Rintik hujan perlahan-lahan mulai turun menyambutku, tatkala aku tiba digerbang masuk sebuah desa kecil nan asri. Sebuah desa yang terletak diantara lereng-lereng pegunungan yang tampak gagah bagai seorang prajurit keraton yang sedang menjaga istana megah tempat sang raja bersemayam. Angin pun semilir berhembus menerpa wajahku. “ah, sudah lam sekali aku tak merasakan sejuknya suasana ini.” Gumamku.
Setelah letih berjalan akhirnya sampai juga aku dirumah ini, tempat yang selalu mengingatkan diriku akan masa kecil dulu. Hampir tidak ada perubahan yang berarti, semua masih seperti dulu. Bangku tua tempat aku dulu bermanja ria dengan kakekku masih kokoh bertahan seiring waktu yang kian berlalu. Mataku menatap liar ke sekeliling rumah yang mungkin usianya sudah ratusan tahun menemani keluarga kakekku mengarungi kehidupan. Kuketuk pintu tua yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat kehitam-hitaman itu dengan sangat hati-hati. Suara lembut seorang wanita tua menyambutku, suara yang sangat kurindukan yang dulu selalu menghantarkan kutidur dengan cerita-cerita tentang kebajikan.
“siapa?” seru suara wanita tua itu dari dalam rumah. Aku hanya diam tak menjawab, pasti nenek akan kaget melihatku berdiri dibalik pintu tua ini, setelah 5 tahun yang lalu aku pergi meninggalkannya. Suara pintu tua itu berderit mendistorsi lamunanku.
“aku nek” jawabku. Perlahan pintu pun mulai terbuka.
“yaa ampun, kamu toh le, kemana saja kamu tiada kabar berita? Bahkan pulang juga ndak beritahu nenek sebelumnya.”
“iya nek, maafkan aku, aku ndak bermaksud membuat nenek sedih.” Air mataku jatuh berlinang bak tetes air hujan yang tiada henti membasahi pipi. Kupeluk erat-erat tubuh wanita tua dihadapanku ini bagai seorang kekasih yang tak berjumpa sekian tahun lamanya. Aku menangis menjadi-jadi bagai lahar gunung baru saja dimuntahkan dari dalam perut bumi. Tak lama kemudian nenek menyuruhku masuk.
Sejak kematian kakekku 10 tahun yang silam, aku mengambil keputusan yang membuat nenek sangat sedih, aku harus meninggalkan desa ini, pergi dari tempat yang telah membesarkanku. Walau sangat berat rasanya bagiku meninggalkan nenek seorang diri, tetapi demi kebaikannya juga, akhirnya aku harus pergi ke kota besar dimana terdapat segala macam impian yang selalu disenadungkan oleh teman-temanku yang telah kembali dari kota. Penampilan mereka seolah-olah menunjukkan padaku, bahwa hidup di kota besar begitu menggoda jiwa mudaku.
Mereka menceritakan padaku berbagai macam hal, tentang gedung-gedung tinggi pencakar langit yang apabila kita naik ke puncaknya, seolah-olah kita dapat meraih bintang yang terhampar diatas sana, juga tentang mobil-mobil mewah yang tak pernah berhenti berjalan baik siang maupun malam, bagaikan sebuah pertunjukkan opera yang hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang. Semua itu menjadikan aku bagaikan tesihir oleh pesona kemewahan kota, mereka terus meyakinkan aku untuk mengikuti jejak mereka dan mereka pun selalu menjanjikan kesuksesan kepadaku.
“bila kau tak mencoba, maka kau akan tetap seperti ini.” Ujar seorang temanku kala itu.
Kini setelah kakekku meninggal aku mengambil keputusan untuk mengadu nasib ke kota besar, yah kota besar, kota yang selama ini selalu ditiupkan ke telingaku lewat senandung indah cerita teman-temanku. Jakarta namanya sebuah ibukota di republik ini, kota yang tak pernah tertidur, kota yang penuh dengan hingar-bingar kaum metropolis. Aku masih ingat ketika pertama kali aku mengutarakan maksudku kepada nenek. Tepat di bangku tua di beranda depan rumah itu kami berbicara,namun kini bangku tua itu seakan menertawakan kepulanganku.
Dulu nenek sangat merasa keberatan jikalau aku harus pergi meninggalkannya, karena aku satu-satunya keluarga yang dia miliki, setelah kedua orangtuaku meninggal dunia. Namun aku tetap harus pergi jua, demi meraih semua nada-nada indah yang ada dalam khayalanku. Lagu merdu yang dahulu sering dinyanyikan sahabat-sahabatku, seakan mewakili kesedihanku setelah ditinggal pergi oleh kakek yang sangat aku kagumi.
“piye kabarmu to le?” tanya nenek.
“alhamdulillah, baik nek”
“kerja dimana kau sekarang?”
Aku terdiam menundukkan wajah, tak sanggup rasanya aku menceritakan kepada nenek, tentang semua yang terjadi di Ibukota.
“apa kau ndak kangen dengan desa tuamu ini lee?” kembali nenek bertanya, sambil menghidangkan teh kesukaanku. Tercium semerbak wangi harum teh khas buatan nenek saat bibirku mendekat ke permukaan gelas alumunium berwarna hijau tua bermotifkan kembang-kembang ini. Nenek memang pandai membuat teh, kental dan manis menjalar turun melalui tenggorokanku yang memang telah haus setelah berjalan kaki hampir dua jam lamanya, maklum disini belum ada kendaraan umum seperti di kota-kota besar. Letak desa kami yang berada dilereng pegunungan membuat akses kendaraan sulit untuk melalui terjalnya jalan yang berliku.
“istirahatlah dulu, kamarmu masih seperti dulu tidak ada yang berubah satupun, tidak seperti dirimu.”
“apa maksudnya nek?” tanyaku keheranan.
“lihat saja dirimu, penampilan kamu itu lho, sudah tidak seperti dulu.” Goda nenek.
“ah, nenek bisa saja.” Jawabku sambili berlalu menuju kamar kecilku dulu.
Kupandangi kamar yang berukuran 3x4 meter ini. Benar-benar tak ada yang berubah, batinku. Tembok yang terbuat dari bilik anyaman bambu, bale tempat kubiasa membaringkan badan sehabis bekerja membantu kakek di sawah. Sebuah lemari buku kecil tempat kumenaruh buku-buku kesukaanku, bahkan tak satupun buku yang berkurang. Benar-benar tak ada yang berubah semenjak aku tinggal pergi.
Saat ini aku merasakan waktu seolah-olah tak berputar sama sekali. Rumah ini,kamar kecil dan pengap ini, serta suasana desaku pun tak ada yang berubah sama sekali, seakan-akan tak terjamah oleh tangan-tangan sang waktu yang setiap detik berharap dapat dikabulkan permohonannya saat sedang berdoa kepada sang Maha Kuasa. Aku seakan tak mengenali siapa sebenarnya diriku ini? Kenapa semua yang kulihat sejak menjejakkan kaki dirumah ini, tak ada yang berbeda saat aku tinggal pergi dulu?
“sudah jangan melamun terus tidak baik” suara nenek mengagetkanku.
“lebih baik kau mandi, lalu istirahatlah dulu, biar nenek menyiapkan masakan kesukaanmu.”
“baik nek” aku pun segera bangkit bergegas menuju bagian belakang rumah tua ini.
Akhir-akhir ini aku sering menyendiri dalam kamar, terlebih setelah kejadian itu, rasanya membuatku ingin cepat-cepat meninggalkan kota ini. Muak rasanya melihat tingkah-laku penghuni kota yang katanya metropolis ini. Orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa mau peduli terhadap sesamanya. Hidup dikota besar macam jakarta ini memang tidaklah mudah seperti yang aku bayangkan sebelumnya, bila tak ada relasi tentu sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Sudah lebih dari empat tahun aku berada disini. Berada ditengah-tengah masyarakat materialis, yang selalu memikirkan uang, uang dan uang yang dicari. Waktu adalah uang begitulah kira-kira semboyan mereka, bahkan demi uangpun mereka rela menjual diri, bahkan merekapun rela menyewakan anak mereka kepada sekelompok pengemis demi mendapatkan uang. Rupanya aku salah selama ini, ternyata senandung lagu indah yang dahulu selalu dinyanyikan oleh temanku itu, kini hanya jadi pengantar tidur. Bertahun-tahun aku bekerja keras menyanyikan lagu itu, ternyata suaraku kurang lantang bahkan terdengar seperti kaleng rombeng yang akan membangunkan tidur kita tatkala seseorang menendangnya kencang-kencang. Setelah kurang lebih empat tahun lamanya aku berjibaku dengan kotak tua ini, ternyata tak dapat mencukupi biaya hidupku. Sepatu demi sepatu kusemir setiap hari demi bertahan hidup dibelantara tak bertuan ini, rimba raya yang penuh dengan gedung-gedung mewah bukan lagi rimbunnya pepohonan, tak lagi merasakan sejuknya angin yang dulu menyapaku setiap pagi saat berangkat ke sawah bersama kakek. Angin itu telah berganti dengan mesin-mesin yang selalu menyala dari matahari terbit hingga tenggelam hingga terbit kembali, begitu seterusnya.
Disuatu pagi yang cerah saat berjuta-juta kendaraan berlomba-lomba memenuhi setiap sudut kota ini, aku berjalan dengan kotak tuaku. Ditengah perjalanan seseorang memanggilku.
“hey bung kemari” akupun menghampirinya.
“semir pak?” tanyaku.
“ya iyalah, memangnya untuk apa aku memanggilmu”
Aku pun mulai bekerja, kucopot sepatu pria tua ini, dengan sigap kukeluarkan peralatan tempurku, walau hanya seonggok kain perca, sikat dan sekaleng semir sepatu. Benda ini sangat berjasa kepadaku.
Bapak tua itu memperhatikanku dengan seksama, mulai dari ujung kepala hingga kaki tak luput dari pandangannya, bagaikan seekor macan yang sedang lapar bertemu dengan seekor keledai dungu yang hanya mampu menarik gerobak kehidupan yang semakin hari semakin bertambah bebannya. Aku pun terus saja asyik menyemir tanpa memperhatikan orang-orang disekelilingku.
“ini pak sudah selesai.” Suaraku membuyarkan pandangannya.
“oh, bersih sekali bahkan sampai terlihat seperti baru.”ia memujiku.
“berapa?” tanyanya.
“biasa pak, lima ribu.” Jawabku.
“kau mau menyemir sepatu-sepatuku yang ada dirumah tidak?” tanyanya.
“emm, boleh pak, memang rumah bapak dimana?” terbayang olehku akan hasil yang akan kudapat bila menyemir sepatu-sepatu yang ada dirumah bapak ini. “hemh, bisa makan enak neh”gumamku, tak perlu pula aku capek-capek keliling kota yang panasnya menyengat bagai antup tawon yang pedas saat menyengat mangsanya.
“rumahku tak jauh dari sini” suaranya mengangetkanku.
“kau tunggu disini sebentar, aku akan mengambil mobilku.” Lanjutnya.
Rupanya aku mendapat rezeki yang lumayan hari ini. Yaah,kiranya cukuplah untuk makan hingga nanti malam. Makan malam yang selalu kunikmati dengan sebungkus mie instan, itupun juga tanpa telur unggas, karena harganya yang tak terjangkau oleh penghasilanku dari menyemir sepatu.
Tak lama kemudian kami tiba disebuah rumah mewah yang tampak sepi, aku pun tak tahu dimana aku berada saat ini, karena selama hidup di kota ini aku jarang keluar hanya untuk jalan-jalan saja hampir tak pernah. Seluruh hari-hariku hanya untuk menyemir didepan perkantoran yang jaraknya tak jauh dari tempat aku tinggal. Aku tinggal dengan menumpang pada salah seorang temanku yang dulu selalu meyakinkan aku untuk meninggalkan desa tercintaku, orang-orang yang kusayangi demi secercah harapan yang kadung menyelimuti setiap mimpiku. Tinggal menumpang di rumah kontrakan yang uang sewanya kurang-lebih 300 ribu sebulan, tentu membuat aku harus bekerja keras setiap hari. Bahkan aku sampai tak sanggup mengabari nenekku yang jauh berada di tempat kelahiranku, karena aku malu kepadanya. Dulu aku yang bersikukuh ingin pergi ke kota untuk mencari mimpi yang kini entah pergi kemana. Yang ada hanyalah butir keringat yang harus kutampung sedikit demi sedikit agar aku dapat meraih mimpi itu. Pintu pagar pun mulai terbuka dengan perlahan, saat mobil mewah ini mulai memasuki pekarangan rumah mewah tersebut. Aku ahanya terdiam melihat dari balik kaca mobil ini. Betapa bagusnya rumah ini, halaman yang bersih, pagar-pagar yang berdiri sejajar menampakkan kegagahannnya. Aku bagai masuk ke dalam istana raja, yang hanya bisa kulihat dari kejauhan.
Bapak tua itu mempersilahkan aku masuk, ia pun menuju ke belakang mengambilkan minum untukku. Aneh juga, gumamku. Rumah sebesar ini tiada pembantu seorangpun. Alangkah sunyinya rumah ini, besar dari luar ternyata sunyi dari dalam. Bagai sebuah kapal pesiar yang sedang berlayar dilaut luas, namun tak menemukan satu pelabuhan pun untuk bersandar.
“sepatunya dimana pak?” tanyaku, setelah bapak tua itu kembali dari belakang sambil membawakan dua buah minuman dingin.
“oh, ada dikamar atas, santai sajalah dulu, mari diminum.”
Aku pun meminum pemberian bapak tua itu, rupanya keringnya tenggorokanku tak mampu menahan haus melihat minuman dingin nan segar dihadapanku. Rasanya sedikit membuat kepalaku sakit, ah, kupikir hanya pusing biasa saja, batinku. Setelah meminum dan memakan sedikit suguhan yang disediakan, bapak tua itu beranjak dari tempat duduknya.
“mari kuantar kau keatas.” Ajaknya. Aku pun segera bangkit dari dudukku, walau kepalaku sedikit pening. Aku pun menuju ke lantai atas, berjalan mengikuti bapak tua itu. Tak lama kemudian pintu kamar pun dibukakan olehnya. Ia mempersilahkan aku masuk, sambil menunjuk lemari tempat sepatu-sepatu yang akan kusemir.
Badanku letih tak berdaya seakan habis bekerja keras bagai budak belian, namun lembutnya alas tempat tidurku ini membuat aku enggan ‘tuk membuka mata, sejuknya udara yang dihembuskan pendingin ruangan ini membuat aku kedinginan,kurasakan sakit bukan kepalang disekitar bokongku,lalu aku membalikkan badan. Sebuah tubuh gemuk yang penuh dengan lemak memelukku, seolah tak mau melepaskanku, aku pun tersadar dan coba ‘tuk berontak, entah apa yang dimasukkannya dalam gelas minumanku tadi sehingga tubuhku seolah-olah bagaikan dehidrasi yang sangat-sangat membuat lemas seluruh sendi-sendiku ini, Lalu semuanya gelap gulita. Hanya tangis mengiringi laguku.
Tegal Krapyak Wetan
Jogja, 2010-11-04
Tidak ada komentar:
Posting Komentar