Halaman

Selasa, 31 Mei 2011

Langkah-Langkah Menulis Cerpen

Setiap kali hendak melakukan sesuatu, Anda pasti membutuhkan rencana dan menyiapkan

langkah-langkah tertentu. Hendak memasak, misalnya. Pertama-tama Anda harus mempunyai

rencana, apa yang akan dimasak. Tanpa rencana akan memasak apa, bisa-bisa Anda hanya akan

kebingungan di dapur.


Demikian juga jika Anda ingin menulis cerpen. Beberapa penulis memang bisa langsung menulis

cerpen tanpa persiapan apa-apa. Biasanya penulis seperti ini sudah mempunyai jam terbang

yang tinggi dan memiliki disiplin dalam menulis.
Pada penulis seperti ini, langkah-langkah menulis cerpen seolah sudah menjadi bagian tak

terpisahkan dari dirinya. Keluar dan mengalir begitu saja. Akan tetapi, untuk sampai pada

tingkatan itu membutuhkan jam terbang dan disiplin yang tinggi dalam menulis.


Bagaimana jika Anda termasuk penulis pemula? Bagaimana jika Anda sering mengalami kesulitan

untuk menulis? Adakah langkah-langkah menulis cerpen yang dapat diikuti?


Langkah-langkah Menulis Cerpen
Berminat menulis cerpen? Mari mulai menelisik langkah-langkah menulis cerpen,

    * Siapkan tema
      Anda bisa memilih tema persahabatan, percintaan, misteri, dan lain-lain. Menulis

tanpa berpegang pada satu tema bisa-bisa hanya akan membuat Anda duduk kebingungan di depan

komputer dan membuang waktu dengan percuma.

    * Tentukan jenis cerpenCerpen seperti apa yang ingin ditulis? Cerpen horor, komedi,

drama, romantis, misteri, religi, atau drama komedi? Jika sejak awal Anda sudah menentukan

akan membuat cerpen komedi, misalnya, fokuslah untuk menulis cerpen yang benar-benar lucu,

bukan lucu yang nanggung.

    * Tentukan segmenPastikan dulu apakah Anda akan menulis cerpen anak, remaja, atau

dewasa. Menulis cerpen untuk anak-anak jelas tak sama dengan menulis cerpen untuk remaja,

apalagi untuk dewasa.

    * Tentukan tokohSiapa yang akan menjadi tokoh utama dalam cerpen Anda? Siapkan nama-

nama tokoh utama dan beri karakter untuk setiap tokoh utama.

    * Tentukan konflikCerpen tanpa konflik tentu akan hambar, tak ada gregetnya. Jadi,

siapkan konflik. Konflik ini bisa muncul di tengah-tengah cerita, bisa pula langsung

menggebrak di awal cerita.

    * Tentukan penyelesaian (ending) ceritaKalau kata grup band Armada, "Mau dibawa ke mana

hubungan kita...".  Begitu juga dengan menulis cerpen. Mau dibawa ke mana cerpen yang akan

Anda tulis? Ke akhir yang bahagia (happy ending), akhir yang menyedihkan (sad ending), atau

akhir yang menggantung (hanging ending)?

    * Tentukan judulJangan lupa, pilih judul yang singkat namun dapat menggambarkan isi

cerpen yang ditulis. Tak masalah jika Anda menentukan judul ini belakangan atau bahkan

ketika cerpen telah selesai ditulis. Tapi ingat, jangan sampai melakukan kesalahan fatal

dengan tidak mencantumkan judul cerita!

Langkah-langkah menulis cerpen yang juga penting adalah menentukan majalah yang menjadi

sasaran. Langkah ini perlu diambil jika Anda berencana mengirimkan cerpen ke majalah,

karena setiap majalah memiliki style dan segmen pembaca yang khas.

sumber: http://www.anneahira.com/

Dasar-Dasar Menulis Esai

Menulis sebuah esai atau makalah, tanpa mempedulikan topiknya, adalah sebuah proses:

Bangun dan definisikan topikmu
Tuliskan tema atau topik utama esaimu dalam satu atau dua kalimat paling banyak.

    * Tentukan pembaca esaimu
      Apakah yang membaca esaimu adalah dosen yang memberi nilai atau asisten dosen?
      Teman sekelasmu yang akan memberikan kritikan?  Sekelompok profesional untuk review?
      Sekelompok profesional untuk review?
       Ingatlah akan pembaca ini selama kamu menulis esai
    * Rencanakan kurun waktu
      Buat suatu kurun waktu penulisan esai, dan antisipasi adanya perkembangan topik

esaimu dan revisi.  Seringkali suatu esai yang sempurna adalah esai yang direvisi setelah

selesai dibuat.
    * Kumpulkan bahan-bahan
      Orang: dosen, asisten dosen, pustakawan, ahli dalam bidang, profesional
      Referensi:  buku teks, rekomendasi kerja, web site, majalah, buku harian, laporan

profesional
    * Riset: baca, wanwancara, eksperimen, kumpul data-data, dll. dan catat selengkap

mungkin. Gunakan kartu indek atau word processing.
    * Organisasi catatanmu dengan menulis dahulu di kertas lain:
      fokus pada bebas menulis, petaan, and/atau garis besarnya.
    * Buatlah esai pertamamu (rough draft)
      Tentukan bagaimana kamu mengembangkan argumentasi: Gunakan logika yang baik dalam

argumentasi untuk membantu mengembangkan tema dan/atau mendukung tema. Apakah kamu akan

membuat perbandingan atau definisi? Apakah kamu akan mengfritik atau menjelaskan? Lihat

definisi istilah-istilah esai di situs Pedoman Belajar.

Paragraf pertama

    * Kenalkan topikmu!
    * Beritahukan pandanganmu kepada pembaca!
    * Rangsang pembaca menyelesaikan membaca esaimu!
    * Fokuskan pada tiga poin untuk kemudian

Paragraf pertama biasanya paling sulit dikerjakan.  Bila kamu menemui masalah, biarkanlah

dan usahakan untuk menulisnya ulang nanti, bahkan setelah kamu selesai mengerjakan paragraf

terakhir.  Akan tetapi perlu diingat bahwa paragraf pertamalah yang menarik perhatian

pembaca ke topik dan pendapatmu, serta penting untuk membuat mereka membaca esaimu sampai

selesai.he first paragraph is often the most difficult to write.
Isi Esai

    * Bangunlah alur isi esai dari satu paragraf ke paragraf yang lainnya

        * Kalimat transisi, klausa, atau kata-kata pada awal paragraf menghubungkan ide

pikiran ke ide lainnya.(Lihatlah kata & frasa transisi)
        * Kalimat-kalimat pokok, juga terdapat pada awal setiap paragraf, menjelaskan ide

yang termuat di dalamnya sesuai dengan konteks esai keseluruhan.
        * Hindari satu atau dua paragraf yang mungkin menunjukkan kurang dikembangkannya

poinmu.

    * Tulis dengan kalimat-kalimat aktif


        * "Panitia Akademis memutuskan ..." bukan "Telah diputuskan oleh ..."
        * Hindari pemakaian kata kerja "menjadi" untuk presentasi yang jelas, dinamis dan

efektif.
          (Hindari pemakaian kata kerja "menjadi" dan presentasimu efektif, jelas dan

dinamis.)
        * Menghindari "menjadi" berarti penggunaan kalimat pasif akan berkurang.

    *   Gunakan kutipan untuk mendukung pandanganmu


        * Kutiplah dan jelaskan secara tepat setiap ungkapan yang dipakai.
        * Gunakan kutipan dengan gaya blok atau indented secara terpisah karena mereka

dapat merusak alur isi esaimu.

    * Buktikan setiap poin pendapatmu secara berkesinambungan dari awal sampai akhir esai

        * Jangan meninggalkan fokus utama esaimu.
        * Jangan langsung meringkas pada isi esaimu.  Tunggu sampai pada paragraf

kesimpulan.

Kesimpulan

    * Baca paragraf pertama dan isi esaimu dulu
    * Ringkas, kemudian simpulkan argumentasimu
    * Tinjau kembali (sekali lagi) pada paragraf pertama sekaligus isi esai.  Apakah

paragraf terakhir:

        * menyatakan ulang tema utama secara singkat?
        * merefleksikan keberhasilan dan pentingnya argumentasi yang ada pada isi esai?
        * menyimpulkan isi esai secara logika?

Edit/tulis ulang paragraf pertama
Hal ini dapat membuat isi dan kesimpulan esaimu lebih baik.
Ambil satu atau dua hari libur!

    Baca kembali esaimu dengan pikiran yang segar dan pensil yang runcing
    Edit, koreksi dan tulis ulang bila diperlukan
    Kumpulkan esaimu
    Rayakan pekerjaan yang telah kamu selesaikan dengan baik (kamu harus percaya ini!).
    Kalimat terakhir di atas ini sangat penting.

(Sebagian diadaptasi dengan ijin dari K. Austin Kerr, Some Tips on Writing Papers for

History Courses, Ohio State University.)

Kata & Frasa Transisi
Menggunakan kata dan frasa transisi menunjukkan hubungan antar ide dan membuat makalah

mudah dimengerti.

Makalah yang idenya saling berkaitan memudahkan pembaca mengikuti dari poin pertama sampai

terakhir.
Transisi menunjukkan hubungan, baik dari kalimat yang satu ke kalimat yang lain, atau dari

paragraf yang satu ke paragraf yang lain.  Hal ini memang tampak seperti daftar "hubungan"

yang mungkin dimiliki oleh ide-ide yang ada, diikuti oleh daftar kata dan frasa "transisi"

yang mana menghubungkan ide-ide tersebut.

Tambahan:
juga, di samping itu, selanjutnya, sebagai tambahan, lagipula, lagi
Akibat:
demikian, hasilnya, akibatnya, jadi, kalau tidak, maka, oleh karena itu, demikianlah,

setelah itu
Ringkasan:
bagaimanapun, bagaimanapun juga, setelah dipertimbangkan semuanya, singkatnya, ringkasnya,

sebagai penutup, pada umumnya, akhirnya, jelasnya
Penyamarataan:
sesuai peraturan, biasanya, seperti biasanya, umumnya, pada umumnya, kebanyakan
Uraian baru:
pada intinya, dengan kata lain, yakni, yaitu, singkatnya, ringkasnya
Perbedaan dan perbandingan:
bedanya, begitu pula, sebaliknya, malahan, demikian juga, di satu sisi, pada sisi lainnya,

agaknya, sama halnya, tetapi, akan tetapi, bagaimanapun juga, namun
Rangkaian:
mula-mula, awalnya, pada awalnya, permulaannya, pada waktu yang sama, mulai sekarang, untuk

sementara ini, selanjutnya, saat ini, berikutnya, nantinya, sementara itu, kemudian,

segera, sebelumnya, sesudahnya, secara serentak, sebagai penutup
Pengalihan:
omong-omong, sambil lalu
Ilustrasi:
misalnya, contohnya, seperti
Persamaan:
demikian juga, sama dengan, lagipula
Arahan:
di sini, di sana, melebihi, hampir, berhadapan, di bawah, di atas, ke kiri, ke kanan, di

kejauhan sana

Esai yang terdiri dari lima paragraf sering digunakan sebagai tes untuk melihat kemampuan

menulis seseorang dalam jangka waktu tertentu.
Memulai berarti mengorganisasi dulu:
latihan merupakan faktor yang vital untuk menulis secara efektif.

Analisa Tugas
dan tentukan mana yang diperlukan. Dengan spidol warna, tandai kata-kata penting yang

mewakili topik esai, kemudian organisasikan rencanamu.
Misalnya kamu diberi tugas esai seperti ini:

    Kamu mendapatkan hadiah yang sangat berkesan. Hadiah ini mungkin diberikan untuk

memperingati peristiwa khusus atau diberikan tanpa alasan sama sekali. Jelaskan tentang

hadiah tersebut dan mengapa sangat berkesan. Berikan alasan-alasannya, deskripsi hadiah,

dan bagaimana perasaanmu ketika menerimanya.

Tujuan tugas ini adalah untuk menulis sebuah esai naratif tentang hadiah yang kamu terima.
Subyeknya tentang hadiah yang berkesan
Tiga subtopik utamanya:

    * alasan hadiah ini diberikan
    * deskripsi hadiah
    * dan bagaimana perasaanmu ketika menerimanya

Kerangka Karangan Lima Paragraf

Esaimu akan terdiri dari elemen-elemen berikut:

Paragraf Pembukan
Kalimat Topik Utama::   hadiah yang berkesan
Subtopic Pertama: alasan hadiah diberikan
Subtopic Two: deskripsi hadiah
Subtopic Three: perasaanmu ketika menerimanya
(Transisi)
Paragraf Isi Pertama
Tulis ulang Subtopik Pertama
Detil-detil yang mendukung/contoh
Transisi
   
Paragraf Isi Kedua
Tulis ulang Subtopik Kedua
Detil-detil yang mendukung/contoh
Transisi
   
Paragraf Isi Ketiga
Tulis ulang Subtopik Ketiga
Detil-detil yang mendukung/contoh
Transisi
Paragraf Penutup/Ringkasan
Sintesa dan kesimpulan esai dengan menyebutkan ulang topik serta subtopiknya.

Tulislah esainya!
Pikirkan yang kecil dulu, baru kemudian bangunlah esai tersebut setahap demi setahap.
Pisahkan esaimu menjadi bagian-bagian dan kembangkan secara terpisah.

Paragraf Pembuka

    * Paragraf pembuka menetapkan nada.
      Paragraf ini tidak hanya mengenalkan topik esai, tapi juga tempat di mana kamu akan

mulai (dengan kalimat topik utama).  Bila kamu menulis paragraf pembuka dengan baik, kamu

akan mengajak pembaca merasakan "pengalaman"mu.  Berusahalah yang terbaik untuk paragraf

ini, maka kamu akan mendapatkan hasil positifnya.
    * Tuliskan dalam bentuk kalimat aktif.
      Kalimat aktif terasa lebih kuat pengaruhnya.  Gunakan ini pada setiap kalimat dalam

paragraf pembukamu.  Kecuali bila kamu menulis esai naratif pribadi, hindari penggunaan

kata ganti orang pertama "Saya".
    * Variasikan struktur kalimat.
      Baca ulang paragrafmu dan hindari pola menulis yang menjemukan misalnya dengan selalu

memulai dengan subyek kalimat.
    * Cari ilham untuk ide-ide pendukung yang terbagus.
      Ide-ide tersebut merupakan hal yang kamu ketahui dengan benar.  Bila kamu tidak

memiliki pengetahuan tentang mereka, kamu tidak dapat menulis dengan baik tentang mereka

juga.  Hindari penggunaan argumen yang sia-sia karena akan melemahkan argumenmu.
    * Latihlah dirimu untuk menulis paragraf pembuka dengan topik yang bervariasi.
      Bahkan bila kamu akan menggunakan mereka, mereka dapat dibandingkan dengan tipe esai

yang kamu sedang kerjakan sekarang.  Kamu akan senang/puas melihat adanya kemajuan dalam

kemampuan menulismu.


Paragraf Isi


    * Gunakan transisi untuk mengembangkan subtopik.
      Setiap paragraf harus berhubungan satu sama lainnya.
    * Tuliskan kalimat pokok pikiran.
      Transisi bisa juga diikutkan dalam kalimat tersebut.
    * Ide-ide pendukung, contoh dan detil haruslah spesifik.
      Kecenderungan yang terjadi dalam paragraf isi adalah biasanya keinginan untuk

memasukkan segalanya.  Hindarilah ini.  Apa yang sudah kamu tulis di atas lengkap dengan

contoh dan detil sudah cukup membantumu untuk tetap fokus.
    * Variasikan struktur kalimat.
      Hindari pencantuman kata ganti benda dan daftar yang berulang-ulang.
      Hindari penggunaaan pola kalimat pembuka yang sama (subyek + kata kerja + obyek

langsung).

Paragraf Penutup/Ringkasan
Bagian ini merupakan paragraf yang sulit untuk ditulis secara efektif.  Kamu tidak dapat

mengasumsikan bahwa pembacamu dapat melihat poinmu.

    * Tulis ulang secara ringkas paragraf pembuka.  Jangan langsung dikopi begitu saja

keseluruhan paragrafnya.
    * Ringkaslah argumenmu dengan sehingga paragraf penutup ini akan membuat pembacamu

tidak akan meragukan logika kesimpulanmu.
    * Berpengaruhlah karena paragraf ini membawa pendapatmu yang terakhir kepada pembaca.

 Edit dan Perbaiki Esaimu

    * Periksalah struktur tata bahasa dan ejaanmu.
      Telitilah subyek, kata kerja dan keterangan waktu yang kamu gunakan.
    * Periksa keseluruhan esaimu dengan logika.
      Apakah setiap pokok pikiran berkembang dan berhubungan?
      Hindari jurang dalam logika, atau hindari penggunaan terlalu banyak detil.

Review kalimat per kalimat

    * Gunakan kata kerja aktif.
      Hindari penggunaan kalimat pasif dan kata kerja berawalan "di-".
    * Gunakan frasa dan kata transisi.
      Hindari kalimat yang diawali dengan kata ganti benda, atau susunan kalimat seperti

"Adalah ..."
      Misalnya: "Adalah perlu untuk memeriksa ulang semua pekerjaan" yang diganti dengan

"Memeriksa pekerjaan itu penting."
    * Langsung pada intinya.
      Walaupun panjang dan struktur kalimat kamu variasikan.

Tanyalah pada teman yang berpengetahuan banyak untuk mereview dan mengomentari esaimu dan

untuk mengungkapkan ulang isi esaimu.   Kamu mungkin akan terkejut.
Diadaptasi dan direvisi dengan ijin dari: Kasper, J. The Five Paragraph Essay, 14 January,

1999, http://www.geocities.com/SoHo/Atrium/1437/index.html.

Sumber akses : http://www.studygs.net/
        www.publiksastra.co.cc

Menulis Esai

Langkah-langkah membuat Esai

 1. Memilih Topik
Bila topik telah ditentukan, anda mungkin tidak lagi memiliki kebebasan untuk memilih.

Namun demikian, bukan berarti anda siap untuk menuju langkah berikutnya.

Pikirkan terlebih dahulu tipe naskah yang akan anda tulis. Apakah berupa tinjauan umum,

atau analisis topik secara khusus? Jika hanya merupakan tinjauan umum, anda dapat langsung

menuju ke langkah berikutnya. Tapi bila anda ingin melakukan analisis khusus, topik anda

harus benar-benar spesifik. Jika topik masih terlalu umum, anda dapat mempersempit topik

anda. Sebagai contoh, bila topik tentang “Indonesia” adalah satu topik yang masih sangat

umum. Jika tujuan anda menulis sebuah gambaran umum (overview), maka topik ini sudah tepat.

Namun bila anda ingin membuat analisis singkat, anda dapat mempersempit topik ini menjadi

“Kekayaan Budaya Indonesia” atau “Situasi Politik di Indonesia. Setelah anda yakin akan apa

yang anda tulis, anda
bisa melanjutkan ke langkah berikutnya.

Bila topik belum ditentukan, maka tugas anda jauh lebih berat. Di sisi lain, sebenarnya

anda memiliki kebebasan memilih topik yang anda sukai, sehingga biasanya membuat esai anda

jauh lebih kuat dan berkarakter.

 2. Tentukan Tujuan
Tentukan terlebih dahulu tujuan esai yang akan anda tulis. Apakah untuk meyakinkan orang

agar mempercayai apa yang anda percayai? Menjelaskan bagaimana melakukan hal-hal tertentu?

Mendidik pembaca tentang seseorang, ide, tempat atau sesuatu? Apapun topik yang anda pilih,

harus sesuai dengan tujuannya.

3. Tuliskan Minat Anda
Jika anda telah menetapkan tujuan esai anda, tuliskan beberapa subyek yang menarik minat

anda. Semakin banyak subyek yang anda tulis, akan semakin baik. Jika anda memiliki masalah

dalam menemukan subyek yang anda minati, coba lihat di sekeliling anda. Adakah hal-hal yang

menarik di sekitar anda? Pikirkan hidup anda? Apa yang anda lakukan? Mungkin ada beberapa

yang menarik untuk dijadikan topik. Jangan mengevaluasi subyek-subyek tersebut, tuliskan

saja segala sesuatu yang terlintas di kepala.


4. Evaluasi Potensial Topik

Jika telah ada bebearpa topik yang pantas, pertimbangkan masing-masing topik tersebut. Jika

tujuannya mendidik, anda harus mengerti benar tentang topik yang dimaksud. Jika tujuannya

meyakinkan, maka topik tersebut harus benar-benar menggairahkan.

Yang paling penting, berapa banyak ide-ide yang anda miliki untuk topik yang anda pilih.
Sebelum anda meneruskan ke langkah berikutnya, lihatlah lagi bentuk naskah yang anda tulis.

Sama halnya dengan kasus dimana topik anda telah ditentukan, anda juga perlu memikirkan

bentuk naskah yang anda tulis.

5. Membuat Outline
Tujuan dari pembuatan outline adalah meletakkan ide-ide tentang topik anda dalam naskah

dalam sebuah format yang terorganisir.

Tujuan dari pembuatan outline adalah meletakkan ide-ide tentang topik anda dalam naskah

dalam sebuah format yang terorganisir.

       1. Mulailah dengang menulis topik anda di bagian atas
       2. Tuliskan angka romawi I, II, III di sebelah kiri halaman tersebut, dengan jarak

yang cukup lebar diantaranya
       3. Tuliskan garis besar ide anda tentang topik yang anda maksud:

            * Jika anda mencoba meyakinkan, berikan argumentasi terbaik
            * Jika anda menjelaskan satu proses, tuliskan langkah-langkahnya sehingga dapat

dipahami pembaca
            * Jika anda mencoba menginformasikan sesuatu, jelaskan kategori utama dari

informasi tersebut

       1. Pada masing-masing romawi, tuliskan A, B, dan C menurun di sis kiri halaman

tersebut. Tuliskan fakta atau informasi yang nformasi yang mendukung ide utama

6. Menuliskan Tesis
Suatu pernyataan tesis mencerminkan isi esai dan poin penting yang akan disampaikan oleh

pengarangnya. Anda telah menentukan topik dari esai anda, sekarang anda harus melihat

kembali outline yang telah anda buat, dan memutuskan poin penting apa yang akan anda buat.

Pernyataan tesis anda terdiri dari dua bagian:

        * Bagian pertama menyatakan topik. Contoh: Budaya Indonesia, Korupsi di Indonesia

        * Bagian kedua menyatakan poin-poin dari esai anda. Contoh: memiliki kekayaan yang

luar biasa, memerlukan waktu yang panjang untuk memberantasnya, dst.

7. Menuliskan Tubuh Esai
Bagian ini merupakan bagian paling menyenangkan dari penulisan sebuah esai. Anda dapat

menjelaskan, menggambarkan dan memberikan argumentasi dengan lengkap untuk topik yang telah

anda pilih. Masing-masing ide penting yang anda tuliskan pada outline akan menjadi satu

paragraf dari tubuh tesis anda.

Masing-masing paragraf memiliki struktur yang serupa:

        * Mulailah dengan menulis ide besar anda dalam bentuk kalimat. Misalkan ide anda

adalah: “Pemberantasan korupsi di Indonesia”, anda dapat menuliskan: “Pemberantasan korupsi

di Indonesia memerlukan kesabaran besar dan waktu yang lama”

        * Kemudian tuliskan masing-masing poin pendukung ide tersebut, namun sisakan empat

sampai lima baris.

        * Pada masing-masing poin, tuliskan perluasan dari poin tersebut. Elaborasi ini

dapat berupa deskripsi atau penjelasan atau diskusi

        * Bila perlu, anda dapat menggunakan kalimat kesimpulan pada masing-masing

paragraf.

        * Setelah menuliskan tubuh tesis, anda hanya tinggal menuliskan dua paragraf:

pendahuluan dan kesimpulan.

8. Menulis Paragraf Pertama

        * Mulailah dengan menarik perhatian pembaca.

        * Memulai dengan suatu informasi nyata dan terpercaya. Informasi ini tidak perlu

benar-benar baru untuk pembaca anda, namun bisa menjadi ilustrasi untuk poin yang anda

buat.

        * Memulai dengan suatu anekdot, yaitu suatu cerita yang menggambarkan poin yang

anda maksud. Berhati-hatilah dalam membuat anekdot. Meski anekdot ini efektif untuk

membangun ketertarikan pembaca, anda harus menggunakannya dengan tepat dan hati-hati.

        * Menggunakan dialog dalam dua atau tiga kalimat antara beberapa pembicara untuk

menyampaikan poin anda.

        * Tambahkan satu atau dua kalimat yang akan membawa pembaca pada pernyataan tesis

anda.

        * Tutup paragraf anda dengan pernyataan tesis anda.

9. Menuliskan Kesimpulan

Kesimpulan merupakan rangkuman dari poin-poin yang telah anda kemukakan dan memberikan

perspektif akhir anda kepada pembaca. Tuliskan dalam tiga atau empat kalimat (namun jangan

menulis ulang sama persis seperti dalam tubuh tesis di atas) yang menggambarkan pendapat

dan perasaan anda tentang topik yang dibahas. Anda dapat menggunakan anekdot untuk menutup

esai anda.

10. Memberikah Sentuhan Akhir

        * Teliti urutan paragraf Mana yang paling kuat? Letakkan paragraf terkuat pada

urutan pertama, dan paragraf terlemah di tengah. Namun, urutan tersebut harus masuk akal.

Jika naskah anda menjelaskan suatu proses, anda harus bertahan
          pada urutan yang anda buat.

        * Teliti format penulisan. Telitilah format penulisan seperti margin, spasi, nama,

tanggal, dan sebagainya

        * Teliti tulisan. Anda dapat merevisi hasil tulisan anda, memperkuat poin yang

lemah. Baca dan baca kembali naskah anda.

        * Apakah masuk akal? Tinggalkan dulu naskah anda beberapa jam, kemudian baca

kembali. Apakah masih masuk akal?

        * Apakah kalimat satu dengan yang lain mengalir dengan halus dan lancar? Bila

tidak, tambahkan bebearpa kata dan frase untuk menghubungkannya. Atau tambahkan satu

kalimat yang berkaitan dengan kalimat sebelumnya

        * Teliti kembali penulisan dan tata bahasa anda.


Struktur Sebuah Esai

Pada dasarnya, sebuah esai terbagi minimum dalam lima paragraf:

        * Paragraf pertama: Dalam paragraf ini penulis memperkenalkan topik yang akan

dikemukakan, berikut tesisnya. Tesis ini harus dikemukakan dalam kalimat yang singkat dan

jelas, sedapat mungkin pada kalimat pertama. Selanjutnya pembaca diperkenalkan pada tiga

paragraf berikutnya yang mengembangkan tesis tersebut dalam beberapa sub topik.

        * Paragraf kedua sampai kelima: Ketiga paragraf ini disebut tubuh dari sebuah esai

yang memiliki struktur yang sama. Kalimat pendukung tesis dan argumen-argumennya dituliskan

sebagai analisa dengan melihat relevansi dan relasinya dengan masing-masing sub topik.

        * Paragraf kelima (terakhir): Paragraf kelima merupakan paragraf kesimpulan.

Tuliskan kembali tesis dan sub topik yang telah dibahas dalam paragraf kedua sampai kelima

sebagai sebuah sintesis  untuk meyakinkan pembaca


sumber: http://www.duniaesai.com/

Sekitar Menulis, Menulis Sekitar

Oleh M.D. Atmaja 

   “Aku bertanya,
    tetapi pertanyaanku
    membentur jidat penyair-penyair salon,
    yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
    sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
    dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
    termangu-mangu di kaki dewi kesenian”
    (WS Rendra, Sajak Sebatang Lisong dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, hlm. 34)

Begitu kerasnya tulisan Rendra (Almarhum) memekik di telinga saya malam ini. Puisi yang

begitu cerpen merespon realitas dalam nuansa yang terkadang berbisik memberikan teguran

(khususnya untuk saya sendiri), terkadang berteriak keras dalam tamparan yang membangunkan

dari keterlelapan sesaat. Dua kekuatan yang menjadikan saya sebagai “subjek pembaca”

tersadar dari mimpi indah yang gemerlap menipu. Juga kemudian “subjek pembaca” untuk keluar

dari ekstase pertemuan kertas dan tinta yang melepaskan alam sekitar. Sekali lagi, di sini

saya sebagai “subjek pembaca” berusaha memahami kembali setelah sekian tahun bertahan dalam

keringnya panas dan basahnya hujan, untuk terus giat menulis sesuatu mengenai “manusia” dan

dunianya.

Hal yang paling indah dari spesies kita ini (maksud saya adalah manusia) adalah sebagai

makhluk yang mampu meng-“ada” untuk terus bereksistensi dan berkembang di dunia. Salah satu

faktor penting dalam proses ini adalah keberadaan bahasa, yang tidak sekedar sebagai alat

komunikasi dan sekaligus penindasan. Bahasa juga memberikan manusia suatu lingkup mengenai

keberadaan yang sifatnya nyata, serta memberi ruang lingkup dalam usaha pengembangan diri.

Dengan bahasa manusia mampu menunjukkan kesan dan kenyataan, yaitu mana yang hanya

mengesankan dan mana yang benar-benar menunjukkan kenyataan. Dan keduanya dapat didapati

dalam dataran realitas melalui penggunaan bahasa, seperti ungkapan Heidegger bahwa bahasa

sebagai rumah (tempat) dari peng- “ada”.

Manusia adalah spesies berbahasa, melakukan interaksi secara langsung dan juga tidak

langsung. Salah satu interaksi tidak langsung manusia ialah menggunakan media tulisan, yang

melahirkan adanya subjek pembaca dan penulis. Media ini memberikan ruang untuk kita dalam

usaha saling memahamkan, selain itu mampu menjadi penjembatan antara dunia batin (hati dan

pikiran) dengan dunia realitas. Tuhan Semesta Alam pun, berbahasa kepada kita sebagai

sebagian dari komunikasi religius, sehingga kita tahu apa yang Dia harapkan dari manusia.

Manusia, alam, hewan, serta Tuhan Semesta Alam berbahasa dengan cara tersendiri. Pun,

ketika kita memulai dunia di dalam tulisan, dunia yang kita bentuk dengan bahasa, itu

adalah cara kita sendiri. Sebatas cara dalam berbahasa, mungkin juga sebagai teknik (saya

agak trauma dengan istilah “teknik”), yang dapat membawa kita pada wilayah komunikasi yang

lebih luas. Ketika kita subjek penulis membuat sebuah tulisan, meskipun dalam kadar tidak

ilmiah atau tidak memberikan kesan kuat (seperti tulisan ini), akantetapi kita sedang

membangun komunikasi dari berbagai sisi.

Komunikasi yang pertama adalah komunikasi diri kita dengan diri kita sendiri. Maksudnya

adalah sisi perenungan mengenai sesuatu hal yang hendak dituliskan. Subjek penulis

melakukan aktivitas kontemplasi, percakapan yang ada di dalam diri untuk mencapai suatu

esensi yang ingin di sampaikan. Aktivitas menulis merupakan aktivitas membangun komunikasi,

baik komunikasi dengan diri sendiri maupun komunikasi dengan subjek pembaca. Aktivitas yang

memanifestasikan buah dari pikir, rasa, akhirnya karsa, yang menjalin hubungan silaturahmi

(bahkan persaudaraan) antara penulis, karya, dan pembaca.

Selayaknya suatu hubungan yang wajar, persaudaraan walau dengan bermedia tulisan, alangkah

baiknya kalau subjek penulis melaksanakan aktivitasnya dilandasi dengan kejujuran, memilih

bahasa yang baik dan tetap menjaga etika. Untuk masalah ini, saya memiliki suatu pandangan

yang tidak baru, bahwa etika dalam kepenulisan adalah sebagai “keberanian” untuk mengatakan

dengan tegas: mana yang benar dan mana yang salah. Gerakan etika yang dengan sendirinya

akan melahirkan nilai estetika (keindahan) tersendiri. Sehingga, saya tetap memegang

prinsip kepenulisan yang secara garis besar saya golongkan menjadi tiga hal: kejujuran,

pemilihan bahasa yang baik, dan etika penulisan.

Kejujuran, prinsip yang sengaja saya letakkan di depan, sebab pengalaman saya mengarahkan

pada aspek ini. Kejujuran yang ketika kita menulis, kita tidak sedang menutupi sesuatu

mengenai kebenaran, entah itu kebenaran yang sifatnya personal dan lebih jauh lagi bersifat

universal. Kejujuran dalam menulis, sama seperti kita sedang menulis buku harian. Dalam

penulisan itu kita pasti jujur, karena buku harian bersifat personal dan hanya untuk diri

kita sendiri. Masak iya, dalam menulis sebagai pelepas keresahan hati, kita justru

berbohong yang pada akhirnya menambah keresahan itu. Lantas, ketika menulis tidak dengan

jujur, misalnya kita ingin membuat suatu kebohongan, siapa gerangan yang akan kita bohongi?

Proses kepenulisan yang dilandasi dengan kejujuran sikap, dimanifestasikan ke dalam bahasa

tulis melalui perasaan yang jujur pula dalam memanifestasikan cinta, kemarahan, kebencian

dan lain sebagainya. Aktivitas yang membawa pada kelegaan “dan engkau akan selalu menjumpai

dirimu sendiri di sana/ bersih dan telanjang tanpa asap dan tirai yang bernama rahasia”

(Penyair, Sapardi Djoko Damono, Tonggak 2, hlm. 408-409). Melalui tulisan yang diciptakan

sendiri, manusia dapat mencapai pengetahuan mengenai diri, selanjutnya akan mengantarkan

subjek penulis pada kebijaksanaan. Sebab, dalam keyakinan saya, kebijaksanaan akan muncul

ketika manusia (individu) memiliki pengetahuan tentang dirinya sendiri, dan pemahaman akan

keberadaan diri dapat ditemukan di dalam tulisan yang kita tulis. “Dan engkau pun masuk,

untuk mengenal dirimu sendiri di sana” (ibid).

Untuk mengenal diri sendiri, menjadi landasan bagi pengetahuan lain. Tulisan membawa kita

pada kesempatan yang spesial ini, kesempatan untuk mengenal diri sendiri. Bahkan, filsuf

Descartes sampai meragukan setiap hal demi mendapatkan pengetahuan akan diri atau “ada”

yang merujuk pada kesadaran manusia itu sendiri. Langkah mencapai pengetahuan diri melalui

tulisan dilandasi oleh kejujuran hati ketika subjek penulis melakukan aktivitasnya. Unsur

kontemplasi yang menyertai dialog dengan dirinya sendiri dan perlu terbuka dengan dirinya

sendiri sebab di sana tidak ada keuntungannya ketika dimulai dengan kebohongan, karena toh,

kita hanya akan membohongi diri kita sendiri.

Lebih jauh lagi ketika subjek penulis menggunakan tulisannya sebagai media interaksi sosial

dengan subjek lain (pembaca). Kegiatan interaksi menjadikan kejujuran dalam menulis berada

pada posisi yang penting. Ini menyatakan adanya hubungan sesama manusia, bermediumkan

bahasa tulis memberikan kesan tersendiri. Dalam batasan ini, masih sejauh memberikan

“kesan” kepada subjek pembaca. Apalagi ketika kita menyatakan diri diketika kita subjek

penulis bersepakat dengan diri bahwa: menulis sebagai bentuk dari ibadah kepada Tuhan

Semesta Alam. Pertanyaannya, apa kita akan beribadah dengan “kejujuran” atau “tidak

kejujuran” bukankah Tuhan Semesta Alam hanya akan menerima yang baik-baik saja?

Kejujuran yang kita sampaikan melalui hasil dari aktivitas menulis, hendaknya juga disertai

dengan cara penuturan yang baik. Pemanifestasian dari rasa, meskipun untuk mewakili

kebencian dan kemaraha, alangkah “bijak” kalau disampaikan dengan bahasa yang baik.

Pemilihan bahasa yang tepat, yang sebelumnya sudah disertai dengan kejujuran, seperti yang

dikatakan Sanusi Pane: “O, bukannya dalam bahasa yang rancak/ kata yang pelik kebagusan

sajak” (Sajak, Sanusi Pane, Tonggak 1, hlm. 41). Hal ini membawa saya, ketika berperan

sebagai subjek penulis, akan lebih memilih bahasa yang sederhana, bahasa yang biasa yang

meski “mengesankan” kekakuan dan kehilangan aspek puitik. Hanya melalui tulisan yang

sederhana ini, saya berusaha agar setiap kata yang saya rangkai dapat mewakili dunia ide.

Sedang ke-“absurd”-an ide yang terkadang teramat sulit untuk diterjemahkan dengan kemampuan

berbahasa, meskipun ide sebagai hasil dari penyerapan indera atas realitas. Melalui satu

kesempatan berbahasa, ada usaha untuk memanifestasikan ide tersebut sehingga, keberadaan

dari ide dapat terpahami.

Mengkomunikasikan ide melalui tulisan kepada subjek pembaca, meskipun dengan bahasa yang

sederhana, di dalamnya tetap mengandungi unsur komunikasi estetis yang dilahirkan dari

pengalaman estetis pula. Menulis dengan apa adanya, dapat dijadikan sebagai suatu pilihan

atau (katakan saja) teknik menulis.

Berlaku apa adanya tetap menjadi pilihan yang membutuhkan keberanian. Tulisan dengan gaya

yang biasa dan pemilihan kata yang lumrah akan mudah dipahami, karena subjek pembaca mudah

menangkap maksud penulisan yang akhirnya membuat tulisan itu akan mudah “dihakimi”. Jikalau

setelah kita menulis dengan jujur, lantas kita membacanya ulang, pasti, tulisan tadi justru

menggurui kita. Menggurui tentang banyak hal yang terkadang, maknanya sering subjek penulis

lupakan.

Menulis, seharusnya bisa mengajari kita mengenai keberanian dalam bersikap. Ketika kita

melihat adanya kesewenangan dan penindasan, lebih jauh lagi mengenai ketidak-adilan sosial

secara hukum dan lain sebagainya, kita pun harus berani bersikap. Meski akan membawa pada

kesengsaraan, karena tulisan yang dihasilkan dapat mengajari kita untuk mengatakan:

“TIDAK!” (Emha Ainun Najib, Sajak Luka Menganga dalam Sesobek Buku Harian Indonesia, hlm.

103-104).

Dengan keberanian itu, pun langsung teringat dengan film “Master and Commander” yang tokoh

utamanya Kapten Jack Aubrey (HMS Surprisse) ketika memburu Acheron kapal Prancis, Kapten

Jack mengatakan: “Whatever the cost!” dalam menjalankan tugasnya. Dan tugas seorang subjek

penulis: “berdiri dan bersaksi di pinggir” seperti yang diungkapkan Linus Suryadi dalam

sajaknya berjudul “Penyair” atau untuk “bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan”

seperti Almarhum Rendra dalam puisinya berjudul: “Nota Bene: Aku Kangen”?

    Inilah sajakku.
    Pamplet masa darurat.
    Apakah artinya kesenian,
    Bila terpisah dari derita lingkungan.
    Apakah artinya berpikir,
    Bila terpisah dari masalah kehidupan.
    (WS Rendra, Sajak Sebatang Lisong dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, hlm. 34)

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, Selasa Wage, 22 Maret 2011.
http://md-atmaja-id.blogspot.com

Senin, 30 Mei 2011

Membangkitkan Motivasi dan Menyusun Strategi Menulis Yang Baik

Estu Pitarto

Ketika memberikan semacam semiloka tentang kegiatan menulis, saya lebih suka berbagi

pengalaman menulis ketimbang memberikan teori atau pelbagai peraturan tentang menulis.

Meskipun saya tahu persis bahwa sebuah pengalaman—jika diwacanakan—akan muncul bangunan

sebuah teori atau peraturan. Tetapi, teori atau peraturan tersebut—yang muncul dari

pengalaman—tidak akan mengerangkeng atau memutlakkan sesuatu. Dengan berbagi pengalaman,

saya ingin sekali pengalaman menulis saya tersebut dapat dipakai sebagai pijakan seseorang

untuk menemukan teori atau peraturan yang cocok dengan diri orang yang ingin memanfaatkan

pengalaman menulis saya.

Sesungguhnya tidak ada masalah ketika seseorang mengikuti sebuah teori atau peraturan

menulis yang diciptakan oleh seseorang. Teori dan peraturan jelas amat bermanfaat untuk

memandu diri kita agar dapat belajar dan berlatih menulis sesuai dengan standar atau

patokan yang benar. Namun, saya sering mendapati kenyataan ini—bahkan saya sediri pernah

mengalaminya—bahwa sebuah teori kemudian membatasi kebebasan diri kita. Teori tersebut

seakan-akan memberikan kita alarm bahwa jika kita tidak menjalankan kegiatan menulis sesuai

petunjuk teori tersebut, kita akan tidak mampu menulis dengan benar. Akan jelas sekali

bahwa jika ketika kita mengikuti teori menulis yang seperti ini, kita pun kemudian akan

tidak berdaya ketika menjalankan kegiatan menulis.

Dalam kesempatan ini, saya ingin menunjukkan kepada Anda bagaimana saya membangkitkan

motivasi untuk, secara kontinu dan konsisten, dapat setiap hari berlatih menulis. Saya

memahami sekali bahwa menulis itu sebuah keterampilan—sama persis dengan keterampilan

menyetir mobil, berenang, memasak, menendang bola, dan sebagainya. Artinya, jika kita ingin

menguasai dengan baik keterampilan menulis, tentulah kita harus rajin dan bersemangat

tinggi dalam berlatih menulis. Memang, banyak rintangan dan godaan dalam berlatih menulis.

Salah satunya adalah mengatasi rasa malas dan bagaimana terus mengobarkan semangat dan

gairah untuk menulis. Nah, saya biasa menggunakan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku?) untuk

senantiasa mengobarkan semangat dan gairah menulis.

Ketika memberikan semacam semiloka tentang kegiatan menulis, saya lebih suka berbagi

pengalaman menulis ketimbang memberikan teori atau pelbagai peraturan tentang menulis.

Meskipun saya tahu persis bahwa sebuah pengalaman—jika diwacanakan—akan muncul bangunan

sebuah teori atau peraturan. Tetapi, teori atau peraturan tersebut—yang muncul dari

pengalaman—tidak akan mengerangkeng atau memutlakkan sesuatu. Dengan berbagi pengalaman,

saya ingin sekali pengalaman menulis saya tersebut dapat dipakai sebagai pijakan seseorang

untuk menemukan teori atau peraturan yang cocok dengan diri orang yang ingin memanfaatkan

pengalaman menulis saya.

Sesungguhnya tidak ada masalah ketika seseorang mengikuti sebuah teori atau peraturan

menulis yang diciptakan oleh seseorang. Teori dan peraturan jelas amat bermanfaat untuk

memandu diri kita agar dapat belajar dan berlatih menulis sesuai dengan standar atau

patokan yang benar. Namun, saya sering mendapati kenyataan ini—bahkan saya sediri pernah

mengalaminya—bahwa sebuah teori kemudian membatasi kebebasan diri kita. Teori tersebut

seakan-akan memberikan kita alarm bahwa jika kita tidak menjalankan kegiatan menulis sesuai

petunjuk teori tersebut, kita akan tidak mampu menulis dengan benar. Akan jelas sekali

bahwa jika ketika kita mengikuti teori menulis yang seperti ini, kita pun kemudian akan

tidak berdaya ketika menjalankan kegiatan menulis.

Dalam kesempatan ini, saya ingin menunjukkan kepada Anda bagaimana saya membangkitkan

motivasi untuk, secara kontinu dan konsisten, dapat setiap hari berlatih menulis. Saya

memahami sekali bahwa menulis itu sebuah keterampilan—sama persis dengan keterampilan

menyetir mobil, berenang, memasak, menendang bola, dan sebagainya. Artinya, jika kita ingin

menguasai dengan baik keterampilan menulis, tentulah kita harus rajin dan bersemangat

tinggi dalam berlatih menulis. Memang, banyak rintangan dan godaan dalam berlatih menulis.

Salah satunya adalah mengatasi rasa malas dan bagaimana terus mengobarkan semangat dan

gairah untuk menulis. Nah, saya biasa menggunakan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku?) untuk

senantiasa mengobarkan semangat dan gairah menulis. ( Hernowo )
 dari:  http://lorongedukasi.wordpress.com/

Semua Orang Bisa Jadi Penulis Hebat

Oleh: Joni Lis Efendi

“Cerita-cerita memiliki kekayaan yang melebihi kenyataannya. Tulisan saya mengetahui lebih

banyak daripada saya. Yang harus dilakukan seorang penulis adalah mendengarkan bukunya. Ia

akan membawamu ke tempat yang tidak kamu duga.”
Modeleine L’engle
(Penulis novel A Wrinkle in Time)

Siapa saja memiliki peluang sama besarnya dengan J.K. Rowling, Stephen King, John Grisham,

Habiburrahman El-Shirazy, Asma Nadia, Budi Dharma, Seno Gumira Ajidarma, Gus TF Sakai,

Andrea Hirata, Afifah Afra, dan sebagainya, untuk jadi penulis beken. Nggak butuh rumus

nyelimet, teori kusut-masai, harus jadi pengelana bertahun-tahun untuk dapatin segudang

pengalaman, kalo cuma pengen menulis sebuah novel hebat atau cerpen yang keren. Karena

semuanya sudah ada dalam pikiran kita. Sesuatu yang teramat dekat, bukan?

Perkaranya hanya satu, bisa atau nggak dia nulis apa yang sudah ada dalam batok kepalanya

itu menjadi sebuah karya yang memikat. Kamu mungkin pernah membaca novel dari pengalaman

hidup penulisnya langsung, seperti novel-novelnya NH Dini, Pipiet Senja, dan yang lagi

banyak dibicarakan orang sekarang tetralogi Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, yang hampir

90 persen adalah pengalaman hidup penulisnya. Karya-karya mereka itu begitu mengagumkan dan

penuh pesona yang mampu menggetarkan dada orang-orang yang membacanya. Padahal mereka ini

hanyalah orang-orang biasa, bahkan mungkin nggak lebih hebat dari publik figur yang

bertitel selebritis yang saban hari kita tongkrongin wajahnya di layar kaca.

Tapi penulis-penulis hebat itu mampu menuliskan perjalanan hidupnya menjadi jalinan cerita

yang apik memikat. Novel yang mereka tulis itu terasa lebih hidup, penuh pesona, indah dan

terasa lekat dengan diri si pembaca. Inilah nilai lebih kreativitas. Dan, kamu pun bisa

melakukan hal yang sama, atau bahkan bisa lebih hebat lagi dari mereka.

Banyak orang yang menyimpan obsesi pengen jadi penulis tersohor (top, beken, nomor wahid

se-Indonesia kapan perlu bisa ngalahin J.K. Rowling) setelah melihat betapa enak dan

mapannya kehidupan penulis yang karyanya booming. Sayangnya, mereka cuma melihat kulit

luarnya saja. Mereka cuma lihat sisi enaknya saja jadi seorang penulis yang terkenal. Tapi

malas untuk berdarah-darah mengasah kemampuan menulisnya. Celakanya lagi, mereka menutup

mata dan mati-matian membela diri kalo novel merekalah yang terbaik, nggak ada satu pun

yang boleh dikoreksi, titik. Tapi nyatanya, novel itu biasa-biasa saja nggak ada nilai

lebihnya. Buktinya, belum terbit-terbit juga.

Mereka itu seperti katak dalam tempurung berlumut. Nggak mau jujur, atau mungkin takut,

untuk melihat realita yang ada, bahwa nyata-nyatanya karya mereka itu memang masih “jelek”.

Mereka juga menulis itu-itu aja dengan gaya yang datar-datar aja; klise, norak, ngebosanin,

dan mutar-mutar kayak komedi putar. Singkatnya, mereka bukan penulis yang kreatif,

bisanyanya cuma “mengitik” alias mengekor saja karya yang best seller.

Aneh bin nyebalin, mereka nggak mau dikasih saran apalagi dikoreksi. Aduh, bagaimana cara

menghadapi orang kayak gini?
Ke laut aja kali ya…

Dalam pikiran penulis-penulis malas plus nggak kreatif itu, nulis ya nulis. Nggak usah

capek-capek bikin gaya baru, tema baru, tokoh yang aneh-aneh, biasa-biasa sajalah. Capek,

kan kalo bikin novel yang ceritanya aneh-aneh gitu.

Ya, emang harus mau capek kalo pengen jadi penulis beken. Kamu bisa baca bagaimana

kegigihan J.K. Rowling memelihara ide besarnya untuk menulis kisah Harry Potter, yang

diancang-ancangnya bakal jadi 7 serial, selama lima tahun. Dia nggak buru-buru untuk

menulis novelnya, tapi dengan kreatif mencari menulis diskripsi tokoh-tokoh ceritanya

dengan begitu detail. Rowling juga mengakui karakter tokoh dalam Harry Potter banyak

terilhami dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Yang patut dicontoh, Rowling nggak

menulis karakter tokoh ceritanya itu dengan gaya yang biasa-biasa saja. Dia menambahkan

ide-ide baru yang menyegarkan, meledak-ledak dan menggairahkan sehingga pembacanya nggak

enek membacanya.

Pikiran yang meledak-ledak dan penuh kejutan itulah yang bernama kreativitas. Inilah yang

dikatakan Bruner dalam bukunya “Toward a Theory of Instruction”, tentang makna sederhana

dari kreativitas sebagai kejutan efektif. Hasil dari olahan kreativitas itu dapat berupa

barang, atau gagasan, yang mengejutkan karena berbagai kemungkinan. Misalnya sesuatu yang

baru, belum pernah ada, belum pernah terpikirkan, unik, khas, dan lain sebagainya. Sesuatu

itu dikatakan efektif karena berbagai kemungkinan pula, misalnya karena bermanfaat,

mempermudah kerja, memperindah, dan lain-lain.
Walau sesuatu yang baru itu menganggumkan dan penuh kejutan, tapi jika ditulis bertele-tele

juga nggak efektif. Jadinya cuma cerita asing yang sulit dicerna dan bisa bikin muntah.

Kang Abik, panggilan akrab Habiburraham El-Shirazy, yang menulis novel Ayat Ayat Cinta

(AAC) sebenarnya bukan menulis tema yang baru, yakni tentang cinta. Coba kamu bongkar lagi

koleksi novelmu kebanyakan pasti tentang tema cinta, kan? Lalu, apa kelebihannya?

Dalam AAC, kang Abik nggak terjebak dalam alur cinta picisan yang hambar dan itu-itu saja.

Ada yang segar di dalamnya, juga kejutan cerita yang tak terduga. Ditambah lagi dengan

kuatnya pesan-pesan moral yang dipertunjukkan oleh karakter tokoh ceritanya. Keindahan Kota

Cairo menjadi bingkai cerita yang turut menghadirkan kesan kuat dalam novel ini. Bagi kamu

yang sudah membaca novelnya, pasti dapat merasakan sendiri dimana letak kelebihan novel AAC

ini.

Lalu, coba kamu bandingkan dengan novel-novel epigon (yang meniru-niru) AAC, adakah sesuatu

yang baru di dalamnya? Semuanya serba pengulangan yang membosankan.
Sedangkan novel Laskar Pelangi yang ditulis Andrea Hirata, memunculkan sesuatu yang baru

tentang pendidikan, yang sangat sedikit diangkat secara total dalam sebuah karya novel.

Walau novel yang bercerita tentang pengalaman kanak-kanak, tapi Andrea Hirata mampu

menghadirkan kejutan-kejutan yang tak terduga dalam novelnya. Sehingga novel ini mampu

mengalirkan energi positif bagi pembacanya dan memberikan pencerahan yang cukup kuat.

Dikutip dari buku: Writing Donuts: Nulis itu Selezat Donat, karya Joni Lis Efendi
dari : http://menulisdahsyat.blogspot.com/

Sumber : www.publiksastra.co.cc

Teknik Membaca Puisi

1. Introduksi
Deklamasi berasal dari bahasa Latin yang maksudnya declamare atau declaim yang membawa

makna membaca sesuatu hasil sastera yang berbentuk puisi dengan lagu atau gerak tubuh

sebagai alat bantu. Gerak yang dimaksudkan ialah gerak alat bantu yang puitis, yang seirama

dengan isi bacaan.
Umumnya memang deklamasi berkait rapat dengan puisi, akan tetapi membaca sebuah cerpen

dengan lagu atau gerak tubuh juga bisa dikatakan mendeklamasi. Mendeklamasikan puisi atau

cerpen bermakna membaca, tetapi membaca tidak sama dengan maksud mendeklamasi. Maksudnya di

sini bahawa apapun pengertian membaca tentunya jauh berbeda dengan maksud deklamasi.
2. Makna Kata Deklamasi
Sudah jelas deklamasi itu berasal dari bahasa asing, jadi maknanya ia bukan kata asli

Malaysia atau Indonesia. Ia sudah lama digunakan hingga menjadi bahasa Malaysia. Memang

keadaan semacam ini sering berlaku di Malaysia, misalnya kata neraka, izin, zaman, ajal,

karam dan lain-lain berasal dari bahasa Arab, sedang tauco, tauge berasal dari bahasa

Tionghua. Manakala dastar, kenduri, kelasi berasal dari bahasa Persi. Lampu, mesin, koki,

repot dari bahasa Belanda, manakala pensil, botol berasal dari bahasa Inggeris dan

demikianlah halnya deklamasi berasal dari bahasa Latin.
Di Indonesia perkataan deklamasi sudah ada lewat tahun 1950 dan di Malaysia hanya terkenal

sejak kebelakangan ini, tetapi sebelum itu disebut baca puisi dan adapun orang mulai

mendeklamasi puisi sudah sejak berpuluh tahun yang lalu, baik di Malaysia ataupun di luar

negeri. Deklamasi ertinya membawa puisi-puisi, sedang orang yang melakukan deklamasi itu

disebut "Deklamator" untuk lelaki dan "Deklamatris" untuk perempuan.
Apa bezanya deklamasi dan nyanyi? Menyanyi ialah melagukan suatu nyanyian dengan

menggunakan not-not do-re-mi atau not balok, sedang deklamasi ialah membawakan pantun-

pantun, syair, puisi atau sajak dengan menggunakan irama dan gaya yang baik. Disamping itu

kita mengenal pula: menari, melukis, memahat, sandiwara dan lain-lain. Semuanya itu

mempunyai cara-cara dan aturannya sendiri-sendiri.
3. Bahan Yang Dideklamasikan
Tentu saja tidak semua pantun, sajak atau puisi dapat dideklamasikan, malah cerpen dan

novel juga boleh dideklamasikan/soalnya kita harus memilih mana sajak, puisi, pantun-pantun

yang baik dan menarik untuk dideklamasikan.
Kala kita menyanyi biasanya memilih lagu-lagu yang dapat kita nyanyikan, seperti "Bintang

Kecil" atau lagu-lagu yang rentaknya keroncong dan lain-lain, pokoknya semua lagu yang

telah kita nyanyikan. Bagaimana kita akan menyanyi, kalau kita tidak dapat menyanyikan

sesuatu lagu?
Demikian pula halnya dengan deklamasi. Hanya saja kalau menyanyi itu harus mempelajari

not-notnya dahulu, sedang pada deklamasi harus dipelajari tanda-tanda atau aturan-aturannya

dahulu. Seperti telah kita terangkan di atas, yang dideklamasikan itu hanya yang berupa

pantun, syair, sajak atau puisi dalam bahasa Malaysia, tetapi sejak dulu orang pernah juga

mendeklamasikan puisi dalam bahasa daerah seperti bahasa Bajau, Kadazan, Murut, Brunei,

Iban atau Dusun dan di sini hanya diperkatakan dan dipelajari deklamasi dalam bahasa

Malaysia saja.
4. Cara Berdeklamasi
Seperti telah dijelaskan bahawa berdeklamasi itu membawakan pantun, syair dan sajak atau

puisi. Kemudian apakah cukup hanya asal membawakan sahaja? Tentu tidak! Berdeklamasi,

selain kita mengucapkan sesuatu, haruslah pula memenuhi syarat-syarat lainnya. Apakah

syarat-syarat itu? Sebelum kita berdeklamasi, kita harus memilih dulu pantun, syair, sajak

apa, yang rasanya baik untuk dideklamasikan. Terserah kepada keinginan masing-masing.
Yang penting pilihlah sajak atau puisi, pantun atau syair yang memiliki isi yang baik dan

bentuk yang indah dideklamasikan. Mengenai hal isi tentunya dapat minta nasihat, petunjuk

dan bimbingan daripada mereka yang lebih berpengalaman dan berpengetahuan atau ahli dalam

bidang deklamasi.
Kalau kita sudah memilih sebuah puisi misalnya, tentu saja boleh lebih dari sebuah. Hal ini

sering terjadi dalam sayembara yang dikira harus terdiri puisi wajib dan puisi pilihan.

Nah, sesudah itu, lalu apa lagi yang harus kita perbuat? Maka tidak boleh tidak harus

mentafsirnya terlebih dahulu.
5. Menafsir Puisi
Apakah puisi yang kita pilih itu berunsur kepahlawanan, keberanian, kesedihan, kemarahan,

kesenangan, pujian dan lain-lain? Kalau puisi yang kita pilih itu mengandung kepahlawanan,

keberanian dan kegagahan, maka kitapun harus mendeklamasikan puisi tersebut dengan perasaan

dan laku perbuatan, yang menunjukkan seorang pahlawan, seorang yang gagah berani. Kita

harus dapat melukiskan kepada orang lain, bagaimana kehebatan dan kegagahan kapal udara

itu. Bagaimana harus mngucapkan kata-kata yang seram dan menakutkan.
Sebaliknya kalau saja puisi yang kita pilih itu mengadung kesedihan, sewaktu kita

berdeklamasi haruslah betul-betul dalam suasana yang sedih dan memilukan, bahkan harus bisa

membuat orang menangis bagi orang yang mendengar dan melihat kita sedih, ketika

dideklamasikan menjadi sebuah puisi yang gembira, bersukaria atau sebaliknya. Tentu saja

hal-hal seperti itu harus dijaga benar-benar. Kerana itu, harus berhati-hati, teliti,

tenang dan sungguh-sungguh dalam menafsir sebuah puisi.
Bacalah seluruh puisi itu berulang-ulang sampai kita mengerti betul apa-apa yang dikandung

dan dimaksud oleh puisi tersebut. Juga kata-kata yang sukar dan tanda-tanda baca yang

kurang jelas harus difahami benar-benar, Jika sudah dimengerti dan diselami isi puisi itu,

barulah kita meningkat ke soal yang lebih lanjut.
6. Mempelajari Isi Untuk Mendeklamasi Puisi
Cara mengucapkan puisi itu tak boleh seenaknya saja, tapi harus tunduk kepada aturan-

aturannya: di mana harus ditekankan atau dipercepatkan, di mana harus dikeraskan, harus

berhenti, dimana harus dilambatkan atau dilunakkan, di mana harus diucapkan biasa dan

sebagainya. Jadi, bila kita mendeklamasikan puisi itu harus supaya menarik, maka harus

dipakai tanda-tanda tersendiri:
------- Diucapkan biasa saja

/ Berhenti sebentar untuk bernafas/biasanya pada koma atau di tengah baris
// Berhenti agak lama/biasanya koma di akhir baris yang masih berhubungan
ertinya dengan baris berikutnya
/// Berhenti lama sekali biasanya pada titik baris terakhir atau pada penghabis
san puisi
^ Suara perlahan sekali seperti berbisik
^^ Suara perlahan sahaja
^^^ Suara keras sekali seperti berteriak
V Tekanan kata pendek sekali
VV Tekanan kata agak pendek
VVV Tekan kata agak panjang
VVVV Tekan kata agak panjang sekali
____/ Tekanan suara meninggi
____ Tekanan suara agak merendah
\

Cara meletakkan tanda-tanda tersebut pada setiap kata masing-masing orang berbeda

tergantung kepada kemahuannya sendiri-sendiri. Dari sinilah kita dapat menilai: siapa orang

yang mahir dan pandai berdeklamasi.
Demikianlah, setelah tanda-tanda itu kita letakkan dengan baik dan dalam meletakkannya

jangan asal meletakkan saja, tapi harus memakai perasaan dan pertimbangan, seperti halnya

kalau kita membaca berita: ada koma, ada titik, tanda-tandanya, titik koma dan lain-lain.
Kalau tanda-tanda itu sudah diletakkan dengan baik, barulah kita baca puisi tersebut

berulang-ulang sesuai dengan irama dan aturan tanda itu. Dengan sendirinya kalau kita sudah

lancar benar, tekanan-tekanan, irama-irama dan gayanya takkan terlupa lagi selama kita

berdeklamasi.
7. Puisi Harus Dihafal
Mendeklamasi itu ialah membawakan puisi yang dihafal. Memang ada juga orang berdeklamasi

puisi di atas kertas saja. Cara seperti itu kurang enak kecuali jika untuk siaran pembacaan

puisi di radio atau rakaman. Tetapi deklamasi itu selalu saja didengar dan ditonton orang.

Mana mungkin para penonton akan senang, melihat kita berdeklamasi kalau muka kita tertunduk

melulu terus menerus kala mendeklamasikan puisi itu. Tentu saja membosankan bukan?
Makanya sebaik mungkin deklamator harus menghafal puisi yang mahu dideklamasi itu. Caranya

ulangilah puisi itu berkali-kali tanpa mempergunakan teks, sebab jika tidak demikian di

saat kita telah naik pentas, kata-kata dalam puisi itu tak teringat atau terputus-putus.
Betapa lucunya seorang deklamator, ketika dengan gaya yang sudah cukup menarik di atas

panggung, di muka penonton yang ramai, tiba-tiba ia lupa pada kalimat-kalimat dalam puisi.

Ia seperti terhenti, terpukau, mau bersuara tak tentu apa yang harus diucapkan. Mau

mengingat-ingat secara khusuk terlalu lama. Menyaksikan keadaan demikian itu sudah tentu

para penonton akan kecewa. Bagi sideklamator sendiri akan mendapat malu. Oleh kerana itu

dihafalkanlah puisi itu sebaik-baiknya sampai terasa lancar sekali. Setelah dirasakan

yakin, bahawa sebuah puisi telah sanggup dibaca di luar kepala, barulah berlatih

mempergunakan mimik atau "action"
Cara menghafal tentu saja dengan cara mengingatnya sebaris demi sebaris dan kemudian

serangkap demi serangkap disamping berusaha untuk mengerti setiap kata/ayat yang dicatatkan

kerana hal itu menjadi jelasnya maksud dan tujuan isi puisi itu.
8. Deklamasi Bukan Ucapan Semata
Deklamasi bukan ucapan semata. Deklamasi harus disertai gerak-gerak muka, kalau perlu

dengan gerak seluruh anggota badan atau seluruh tubuh, tetapi yang paling penting sekali

ialah gerak-gerak muka. Dengan ucapan-ucapan yang baik dan teratur, diserta dengan gerak

geri muka nescaya akan bertambah menarik, apa lagi kalau ditonton. Dari gerak geri muka itu

penonton dapat merasakan dan menyaksikan mengertikan puisi yang dideklamasikan itu. Apakah

puisi itu mengandung kesedihan, kemarahan, kegembiraan dan lain-lain.
Hanya saja dalam melakukan gerak geri itu jangan sampai berlebih-lebihan seperti wayang

orang yang bergerak ke sana ke mari, sehingga mengelikan sekali. Berdeklamasi secara wajar,

tertib dan mengesankan.
9. Cara Menghakimi
Untuk mudahnya bagi seorang deklamator/deklamatris melengkapi dirinya dalam mempersiapkan

kesempurnaan berdeklamasi, maka seorang calon harus mengetahui pula hal-hal yang menjadi

penilaian hakim dalam suatu sayembara deklamasi. Yang menjadi penilaian hakim terhadap

pembawa puisi atau deklamator meliputi bidang-bidang seperti berikut:
A. Penampilan/Performance
Sewaktu pembawa puisi itu muncul di atas pentas, haruslah diperhatikan lebih dahulu hal

pakaian yang dikenakannya. Kerapian memakai pakaian, keserasian warna dan sebagainya akan

menambahkan angka bagi si pembawa puisi. Tentu saja penilaian pakaian ini bukan terletak

pada segi mewah tidaknya pakaian itu, tetapi dalam hal kepantasan serta keserasiannya.

Kerana itu, perhatikanlah pakaian lebih dahulu sebelum tampil di atas pentas. Hindarikan

diri dari kecerobohan serta ketidakrapian berdandan.
B. Intonasi/Tekanan Kata Demi Kata
Baris demi baris dalam puisi, sudah tentu tidak sama cara memberikan tekanannya. Ini

bergantung kepada kesanggupan dipembawa puisi menafsirkan tiap-tiap kata dalam hubungannya

dengan kata lainnya. Sehingga ia menimbulkan suatu pengungkapan isi kalimat yang tepat.

Kesanggupan sipembawa puisi memberikan tekanan-tekanan yang sesuai pada tiap kata yang

menciptakan lagi kalimat pada baris-baris puisi, akan memudahkan mencapai angka tertinggi

dalam segi intonasi.
C. Ekspresi/Kesan Wajah
Kemampuan sipembawa puisi dalam menemukan erti dan tafsiran yang tepat dari kata demi kata

pada tiap baris kemudian pada kelompok bait demi bait puisi akan terlihat pada kesan air

muka atau wajahnya sendiri. Ada kalanya seorang pembawa puisi tidak menghayati isi dan jiwa

tiap baris puisi dalam sebuah bait, sehingga antara kalimat yang diucapkan dan airmuka yang

diperlihatkan tampak saling bertentangan.
Jadi, penghayatan itu sangat penting dan ia harus dipancarkan pada sinar wajah si pembawa

puisi. Misalnya sebuah bait dalam puisi yang bernada sedih haruslah digambarkan oleh

sipembawa puisi itu melalui airmukanya yang sedih dan bermuram durja.
D. Apresiasi/Pengertian Puisi
Seorang pembawa puisi akan dinilai mempunyai pengertian terhadap sesuatu puisi, manakala ia

sanggup mengucapkan kata demi kata pada tiap baris puisi disertai kesan yang terlihat pada

airmukanya. Jika tidak berhasil, dikatakannya sipembawa puisi itu belum mempunyai apresiasi

atau apresiasinya terhadap puisi itu agak kurang. Dalam istilah umumnya apresiasi

diterjemah lebih jauh lagi sebagai penghayatan.
Seorang pendeklamator yang baik/ia harus menghayati makna dan isi puisi yang mahu

dideklamasikan dan tanpa menghayatinya, maka sudah tentu persembahannya bakal hambar, lesu

dan tak bertenaga.
E. Mimik/Action
Mimik atau action dalam sebuah deklamasi puisi sangat besar pengaruhnya terhadap

pembentukan suasana pembacaan puisi. Seorang pembawa puisi yang berhasil ia akan mengemukan

sesuatu action atau mimik itu sesuai dengan perkembangan kata demi kata dalam tiap baris

dan tidak bertentangan dengan jiwa dan isi kata-kata kalimat dalam puisi.
Terjadinya kontradiksi antara apresiasi dan action menimbulkan kesan yang mungkin bisa

menjadi bahan tertawaan penonton, Hal ini harus dipelajari sebaik-baiknya oleh sipembawa

puisi. Tanpa hal itu, ia tak mungkin bisa mndapatkan angka terbaik dalam pembawaan puisi.
Sebagi contoh: ketika dipembawa sajak menyebut "dilangit tinggi ada bulan" tetapi mimik

kedua belah tangan menjurus ke bumi, Hal ini akan menimbulkan bahan tertawaan bagi

penonton, mana mungkin ada bulan di bumi, tentu hal itu tidak mungkin sama sekali.

Betapapun bulan selalu ada di langit. Inilah yang dimaksud betapa pentingnya pembawa sajak

menguasai apresiasi puisi, sehingga dapat menciptakan mimik yang sesuai dengan keadaan isi

dan jiwa puisi itu.
F. Tatatertib
Untuk menambahkan lebih sempurna lagi bagi pengetahuan seorang deklamator atau deklamatris,

maka dibawa ini kita kemukakan beberapa tatatertib berdekmalasi:
F.1 Berdirilah baik-baik di atas pentas yang telah tersedia
F.2 Pakaian harus menimbulkan kesan yang menarik dan menyenangkan
F.3 Menghadap kepada penonton, memandang ke sekeliling dengan airmuka yang berseri-seri,

lalu memberi salam kepada hadirin dengan hormat, Dengan jalan menganggukkan kepala.
F.4 Bacalah jodol puisi dan sebut nama penulisnya dengan suara yang jelas/tepat dengan nada

suara yang wajar
F.5 Berhenti beberapa detik, menyiapkan nafas, lalu mulailah pembacaan deklamasi itu

sebaris demi sebaris, bait demi bait.
F.6 Selama pembacaan puisi, perhatian harus tercurah kepada puisi itu sendiri dan jangan

tergoda oleh hiruk pikuk suara atau bunyi lain terutama sekali penonton.
F.7 Ketika pembacaan puisi itu selesai, berhentilah beberapa saat, melepaskan nafas, lalu

menghormati penonton dan kepada para hakim.
F.8 Biasakanlah dengan sikap yang tenang dan wajar ketika meninggalkan pentas dan tidak

usah tergesa-gesa.
10. Harapan Dan Anjuran
Sesuai dengan pembangunan yang berencana di bidang pendidikan dan pengajaran, maka

pelajaran deklamasi itu mendapat tempat dan sambutan yang baik di kalangan murid-murid

sekolah dan orang awam, guru-guru dan masyarakat Malaysia. Sebab pelajaran deklamasi amat

penting sekali dan tentu saja diharapkan sangat deklamasi terus mendapat perhatian yang

besar.
Murid sekolah sangat-sangat memerlukan bimbingan dan petunjuk dari guru yang berkebolehan,

apa lagi dengan adanya acara hari kemerdekaan, hari guru, hari ibu dan sebagainya dan

dengan bantuan dari mereka yang berkebolehan, maka sudah tentu bidang deklamasi ini akan

lebih hebat lagi dan sekaligus akan dapat membentuk manusia Malaysia yang baik, berjiwa

besar dan punya semangat yang kuat untuk mempertahankan maruah bangsa sejaga
 Sumber: http://clubbing.kapanlagi.com/