ketika seseorang mengikuti sebuah teori atau peraturan
menulis yang diciptakan oleh seseorang. Teori dan peraturan jelas amat bermanfaat untuk
memandu diri kita agar dapat belajar dan berlatih menulis sesuai dengan standar atau
patokan yang benar. Namun, saya sering mendapati kenyataan ini—bahkan saya sediri pernah
mengalaminya—bahwa sebuah teori kemudian membatasi kebebasan diri kita. Teori tersebut
seakan-akan memberikan kita alarm bahwa jika kita tidak menjalankan kegiatan menulis sesuai
petunjuk teori tersebut, kita akan tidak mampu menulis dengan benar. Akan jelas sekali
bahwa jika ketika kita mengikuti teori menulis yang seperti ini, kita pun kemudian akan
tidak berdaya ketika menjalankan kegiatan menulis.
Dalam kesempatan ini, saya ingin menunjukkan kepada Anda bagaimana saya membangkitkan
motivasi untuk, secara kontinu dan konsisten, dapat setiap hari berlatih menulis. Saya
memahami sekali bahwa menulis itu sebuah keterampilan—sama persis dengan keterampilan
menyetir mobil, berenang, memasak, menendang bola, dan sebagainya. Artinya, jika kita ingin
menguasai dengan baik keterampilan menulis, tentulah kita harus rajin dan bersemangat
tinggi dalam berlatih menulis. Memang, banyak rintangan dan godaan dalam berlatih menulis.
Salah satunya adalah mengatasi rasa malas dan bagaimana terus mengobarkan semangat dan
gairah untuk menulis. Nah, saya biasa menggunakan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku?) untuk
senantiasa mengobarkan semangat dan gairah menulis. ( Hernowo )
dari: http://lorongedukasi.wordpress.com/
Ketika memberikan semacam semiloka tentang kegiatan menulis, saya lebih suka berbagi
pengalaman menulis ketimbang memberikan teori atau pelbagai peraturan tentang menulis.
Meskipun saya tahu persis bahwa sebuah pengalaman—jika diwacanakan—akan muncul bangunan
sebuah teori atau peraturan. Tetapi, teori atau peraturan tersebut—yang muncul dari
pengalaman—tidak akan mengerangkeng atau memutlakkan sesuatu. Dengan berbagi pengalaman,
saya ingin sekali pengalaman menulis saya tersebut dapat dipakai sebagai pijakan seseorang
untuk menemukan teori atau peraturan yang cocok dengan diri orang yang ingin memanfaatkan
pengalaman menulis saya.
Sesungguhnya tidak ada masalah ketika seseorang mengikuti sebuah teori atau peraturan
menulis yang diciptakan oleh seseorang. Teori dan peraturan jelas amat bermanfaat untuk
memandu diri kita agar dapat belajar dan berlatih menulis sesuai dengan standar atau
patokan yang benar. Namun, saya sering mendapati kenyataan ini—bahkan saya sediri pernah
mengalaminya—bahwa sebuah teori kemudian membatasi kebebasan diri kita. Teori tersebut
seakan-akan memberikan kita alarm bahwa jika kita tidak menjalankan kegiatan menulis sesuai
petunjuk teori tersebut, kita akan tidak mampu menulis dengan benar. Akan jelas sekali
bahwa jika ketika kita mengikuti teori menulis yang seperti ini, kita pun kemudian akan
tidak berdaya ketika menjalankan kegiatan menulis.
Dalam kesempatan ini, saya ingin menunjukkan kepada Anda bagaimana saya membangkitkan
motivasi untuk, secara kontinu dan konsisten, dapat setiap hari berlatih menulis. Saya
memahami sekali bahwa menulis itu sebuah keterampilan—sama persis dengan keterampilan
menyetir mobil, berenang, memasak, menendang bola, dan sebagainya. Artinya, jika kita ingin
menguasai dengan baik keterampilan menulis, tentulah kita harus rajin dan bersemangat
tinggi dalam berlatih menulis. Memang, banyak rintangan dan godaan dalam berlatih menulis.
Salah satunya adalah mengatasi rasa malas dan bagaimana terus mengobarkan semangat dan
gairah untuk menulis. Nah, saya biasa menggunakan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku?) untuk
senantiasa mengobarkan semangat dan gairah menulis.
Ketika memberikan semacam semiloka tentang kegiatan menulis, saya lebih suka berbagi
pengalaman menulis ketimbang memberikan teori atau pelbagai peraturan tentang menulis.
Meskipun saya tahu persis bahwa sebuah pengalaman—jika diwacanakan—akan muncul bangunan
sebuah teori atau peraturan. Tetapi, teori atau peraturan tersebut—yang muncul dari
pengalaman—tidak akan mengerangkeng atau memutlakkan sesuatu. Dengan berbagi pengalaman,
saya ingin sekali pengalaman menulis saya tersebut dapat dipakai sebagai pijakan seseorang
untuk menemukan teori atau peraturan yang cocok dengan diri orang yang ingin memanfaatkan
pengalaman menulis saya.
Sesungguhnya tidak ada masalah ketika seseorang mengikuti sebuah teori atau peraturan
menulis yang diciptakan oleh seseorang. Teori dan peraturan jelas amat bermanfaat untuk
memandu diri kita agar dapat belajar dan berlatih menulis sesuai dengan standar atau
patokan yang benar. Namun, saya sering mendapati kenyataan ini—bahkan saya sediri pernah
mengalaminya—bahwa sebuah teori kemudian membatasi kebebasan diri kita. Teori tersebut
seakan-akan memberikan kita alarm bahwa jika kita tidak menjalankan kegiatan menulis sesuai
petunjuk teori tersebut, kita akan tidak mampu menulis dengan benar. Akan jelas sekali
bahwa jika ketika kita mengikuti teori menulis yang seperti ini, kita pun kemudian akan
tidak berdaya ketika menjalankan kegiatan menulis.
Dalam kesempatan ini, saya ingin menunjukkan kepada Anda bagaimana saya membangkitkan
motivasi untuk, secara kontinu dan konsisten, dapat setiap hari berlatih menulis. Saya
memahami sekali bahwa menulis itu sebuah keterampilan—sama persis dengan keterampilan
menyetir mobil, berenang, memasak, menendang bola, dan sebagainya. Artinya, jika kita ingin
menguasai dengan baik keterampilan menulis, tentulah kita harus rajin dan bersemangat
tinggi dalam berlatih menulis. Memang, banyak rintangan dan godaan dalam berlatih menulis.
Salah satunya adalah mengatasi rasa malas dan bagaimana terus mengobarkan semangat dan
gairah untuk menulis. Nah, saya biasa menggunakan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku?) untuk
senantiasa mengobarkan semangat dan gairah menulis. ( Hernowo )
dari: http://lorongedukasi.wordpress.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar